Kesejahteraan dan Gaji Dosen di Malaysia

  • 103
  •  
  •  
  •  
    103
    Shares

DatDut.Com – Rabu, 26 Juli 2017, ketika saya berkumpul bersama keluarga di malam hari. Ibu saya bertanya “ Nak, Apakah kamu tidak ada rencana kedepannya untuk melamar kerja lagi selain menjadi dosen?”

Pertanyaan yang sangat sulit dijawab bila dibandingkan pertanyaan seorang Profesor selaku penguji sidang tesis saya dulu.

Menjadi dosen merupakan cita-cita atau impian saya sejak dulu. Untuk menjadi dosen tidaklah mudah. Butuh proses yang sangat panjang.

Sebagai contoh, pertama, melanjutkan studi lagi ke strata dua demi mencapai gelar Magister. Itu pun perlu dana yang lumayan terbilang mahal, beruntung bagi seseorang yang mendapatkan beasiswa. Kedua, jurusannya haruslah linier dari strata satu sampai dengan strata dua.

Baca juga:  Ini Lho 5 Kekhawatiran yang Dirasakan Mahasiswa Baru

Ketiga, berdasarkan pengalaman penulis. Biasanya perguruan tinggi lebih tertarik memilih dosen yang baru lulus dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dibandingkan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Mungkin lulusan PTN lebih berkualitas daripada PTS.

Jujur penulis pun pernah melamar di universitas almamaternya sendiri dan tidak diterima karena S2-nya lulusan dari PTS. Keempat, Indeks Prestasi Kumulatif harus bagus atau Cum Laude.

Kelima, Pengalaman kerja. Kalau pengalaman bekerjanya linier dengan lulusannya, itu lebih baik karena untuk nilai tambah dan dianggap sebagai dosen praktisi.

Di balik proses yang panjang itu semua, saya bisa memahami maksud pertanyaan ibu saya. Kenapa Ibu saya menyarankan agar saya melamar kerja selain dosen? Salah satu alasannya adalah kesejahteraan dosen. Bisa dimaklumi gaji seorang dosen di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia.

Baca juga:  Saat Kiai Ali Mustafa Yaqub Bersafari Ramadan di Kanada

Di Malaysia saja, menurut Prof. Deddy Mulyana (2016:119) “Seorang dosen bergelar Master yang baru lulus akan memperoleh gaji kira-kira 5000 ringgit perbulan, sedangkan seorang doktor baru akan mendapatkan gaji kira-kira 6000 ringgit perbulan.”

Muhammad Syaid Agustiar

Muhammad Syaid Agustiar

Saat ini bekerja di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Mind Revolution. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur. Aktif menulis artikel ringan di berbagai media online.
Muhammad Syaid Agustiar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *