K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Ulama Nasionalis Pendiri Nahdlatul Ulama

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Tak jarang kita jumpai fakta sejarah yang merekam keterkaitan ulama dan kecintaan mereka terhadap tanah air. Saya yakin dengan mudah Anda dapat menyebut sekian banyak nama pahlawan nasional yang notabene adalah seorang tokoh yang mumpuni dalam bidang agama.

Belum lagi pahlawan-pahlawan daerah yang belum tercatat dalam literatur negara, yakni mereka yang riwayat perjuangannya lestari dari generasi ke generasi berikutnya.

Abdul Wahab Hasbullah, Ulama Kharismatik yang Organisatoris

Adalah Kiai Abdul Wahab Hasbullah, seorang ulama yang menempatkan rasa cinta tanah air dalam kedudukan yang mulia.

Beliau mengaktualisasikan harapan akan lahirnya sebuah bangsa yang bermartabat ke dalam sebuah organisasi yang menjadi simpul pertemuan antara semangat kebangsaan dengan nilai-nilai keagamaan.

Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Bangsa) didirikan oleh Kiai Wahab 2 tahun setelah kedatangannya dari Mekah pada tahun 1916.

Organisasi yang dibentuk untuk menumbuhkan militansi di kalangan anak negeri ini mendapat sambutan positif. Terlihat dari banyaknya cabang yang didirikan di berbagai kota di Jawa dan Madura.

Agar tidak memancing kecurigaan Belanda, maka cabang-cabang Nahdlatul Wathan itu dinamakan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.

Di Wonokromo misalnya, ormas itu diberi nama Ahlul Wathan (Warga Bangsa), di Gresik diberi nama Far’ul Wathan (Elemen Bangsa), di Jombang diberi nama Hidayatul Wathan (Pencerah Bangsa), di Pacarkeling diberi nama Khitabatul Wathan (Pembela Bangsa), di Jagalan diberi nama Hidayatul Wathan dan di Semarang diberi nama Akhul Wathan (Solidaritas Bangsa).

Pada 1924 Kiai Wahab membentuk sebuah wadah kegiatan kepemudaan dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) yang pada awalnya bernama Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO). Dalam sejarah Orde Lama, Ansor tercatat sebagai salah satu elemen masyarakat sipil yang menjadi garda depan dalam kontrakomunisme pada kisaran tahun 60-an.

Baca juga:  America’s Got Talent, Demian, dan Mental Sukses  

Kiai Wahab adalah salah satu tokoh yang memprakarsai berdirinya sebuah wadah para ulama yang kini menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). NU dideklarasikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya.

NU didirikan selepas guru Kiai Wahab yakni Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mendapat lampu hijau dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Sehingga bersama dengan Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syansuri serta ulama-ulama lain, beliau mendeklarasikan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama di Tebuireng pada 31 Januari 1926.

Kiai Wahab dan Perlawanan Terhadap Penjajah

Jejak Kiai Wahab dalam perlawanan bersenjata melawan Jepang terekam dalam kiprahnya di Hizbullah. Kiai Wahab pun berperan dalam proses pembebasan Syaikh Hasyim Asy’ari dari tahanan Jepang akibat fatwa beliau yang mengharamkan hormat dengan membungkukkan badan ala Jepang. Beliau akhirnya dibebaskan setelah menjalani 4 bulan penahanan, proses negosiasi sendiri memakan waktu sebulan lamanya.

Ada kisah menarik yang terjadi pada kurun waktu 1944-1945-an. Saat itu, Kiai Wahab memerintahkan para santrinya untuk i’tikaf seharian penuh sambil membaca Burdah. Kiai Wahab sendiri mengambil tempat di kamar pribadi beliau.

Malam harinya, beliau keluar dan mengatakan kepada para santrinya bahwa beberapa saat lalu beliau bercakap panjang lebar dengan Bung Karno. Kontan para santrinya heran karena seharian Kiai Wahab tidak keluar pondok.

Baca juga:  Ahmad Dhani dan Iman, Obati Kekecewaan Masyarakat pada Para Musisi yang Terbeli Oleh Istana

Beliau bercerita tentang adanya kemungkinan Indonesia akan kedatangan kekuatan dahsyat yang membawa panji kolonialisme. Hal inilah yang diyakini sebagai salah satu faktor dimaklumatkannya Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945 .

Maklumat itulah yang kemudian memantik perlawanan bersenjata rakyat Surabaya dalam menghadapi kembalinya tentara Belanda yang membonceng NICA. Kini kita mengenang heroisme arek-arek Surabaya itu dengan Hari Pahlawan, 10 Nopember.

Kiai Abdul Wahab Hasbullah wafat pada 29 Desember 1971 dalam usia 83 tahun. Seorang ulama multidimensi yang telah mewariskan banyak hal berharga kepada para generasi penerus dan NU pada khususnya.

Melihat kiprahnya yang luar biasa dalam berbagai pergerakan bernafaskan nasionalisme, akhirnya pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada beliau pada 2014 lalu.

Gelar tersebut seolah menjadi pengukuhan bahwa negeri ini membutuhkan figur-figur relijius yang menghembuskan semangat cinta tanah air agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan diperhitungkan dalam percaturan dunia.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

follow me

Ahmad Indra

Pekerja yang tengah mencoba untuk geluti dunia literasi
Ahmad Indra
follow me

Latest posts by Ahmad Indra (see all)

2 thoughts on “K.H. Abdul Wahab Hasbullah, Ulama Nasionalis Pendiri Nahdlatul Ulama

  1. Ralat
    Paragraf ke-7 seharusnya :

    Kiai Wahab memprakarsai berdirinya sebuah wadah para alim ulama yang menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia saat ini, Nahdlatul Ulama (NU). NU dideklarasikan pada 31 Januari 1926 di Surabaya. Tepatnya dua setangah tahun sebelum keberangkatan Kiai Wahab dan 2 orang utusan lainnya ke Mekah dalam misi menyampaikan aspirasi para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di tanah Jawa dan Madura ke hadapan penguasa Haramain di Hijaz. Kita mengenal perwakilan ulama Nusantara itu dengan nama Komite Hijaz.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close