Jangan Mau Dibohongi Pakai #AirMataBuaya! Biasanya Petentang-petenteng, Disidang Kok Nangis?

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Sebelum memulai tulisan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada media ini, karena dengan adanya media ini saya bisa menyampaikan “curahan hati” saya (dalam hati berkata “ciee”). O iya, jangan anggap tulisan ini sebagai bentuk menjilat saya, ya! Toh, saya menjilat es krim pun tak pandai, apalagi orang yang dijilat. Waduh.

Langsung saja ke topik utama. Sekarang mulai serius (padahal tak boleh nulis serius, kan?). Masyarakat sekarang sepertinya sedang sibuk-sibuknya membahas tokoh yang selama ini memang sudah amat fenomenal.

Kemarin tokoh ini mulai disidang. Ibaratnya kemarin adalah sidang perdana. Ada yang fenomenal di sidang perdana kemarin. Jumlah pengacaranya aja sebanyak 64 orang. Mungkin ini patut dapat rekor muri. Tapi ternyata itu tidak menarik perhatian banyak orang.

Justru ketika tokoh kontroversial yang dijuluki para pembencinya sebagai penista ini, membacakan nota keberatan. Bukan isinya yang banyak dibicarakan orang, tapi saat dia tiba-tiba menangislah yang jadi fokus perhatian orang.

Bagaimana bisa orang yang selama ini terkenal petentang-petenteng, justru menangis di hadapan jutaan mata yang menyaksikan jalannya sidang itu. Maka, banyak pihak menyebut tangisan itu cuma akting, drama, dan bahkan air mata buaya. Di twitter hingga muncul tagar #AirMataBuaya dan sempat seharian kemarin jadi trending topics.

Terkenal galak, tanpa ampun, dan lagi sangat terkenal dengan (katanya sih) mulut ala comberan depan rumah warga. Hayo, siapa yang tahu? Pastinya Gubernur DKI Jakarta yang terhormat, yaitu Bapak Basuki atau terkenal sebagai Ahok.

Baca juga:  Puisi Syarif Hade Ini Menampar Keras Posisi Memalukan Kaum Liberal pada Pilkada DKI

Mulai dikenal saat naik tahun 2012, tepatnya saat Jokowi nyalon jadi Gubernur Jakarta. Awalnya ndak terlalu kontroversi, apalagi yang buat risih hati. Tapi, saat si Bapak Joko sudah naik jadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014, mulailah di sini terlihat rambutnya (terlihat taringnya sudah mainstream).

Sebelum menulis lebih jauh, saya mau mengingatkan kalian para pembaca yang budiman. Bahwasanya, saya bukan sebagai “ahokers” atau orang yang kontra kepada beliau. Tapi, sebagai orang yang “mencoba” netral. Ya, walaupun gak terlalu netral amat.

Lanjut lagi, adanya tulisan ini juga untuk sebagai ucapan terima kasih kepada Bapak Gubernur yang terhormat. Bukannya saya rasis ya, tapi karena Anda, Pak Basuki, umat Islam jadi lebih rajin untuk kali ini. Yang dulu jarang buka kitab suci, terutama tentang surah yang bapak bilang di media itu. Kini, jadi banyak yang membuka kembali, dan belajar lebih dalam.

Padahal panjenengan ini bukan Muslim, tapi hebat sekali bisa membuat umat Islam jadi lebih semangat untuk ngaji lagi. Khususnya dalam bidang tafsir. Benar-benar luar biasa. Husnudzan saya, Anda, Pak Basuki, cuman sengaja lalu mengarang ucapan yang kini jadi terkenal di televisi, atau media lain. Begitu, supaya kami umat Muslim lebih rajin lagi ngaji.

Tapi, sayangnya ada beberapa orang yang menanggapinya secara tidak bijak, dan bahkan brutal dan berkata kasar. Mbok jangan begitu, ya, seharusnya jadi orang Islam itu harus lebih penyabar, dan walaupun marah jangan diumbar-umbar. Apa bedanya kita dengan Pak Basuki (eh).

Baca juga:  Tere Liye Sindir Orang yang Sok-sokan Hormati Mereka yang Tidak Puasa

Sudahlah, saya tak mau cari ribut tentang hal itu. Soalnya tidak baik juga diperpanjang, yang baik untuk diperpanjang hanya SIM. Lebih bermanfaat. Sedangkan, perbedaan pendapat kalau jadi panjang bisa rumit. Walaupun masih panjang, setidaknya jangan panas. Apalagi sampai goyang.

Aduh, jadi mulai serius. Padahal, mau nyantai di tulisan ini. Yasudah, saya cukupi saja di sini. Intinya, kamsiaPak Basuki!

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrullah Alif Suherman

Mengambil konsentrasi Islamic History & Culture di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Pesantren Islam Ummul Quro Al-Islami. Asal-usulnya dari Magelang.
Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close