Ormas

Kampung Kauman, Nyai Ahmad Dahlan dan Sejarah Muhammadiyah

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com РKampung Kauman yang terletak tepat di barat alun-alun utara Kraton Yogyakarta menjadi kampung terpenting  bagi sejarah Muhammadiyah. Di kampung inilah Muhammadiyah didirikan, tumbuh, dan berkembang sampai ke pelosok tanah air. Kauman menjadi saksi perjuangan awal Muhammadiyah yang waktu itu ditentang oleh banyak kalangan.

Kampung Kauman menjadi basis organisasi Muhammadiyah karena memang di sanalah Muhammadiyah bermula. Di kampung Kuaman ini pula para tokoh Muhammadiyah lahir, tinggal dan membangun rumah tangganya.

Ini beberapa tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Kauman:

  1. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
  2. Ki Bagus Hadikusumo (Ketua Umum Muhammadiyah yang ke-5)
  3. Fachruddin (generasi awal Muhammadiyah)
  4. Ahmad Badawi (Ketua Umum Muhammadiyah yang ke-8)
  5. K.H. Yunus Anis (Ketua Umum Muhammadiyah yang ke-7)
  6. Ibrahim (Ketua Umum Muhammadiyah yang ke-2)
  7. Hisyam (Ketua Umum Muhammadiyah yang ke-3)
Baca juga:  Ini Fakta Sebenarnya di Balik Video Viral Puluhan Ribu tentang FPI yang Dikeroyok GMBI

Di kampung kauman ini juga dahulunya Gus Dur, Amin Rais dan dan Presiden Soeharto pernah tinggal. Di kampung ini pula terdapat Langgar Kidul K.H. Ahmad Dahlan. Dan dari langgar Kidul ini Muhammadiyah bermula. Letak langgar kidul ini berdada di belakang Masjid Gede Yogyakarta.

Di kampung ini terdapat Makam Kauman, yang letaknya berada dalam komplek masjid Gede Kauman. Tepatnya berada di belakang masjid Kauman disisi barat. Di makam kauman ini banyak tokoh Muhammadiyah tersebut dikebumikan.

Salah satu tokoh Muhammadiyah yang dikebumikan di makam itu adalah Nyai Siti Walidah atau yang lebih dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan. Setelah menikah dengan sepupu beliau, yakni K.H. Ahamad Dahlan, nama Nyai Ahmad Dahlan justru lebih familiar daripada nama asli beliau sendiri.

Beliau merupakan pahlawan perempuan pertama dan satu-satunya dalam bidang agama. Jasa beliau pada bangsa dan agama amatlah besar. Dari perjuangan beliau, lahirlah Aisyiah, salah satu organasi perempuan pertama di Indonesia. Padahal pada zaman itu organisasi perempuan masih dianggap tabu.

Baca juga:  Gunakan Tagar #MendadakNU Pada Tempatnya, agar Tidak #MendadakTelolet!

Ini mengajarkan pada kita bahwa sejarah ulama zaman dahulu adalah harta yang ternilai harganya. Sejarah ulama zaman dahulu adalah teladan bagi kita semua. Sejarah ulama zaman dahulu adalah warisan yang harus dijaga dan dikenang sepanjang masa.

Jangan sampai kita kehilangan warisan yang ternilai harganya tersebut. Menziarahinya sama dengan menyegarkan kembali jasa-jasa mereka untuk kehidupan kita.

Eko Dalono

Eko Dalono

Asal Sragen dan Alumni IAIT Tribakti Kediri
Eko Dalono

Latest posts by Eko Dalono (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *