Ini 5 Pertanyaan yang Bikin Badmood Saat Lebaran Ketemu Teman atau Keluarga

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Bertemu teman pastilah sesuatu yang menyenangkan. Apalagi kalau lama gak ketemu. Lebaran biasanya jadi ajang yang pas untuk ketemu dan silaturahim dengan teman atau keluarga. Tapi, kadang ketemu teman juga sangat menyebalkan. Apalagi kalau dia nanya-nanya pertanyaan yang sebetulnya kita selalu ingin hindari.

Pertanyaan itu memang pasti tidak diniatkan untuk menyakiti perasaan kita. Tapi, entah mengapa pertanyaan-pertanyaan ini justru membuat kita tiba-tiba tidak nyaman. Pertanyaan-pertanyaan itu susah-susah gampang dijawab. Bukan karena pertanyaannya yang sulit, namun karena tidak mungkin dijawab pada waktu itu juga.

Pertanyaan-pertanyaan itu juga memang terkait kondisi kita. Tapi kondisi tidak ideal yang kita sendiri sebetulnya pengen lepas dan mendapat jawaban atas pertanyaan itu. Kita tahu kalau pertanyaan itu memang bosa-basi, tapi sering kali bikin kita baper, dan tak jarang jadi memperburuk mood. Berikut 5 pertanyaan yang bikin kita sedih dan terbawa perasaan:

[nextpage title=”1. Kapan Nikah”]

1. Kapan Nikah

Ini juga salah satu pertanyaan, yang mungkin bagi sebagian orang paling sulit untuk dijawab. Di zaman sekarang–meskipun penulis enggan menyepakatinya–keluarga ingin bahkan mendengar kalau anak, cucu, atau kerabatnya sudah punya pacar (bahasa gaul Jakarta: gebetan). Keluarga lebih senang lagi jika tahu, anak atau cucunya sudah memiliki pasangan yang sudah ditahap serius dan berniat melaksanakan pernikahan.

Tapi jika kamu belum memiliki itu semua, sederhananya kamu cukup menjawab, “Doakan saja, ya”, “Doakan saja, Bang”, dan pernyataan-pernyataan optimistik nan diplomatis lainnya, seperti “Lagi proses nih”, “Belum ada keinginan. Mau fokus kerja dulu.” Tapi, bisa jadi kamu tidak suka karena ditanyakan oleh teman yang nanyanya itu lagi, itu lagi. Apalagi, kamu sudah menyelesaikan pendidikan di universitas, S1 setidaknya. Kalau sudah begini, siapkan mental, yah! Prinsipnya, jangan ragu untuk bersikap.

Baca juga:  Ucapkan Selamat Puasa Ramadan dengan 5 Ungkapan Populer dalam Bahasa Arab Ini!

[nextpage title=”2. Punya Anak Berapa”]

2. Punya Anak Berapa

Keluarga muda biasanya jadi sasaran pertanyaan ini. Pasangan suami istri yang baru saja menikah tentunya ingin segera memiliki momongan. Tapi, apalah daya jika Tuhan belum menakdirkan memiliki anak. Jika umur pernikahan baru 1-2 tahun, pertanyaan ini bagi banyak orang bisa dijawab dengan, “Doakan saja, ya.”

Tapi ada juga yang grogi dan terganggu menerima pernyataan itu. Tapi, jawab saja pertanyaan-pertanyaan itu dengan penuh optimis. Jika umur pernikahan sudah lebih dari 5 tahun, kamu jangan sampai menunggu menerima pernyataan ini, bisa datang ke dokter untuk menanyakan ada permasalahan apa sehingga keluarga kamu tak kunjung memiliki keturunan.

[nextpage title=”3. Rumah Sendiri atau Ngontrak”]

3. Rumah Sendiri atau Ngontrak

Masyarakat Jakarta yang pada umumnya adalah perantau, akan senang jika anak atau cucunya bisa hidup mandiri, bahkan mapan secara ekonomi. Salah satu indikator kemapanan ekonomi tersebut adalah, bisa memiliki rumah sendiri, tidak mengontrak rumah atau hidup bersama mertua.

Pertanyaan ini sebenarnya bisa disikapi dengan positif, dengan menyatakan kalau sedang menabung, bahkan bisa menjadi momen bertanya kep teman untuk menanyakan rumah yang hendak dijual atau tanah kosong, untuk dibangun menjadi sebuah rumah. Tapi, kadang ada juga yang tidak siap bahkan merasa minder jika ditanyakan soal ini, apalagi sudah nikah cukup lama.

Kalau sudah begini, bilang saja, “Mudah-mudahan diberikan kecukupan rezeki, ya.” Intinya, pernyataan itu disikapi saja dengan positif, percaya diri, dan penuh optimis. Jadi, tak perlu bersedih hati atau malu bukan jika menerima pernyataan itu!

[nextpage title=”4. Kok Gak Lulus-lulus”]

4. Kok Gak Lulus-lulus

Setelah lama tidak bertemu, biasanya kamu akan mendengar pertanyaan, “Kuliah sudah semester berapa?” atau pertanyaan “Kapan lulus?” Kalau kamu mahasiswa dengan semester muda (1-7), pertanyaan itu bisa dijawab dengan santai dan penuh percaya diri, “lima,” atau “masih semester tiga.” Tapi, ceritanya jadi lain kalau kamu adalah mahasiswa dengan semester tua (>8).

Baca juga:  Hanya di Indonesia! Gara-gara Sinetron "Uttaran", Bisa Berbuntut Perceraian, Ini 5 Efek Buruknya

Pertanyaan selanjutnya yang ditanyakan biasanya, “Kapan lulus.” Kalau sudah begini, biasanya kamu akan menjawab dengan sedikit malu-malu, “Doakan aja, ya!”, atau “Iya, masih banyak kegiatan di kampus. Jadi, belum bisa selesai tahun ini kuliahnya,” dan sejumlah alasan diplomatis lainnya. Setelah itu, kamu mengambil beberapa langkah meninggalkan yang bertanya.

[nextpage title=”5. Kerja Di Mana”]

5. Kerja di Mana

Pertanyaan ini biasanya juga muncul di saat ketemu teman atau ngobrol dengan teman via medsos setelah lama gak ketemu. Bisa jadi kamu ditanya kapan bekerja karena kamu baru saja lulus dari kuliah tingkat S1  atau SMA atau sederajat, misalnya.

Kalau sudah begini, ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk cari peluang, karena boleh jadi kamu bisa tanya soal peluang pekerjaan kepada teman yang bertanya itu. Tapi, banyak juga yang tidak siap menghadapi pertanyaan ini. Mereka yang tidak siap, biasanya khawatir dikira pemalas atau pengangguran, dan dicap kurang terampil mengambil peluang.

 

 

 

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Muhamad Masrur Irsyadi

Mahasiswa Fakultas Dirasah Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan alumni International Institute for Hadith Sciences Darus-Sunnah Jakarta.
Muhamad Masrur Irsyadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close