Ternyata K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asyari Punya 5 Kesamaan Ini

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Siapa yang tak kenal dengan K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari, dua tokoh nasional yang mempunyai peninggalan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Kedua ormas Islam ini masih tetap eksis hingga hari ini di usia masing-masing yang sekitar seabadan.

Kedua ormas ini, tidak hanya dikenal di dalam negeri, tapi juga di luar negeri, bahkan sudah punya beberapa cabang di luar negeri. Di balik perbedaan ajaran dan pemikiran kedua organisasi ini, ternyata ada beberapa kesamaan di antara pendirinya. Yuk, mari kita intip apa saja persamaan kedua tokoh ini:

[nextpage title=”1. Sama-sama Pahlawan Nasional”]

1.     Sama-sama Pahlawan Nasional

Kedua tokoh ini merupakan tokoh pahlawan nasional. Keduanya mempunyai peranan penting di balik kemerdekaan negeri tercinta ini. K.H Ahmad Dahlan yang merupakan salah satu anggota Boedi Oetomo, mendirikan sekolah di tengah-tengah masyarakat untuk membasmi kebodohan dengan tujuan dapat mengentaskan Indonesia dari penjajahan kolonial dengan pendidikan.

KH. Hasyim Asyari juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional atas jasa dan peran serta beliau ketika terjadi perang kemerdekaan di Surabaya. Ketika itu, KH. Hasyim Asyari mengeluarkan Resolusi Jihad yang mewajibkan setiap orang Islam yang tempat tinggalnya berjarak di bawah 96 KM dari Surabaya, untuk datang ke Surabaya demi ikut berperang melawan penjajah. Akhirnya masyarakat Islam berbondong-bondong datang ke Surabaya, bahkan tidak sedikit yang datang dari daerah yang jauh.

[nextpage title=”2. Sama-sama Keturunan Sunan Giri”]

Baca juga:  Walikota-Bupati yang Lebih Tenar daripada Gubernurnya

2.     Sama-sama Keturunan Sunan Giri

Kedua tokoh besar nan berpengaruh di negeri ini ternyata berasal dari keturunan yang sama, yaitu Sunan Giri. Percaya nggak? Mari kita intip sanad dari beliau berdua ini. Nasab (gari keturunan) dari K.H Ahmad Dahlan, mulai dari ayahnya Muhammad Darwis bin Abu Bakar bin Muhammad Sulaiman bin Murtadha bin Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Sulaiman (Ki Ageng Gribig) bin Muhammad Fadhlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri).

Nasab dari K.H Hasyim Asary adalah Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abu Sarwan bin Abdul Wahid bin Abdul Halim bin Abdurrahman (Pangeran Samhud Bagda) bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir) bin Maulana ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri). Nah, sekarang terbuktikan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama, yaitu Sunan Giri atau Maulana ‘Ainul Yaqin.

[nextpage title=”3. Sama-sama Menuntut Ilmu di Pesantren yang Sama dan Satu Kamar Pula”]

3.     Sama-sama Menuntut Ilmu di Pesantren yang Sama dan Satu Kamar Pula

Ternyata dua tokoh besar ini dulunya satu kamar ketika nyantri di Pesantren asuhan K.H Saleh Darat selama dua tahun. Di pesantren inilah keduanya mendalami ilmu agama. Setelah itu mereka berdua melanglang buana hingga ke Mekah untuk lebih memperdalam ilmu agama.

[nextpage title=”4. Berguru dengan Guru yang Sama Ketika di Mekah”]

4.     Berguru dengan Guru yang Sama Ketika di Mekah

Ketika melanjutkan studi di Mekah, keduanya ternyata juga berguru pada guru yang sama, seperti Syekh Mahfud Tremas dan K.H. Kholil Bangkalan. Keduanya juga sama-sama memperdalam fikih bermazhab Syafi’i di Mekah kepada Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabaui, yang dianggap sebagai tiang mazhab Syafi’i di dunia Islam pada abad ke XX.

Baca juga:  Ini 5 Hal yang Tak Banyak Orang Tahu tentang Kitab Jurumiyah

Bila belakangan disebut-sebut ada manuskrip karya K.H. Ahmad Dahlan yang memuat informasi mengenai tarawih 23 rakaat yang selama ini dikenal sebagai tradisi NU, ini tak lain karena keduanya berguru pada orang yang sama.

[nextpage title=”5. Sama-sama Pendiri Organisasi Islam Terbesar yang Masih Eksis sampai Hari Ini”]

5.     Sama-sama Pendiri Organisasi Islam Terbesar yang Masih Eksis sampai Hari Ini

Seperti disebutkan di awal, keduanya adalah pendiri dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Selepas menuntut ilmu dari Mekah, K.H Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tanggal 08 November 1912 di Kauman Yogyakarta.  Sementara itu, K.H Hasyim Asy’ari mendirikan NU pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya.

 

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
100 %

Komentar

Maftukhatul Inayah

Latest posts by Maftukhatul Inayah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close