Ini 5 Kesan Mendalam Dr. K.H. Ahsin Sakho pada Sosok Almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub

  • 223
  •  
  •  
  •  
    223
    Shares

DatDut.Com –  Kepergian Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub meninggalkan banyak kisah dari orang-orang terdekat, juga tokoh-tokoh penting di negeri ini. Meskipun dikenal sebagai pribadi yang tegas, tetapi faktanya banyak pihak yang merasa kehilangan atas kepergiannya.

Sosoknya yang bersahaja dan luwes dalam pergaulan, juga pandangannya yang jernih dan mendalam, membuatnya banyak disegani dan memberi kesan yang mendalam pada orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad salah satunya. Pakar ilmu-ilmu Al-Quran lulusan Universitas Islam Madinah yang pernah menjadi Rektor Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta ini, berinteraksi intensif dengan almarhum sebagai sesama dosen di IIQ.

Selain sesama alumni perguruan tinggi terkemuka di Arab Saudi, keduanya juga banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, termasuk program-program yang diwadahi oleh Kementerian Agama. Keduanya sama-sama terlibat dalam Tim Revisi Terjemahan dan Tafsir Al-Quran, bersama Prof. Dr. H. Huzaimah T. Yanggo, Prof. Dr. H. Hamdani Anwar, Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi, dan beberapa pakar lain.

Berikut 5 catatan Dr. Ahsin Sakho–biasa disapa Kiai Ahsin–yang merupakan kesan mendalam beliau terhadap sosok almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub, yang beliau sampaikan secara terbatas di grup Whatsapp “Dewan Pakar PSQ”:  

[nextpage title=”1. Kegigihan Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub dalam Kajian dan Pemasyarakatan Hadis “]

1. Kegigihan Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub dalam Kajian dan Pemasyarakatan Hadis 

Kiai Ahsin menuliskan bahwa Kiai Ali Mustafa mempunyai perhatian besar dalam kajian hadis, mengajar kitab-kitab hadis, menulis tentang hadis, menerjemahkan buku hadis, pada saat akademisi lain belum memberi perhatian besar terhadap bidang ini.

Kesan Kiai Ahsin ini merupakan satu di antara kesaksian-kesaksian lain yang menjelaskan begitu besar jasa almarhum Kiai Ali Mustafa terhadap bidang hadis. Beliau pula yang getol memasyarakatkan kajian hadis sehingga secara perlahan masyarakat punya perhatian yang lebih baik terhadap hadis. Salah satu yang terpenting, menurut Kiai Ahsin, almarhum berusaha menjelaskan kesalahan masyarakat yang melakukan amalan-amalan yang sudah terbiasa dilakukan, padahal landasan mereka dari hadis-hadis yang bermasalah.

[nextpage title=”2. Berhasil Membangun Darussunnah dari Nol”]

Baca juga:  Inilah Perjalanan Karir Keilmuan Imam Ghazali

2. Berhasil Membangun Darussunnah dari Nol

Beliau berhasil membangun Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah dari nol. Menurut Kiai Ahsin, beliau memberikan warna lain terhadap santri-santrinya yang berbeda dengan pesantren-pesantren salaf. Almarhum sukses mengkombinasikan ilmu pesantren salaf dengan kajian akademis.

Masih menurut Kiai Ahsin, keberadaan Pesantren Darussunnah di dekat UIN Jakarta dan perguruan tinggi Islam penting lainnya, seperti PTIQ, IIQ, UMJ, sangat menguntungkan kedua belah pihak. Apalagi santri-santri Darussunnah memang diharuskan untuk juga terdaftar sebagai mahasiswa di kampus lain, agar juga mendapatkan wawasan selain hadis dan ilmu hadis.

Kesaksian ini sekaligus menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan di kampus-kampus tersebut untuk juga memberi perhatian pada keberadaan dan keberlangsungan Pesantren Darussunnah, sepeninggal tokoh sentralnya.

[nextpage title=”3. Kuat dan Teguh Pendirian”]

3. Kuat dan Teguh Pendirian

Menurut Kiai Ahsin, almarhum kuat dalam pendirian terhadap apa yang diyakininya benar, walau kadangkala beresiko, seperti masalah kiblat. Kesaksian terhadap kuatnya almarhum dalam memegang teguh pendirian dan pendapatnya, sebetulnya tidak hanya datang dari Kiai Ahsin. Banyak tokoh lain yang memberi penilaian positif terhadap almarhum. Bahkan, sebagian menilai beliau sebagai ulama yang tak terbeli oleh kekuasaan.

Banyak sekali pandangan beliau yang melawan arus dan bertentangan dengan arus utama. Salah satu yang paling menghentak publik terkait kritik keras beliau pada orang-orang yang berhaji berkali-kali sementara di waktu yang orang lain harus menunggu bertahun-tahun, bahkan ada yang hingga menyerobot jatah haji orang lain. Almarhum juga keras terhadap orang-orang yang rajin umrah, tapi tak pernah sedekah dan tak pernah memperhatikan orang-orang berkekurangan di sekelilingnya.

[nextpage title=”4. Memberi Citra Positif tentang Islam pada Dunia Barat”]

4. Memberi Citra Positif tentang Islam pada Dunia Barat

Almarhum, menurut Kiai Ahsin, memberikan citra positif tentang Islam kepada dunia Barat, khususnya kepada orang-orang Barat yang berkunjung ke Masjid Istiqlal semasa almarhum menempati posisi sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal.

Puncaknya ketika almarhum bertugas mendampingi Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam kunjungannya ke Istiqlal. Almarhumlah yang menjelaskan tentang Istiqlal dan Islam Indonesia kepada Presiden AS tersebut. Keluwesannya dalam berkomunikasi dan kemampuannya dalam bahasa asing, membuat almarhum tak pernah terlihat canggung dalam berhadapan dengan tidak hanya orang Islam, tapi juga non-Muslim yang bertemu dengannya baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tak heran bila beliau juga didaulat menjadi salah satu penasihat lembaga Islam Darululum di Amerika Serikat.

Baca juga:  Ini 5 Cerita Gus Mus yang Paling Mengesankan tentang Gus Dur

[nextpage title=”5. Jembatan antara NU dan Wahabi”]

5. Jembatan antara NU dan Wahabi

Sewaktu menjadi tenaga dakwah dari atase keagamaan Arab Saudi  di Jakarta, almarhum berusaha sekuat tenaga untuk menjembatani antara kaum Nahdliyyin (NU) dengan kaum salafi-Wahabi yang selama ini terasa renggang dan semakin renggang, terutama setelah banyaknya kasus terorisme dan gerakan radikal.

Amanah itu beliau jalankan dengan konsisten, bahkan hingga beliau menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal. Almarhum menulis artikel yang lalu diterbitkan menjadi buku, yang isinya mencari titik temu antara keduanya dalam bidang akidah dan syariah.

Menurut Kiai Ahsin, sebagai santri tulen dan NU tulen, almarhum tahu betul tentang persoalan ini. Beliau dengan Pak Kiai Syukran Ma’mun berkeliling di kantong-kantong Nahdliyin untuk menjelaskan duduk persoalan ini. Semuanya dengan niat yang baik. Rujukan beliau dalam hak ini adalah tulisan-tulisan dari Hadratusysyekh Hasyim Asy’ari, pendiri NU.

Masih menurut Kiai Ahsin, kegiatan ini tentu saja berrosiko karena kaum Nahdliyyin sudah mencap kaum Wahabi sebagai kaum yang tidak sejalan dengan cara ber-Islam ala NU. Namun beliau tak surut dari semangat mempersatukan ini untuk kemaslahatan. Beliau tak patah semangat meski gara-gara inisiatif itu membuat beliau dicap sebagai agen Wahabi.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    223
    Shares
  • 223
  •  
  •  
Close