Ketika Cemoohan “Gagal Move On” Berbalik Arah ke Ahoker

  • 15
  •  
  •  
  •  
    15
    Shares

DatDut.Com – Cemoohan itu sering kali berbalik arah pada si pencemooh. Ini mungkin terkait rumus karma, di mana ia selalu menghukum orang-orang pongah. Karenanya, jika Anda pernah mencemooh orang, maka bersiaplah akan terkena cemoohanmu di suatu saat nanti.

Rumus karma itu saat ini tengah dirasakan oleh para pendukung Ahok garis keras, yang biasa disebut Ahok. Dulu zaman Pilpres 2014 merekalah yang suka meledek para pendukung Prabowo dengan cemoohan “gagal move on” saat Prabowo kalah.

Kini mereka harus menelan pil pahit mendapat perasaan “gagal move on” dan cemoohan yang sama, setelah Ahok kalah telak dan menyakitkan karena di putaran pertama Ahok menang.

Yang lebih kasihan justru kaum terpelajar pendukung Ahok garis keras. Lantaran tidak punya muka dan semua teori asal bunnyinya salah semua, lalu cari-cari alibi. Saya mungkin perlu mengingatkan kembali beberapa daftar teori asal buni mereka:

(1) politik agama tak laku; (2) pemilih Jakarta rasional pasti akan pilih Ahok; (3) Anies didukung kaum radikal; (4) aksi umat Islam cuma buih; (5) kalau Ahok kalah, Indonesia akan jadi Suriah; (6) aksi bela Islam hanya untuk kepentingan politik; (7) aksi bela Islam ditunggangi ISIS.

Dari daftar teori asal bunyi itu, tak ada satu pun yang terbukti. Setidak-tidaknya semakin menguatkan bahwa apa yang disampaikan itu hanyalah bagian dari agitasi Pilkada. Tak ada landasan argumennya yang kuat.

Baca juga:  Tanggapan untuk Twitan Nyinyir Nadirsyah Hosen Soal Aksi Super Damai 212

Nah, setelah hampir bisa dipastikan Ahok kalah, baik berdasarkan hitung cepat semua lembaga survei dan real count KPU DKI, mereka seperti tidak siap menerima kekalahan. Bahkan ada seorang Ahoker garis keras yang hingga seperti kehilangan nalar normalnya.

Di akun Facebooknya, dia menuliskan bahwa bukan umat Islam yang diuntungkan atas kemenangan Anies-Sandi itu, tapi pengusaha, konglomerat dan para taipan. Bahkan, hingga mempersoalkan busana yang dipakai oleh ibu dari Sandiaga Uno. Sesuatu yang tidak nyambung sebetulnya, tapi dipaksakan. Yang menyedihkan, tentu saja karena yang memposting itu orang terpelajar.

Sebagai orang terpelajar, tidak bisakah dia menerima saja kekalahan calon yang didukungnya. Apa bedanya dia dengan orang-orang yang dulu dicemoohnya sebagai orang gagal move on. Apalagi foto yang disebarnya itu sudah dibantah oleh Timses Anies-Sandi (baca di sini) dan disebut sebagai fitnah keji, karena foto itu faktanya bukan foto pesta kemenangan, tapi foto makan malam dan doa bersama pada 18 April, satu hari sebelum pencoblosan.

Kehati-hatian, ketelitian, dan kesantunan memang selalu menjadi ciri orang berilmu. Bila itu sudah hilang dari diri seorang berilmu, tentu yang tersisa tinggal kenorakan. Apalagi ini terkait dukungan membabi buta pada seorang yang sudah dipastikan kalah oleh hitung cepat semua lembaga survei dan real count KPU DKI.

Baca juga:  Murid Kurang Ajar pada Guru, Semua Gara-gara Kak Seto?

Sebagai orang terpelajar, semestinya dia mengajari cara berdemokrasi yang baik. Bukan malah menyebarkan hasutan dan agitasi murahan seperti itu. Dia semestinya mengajak masyarakat untuk hidup normal lagi. Kalaupun misalnya apa yang dipostingnya itu benar (padahal tidak benar) dengan argumen mengajari masyarakat berdemokrasi yang baik, lalu kemana dia waktu warga DKI digempur politik sembako? Kok dia diam saja. Padahal itu fakta dan jelas pelanggaran berat dalam demokrasi.

Sebagai orang terpelajar, dia semestinya malu bila tak memiliki jiwa ksatria mengakui kekalahan dan gagal move on gitu. Dia semestinya tak boleh sama dengan Jonru dan Denny Siregar. Tapi faktanya itu yang dia pertontonkan. Pertanyaan sederhananya, “Mau sampai kapan jadi provokator medsos?!” Dan, saya jadi ingat apa yang dikatakan teman saya, “Orang terpelajar kok gitu?!”

 

 

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *