Tertulisnya “Gratis”, Tapi Kok Tetap Bayar? Ini 5 Kebohongan Publik yang Menyedihkan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Hidup di negeri ini memang harus lebih banyak paham dan terus belajar tentang kebiasaan dan “tradisi”-nya, terutama terkait ruang publik. Apa yang tertulis, belum tentu itu yang sebenarnya.

Kita sering kali merasa dibohongi, bahkan tertipu dengan apa yang tertulis, karena ternyata yang tertulis itu tak sesuai dengan kenyataannya. Inilah yang sering kita rasakan sebagai kebohongan publik itu.

Tetap waspada dan hati-hati, selalu menjadi kunci utama. Bertanya dan mencari informasi, juga perlu dibiasakan. Kalau terkait dengan yang kecil dan remeh-temeh sih, ya mungkin tak apalah, tapi itu artinya kita membiarkan kezaliman terus berjalan. Apalagi bila itu terkait hal-hal besar dan berhubungan dengan institusi negara. Untuk hal-hal seperti ini rasanya juga perlu dibuat petisinya.

Nah, apa saja kebohongan publik yang banyak kita temui di sekitar kita? Berikut 5 di antaranya yang paling sering kita lihat:

1. Parkir Gratis atau Toilet Gratis

Di banyak pusat perbelanjaan tertulis “parkir gratis”, dengan tulisan mencolok pada baliho besar yang diletakkan di bagian depan. Tulisan “gratis” juga kita sering temukan di ruang publik lainnya.

Benarkah kita tak keluar uang sama sekali saat parkir di tempat-tempat itu? Jangan senang dulu, karena akan ada ” juru parkir” lain baik preman maupun sekuriti tempat itu yang tetap menerima, kadang meminta, bahkan memaksa.

Ini tak perlu dikaitkan dengan sedekah, tapi ada perasaan merasa dibohongi dan dizalimi yang sepertinya tak pernah dihentikan bila tak ada yang menghentikannya. Para pengelola tempat-tempat itu mungkin akan terus membiarkan hal itu terjadi bila kita tidak memprotesnya.

Baca juga:  Ini 5 Sosok Ayah Inspiratif

2. Tidak Ada Pungli

Pungli atau pungutan liar sering kita temui di beberapa tempat. Salah satunya di jalan tol. Pungli di jalan tol biasanya terkait dengan penderekan mobil mogok. Nah, pihak Jasa Marga biasanya sudah menginformasikan melalui spanduk-spanduk di beberapa ruas jalan tol. Fasilitas derek itu gratis. Singkatnya, tak ada pungli.

Betulkah faktanya demikian? Berdasarkan penelusuran di mesin pencari tentang pengalaman menggunakan mobil derek, ternyata banyak yang merasa tertipu karena tetap harus mengeluarkan uang, bahkan salam jumlah besar. Umumnya para korban merasa bingung karena tak ada pilihan.

3. Tanpa Dipungut Biaya

Tulisan “tanpa dipungut biaya” sering kita temukan di pendaftaran penerimaan PNS, TNI, dan Polri. Bahkan belakangan ada tambahan tulisan “sepeserpun” yang sepertinya untuk menepis keraguan masyarakat soal itu, karena hal itu sudah diketahui umum oleh publik.

Faktanya selalu saja ada oknum yang bermain dalam kegiatan ini dengan dalih membantu kelulusan, baik langsung maupun lewat perantara. Dan, setiap tahun selalu ada saja korbannya. Mengapa masih banyak yang tertipu? Ini karena di luaran banyak informasi yang beredar dan seolah menjadi rahasia umum kalau banyak orang tidak kompeten yang lulus karena membayar sejumlah uang.

4. No Tip

Di beberapa mall dan pusat perbelanjaan, ada beberapa vendor perparkiran yang mengenakan seragam yang tertulis “no tip” di bagian depan atau belakang baju itu.

Benarkah benar-benar “no tip”? Tunggu dulu. Saya bahkan sering melihat juru parkir yang menerima tip, dan cenderung tidak ramah bila pemilik mobil tak memberi tip.

Nah, kalau dia konsisten dengan tulisan yang ada di bajunya, harusnya dia bisa menolak dengan ramah siapa pun yang memberi tip padanya. Pasalnya, pemilik mobil sudah dibebankan biaya parkir yang amat mahal untuk ukuran tanpa garansi kehilangan.

Baca juga:  Ide Bisnis Memadukan Jual Pulsa Murah Online dan Offline

5. Kawasan Bebas Calo

Tulisan ” kawasan bebas calo” ini sering kita temui saat mengurus surat kelengkapan kendaraan bermotor kita di Kantor Samsat. Bukannya bebas calo karena tulisan itu, justru di sekitar spanduk atau poster itu berkeliaran dengan leluasanya para calo, baik yang resmi dengan mengatasnamakan biro jasa maupun yang tidak resmi. Tak jarang oknum “orang dalam” tak sedikit juga yang bermain, bahkan mulai dari petugas informasi.

Polanya sama. Semuanya menjanjikan untuk dapat mempercepat dan mempermudah pengurusan, yang tentu saja dengan imbalan tertentu yang kadang lebih besar dari biaya yang kita bayar sebagai pajak dan lain-lain. Yang tak resmi bahkan kadang cenderung memaksa. Anehnya semua bisa beroperasi tiap hari tanpa tersentuh dan seolah direstui “orang dalam”. Kita lihat sebagian bisa keluar-masuk dan mendapat pelayanan lebih cepat. Mereka hanya tiarap sesaat ketika ada Sidak tim dari pusat.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
Close