Headlines Kampus

Kesejahteraan dan Gaji Dosen di Malaysia

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Rabu, 26 Juli 2017, ketika saya berkumpul bersama keluarga di malam hari. Ibu saya bertanya “ Nak, Apakah kamu tidak ada rencana kedepannya untuk melamar kerja lagi selain menjadi dosen?”

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab bila dibandingkan pertanyaan seorang Profesor selaku penguji sidang tesis saya dulu.

Menjadi dosen merupakan cita-cita atau impian saya sejak dulu. Untuk menjadi dosen tidaklah mudah. Butuh proses yang sangat panjang.

Sebagai contoh, pertama, melanjutkan studi lagi ke strata dua demi mencapai gelar Magister. Itu pun perlu dana yang lumayan terbilang mahal, beruntung bagi seseorang yang mendapatkan beasiswa. Kedua, jurusannya haruslah linier dari strata satu sampai dengan strata dua.

Ketiga, berdasarkan pengalaman penulis. Biasanya perguruan tinggi lebih tertarik memilih dosen yang baru lulus dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Mungkin lulusan PTN lebih berkualitas daripada PTS.

Jujur penulis pun pernah melamar di universitas almamaternya sendiri dan tidak diterima karena S2-nya lulusan dari PTS. Keempat, Indeks Prestasi Kumulatif harus bagus atau Cum Laude.

Kelima, Pengalaman kerja. Kalau pengalaman bekerjanya linier dengan lulusannya, itu lebih baik karena untuk nilai tambah dan dianggap sebagai dosen praktisi.

Di balik proses yang panjang itu semua, saya bisa memahami maksud pertanyaan ibu saya. Kenapa Ibu saya menyarankan agar saya melamar kerja selain dosen? Salah satu alasannya adalah kesejahteraan dosen. Bisa dimaklumi gaji seorang dosen di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia.

Baca juga:  Masih Menuduh UIN Sarang Liberal? Baca 5 Fakta Ini!

Di Malaysia saja, menurut Prof. Deddy Mulyana (2016:119) “Seorang dosen bergelar Master yang baru lulus akan memperoleh gaji kira-kira 5000 ringgit perbulan, sedangkan seorang doktor baru akan mendapatkan gaji kira-kira 6000 ringgit perbulan.”

Selain gaji pokok, para dosen juga berhak memperoleh tunjangan-tunjangan lain, seperti tunjangan perumahan sebesar 180 ringgit, laptop gratis dan pinjaman mobil. Seperti dilansir dari laman edukasi.kompas.com, (28/04/2010).

Sekarang ini, 1 ringgit setara kira-kira 3112,75 rupiah (sumber: www.mataf.net) dibulatkan menjadi 3113 rupiah. Dengan demikian, dosen Magister lulusan baru di Malaysia mendapatkan gaji setidaknya 15 juta rupiah, sedangkan gelar Doktor mendapatkan gaji 18 juta rupiah.

Prof. Deddy Mulyana menambahkan “Seorang dosen hanya bekerja di satu tempat saja, setiap hari dari pagi hingga sore. Adalah aneh bagi dosen Malaysia yang melihat dosen Indonesia yang meskipun mengajar di sebuah perguruan tinggi sebagai tugas utamanya, namun masih ‘mengasong’ di beberapa perguruan tinggi lain.”

Mungkin salah satu penyebabnya adalah masalah gaji yang masih kurang untuk menyejahterakan dosennya. Hal itu, saya temui oleh beberapa teman yang mengajar (mengasong) lebih dari satu perguruan tinggi.

Tampaknya, Malaysia tidak main-main dalam memprioritaskan aspek di bidang pendidikan. Oleh karena itu, Pemerintah Malaysia memberikan perhatian lebih untuk bisa meningkatkan kesejahteraan tenaga pengajarnya. Berbeda halnya di Indonesia, sangat bertolak belakang dengan Negeri Jiran itu.

Hemat saya, dari zaman orde baru sampai zaman reformasi, Pemerintah Indonesia lebih mementingkan aspek di bidang ekonomi. Pemerintah lebih fokus dan mengutamakan pembangunan fisik daripada berfokus pada pembangunan manusianya, seperti pendidikan yang berkualitas, gaji atau kesejahteraan para pengajarnya yang mencukupi dan fasilitas perpustakaan yang memadai.

Baca juga:  ​Belajar Bahasa Arab di 5 Universitas Prancis? Ini Tempatnya

Padahal pendidikan itu sangat penting untuk salah satu kemajuan sebuah bangsa. Contohnya adalah Bangsa Jepang. Ketika Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur di bom atom oleh Amerika.

Kata Ustad Wijayanto, “Kaisar Hirohito ketika mau meninggal ada tiga hal yang ditanyakan. Yang ditanya pertama adalah berapa jumlah dokter. Kedua, yang ditanya berapa jumlah guru dan ketiga, berapa jumlah hakim. Dan dari 3 pilar inilah Jepang maju yang luar biasa. Dan sayangnya ketiga-tiganya ini di Indonesia kurang mendapat perhatian,” (dalam acara Hitam Putih di Trans 7, 08 September 2014).

Dari perkataan Ustad Wijayanto, kita bisa menyimpulkan bahwa peranan pendidikan tidak bisa terlepas dari pilar kemajuan suatu bangsa. Kalau saja Pemerintah Indonesia berfokus pada pendidikan, saya yakin Indonesia bisa maju dan menyaingi Malaysia dan Jepang. Semoga kedepannya pendidikan di Indonesia mendapat perhatian yang lebih.

Muhammad Syaid Agustiar

Muhammad Syaid Agustiar

Saat ini bekerja di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Mind Revolution. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur. Aktif menulis artikel ringan di berbagai media online.
Muhammad Syaid Agustiar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *