Jangan Takut Belajar Islam di UIN/IAIN

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Sudah banyak evaluasi dan perbaikan yang dilakukan UIN merespons saran dan kritik konstruktif dari masyarakat.

Dalam konteks UIN Jakarta, universitas dan fakultas-fakultas agama melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan dalam wawasan dan bekal “keislamannya”.

Ada ma’had jami’ah (pesantren mahasiswa) yang modelnya seperti pesantren pada umumnya dalam mengkaji kitab kuning, bahasa, dan pembelajaran akhlaknya.

Ada mata kuliah Praktikum Ibadah dan Qiraah yang mempelajari hal ihwal persoalan ibadah sesuai tuntunan fikih dan qiraah sesuai standar tajwid.

Dalam kegiatan-kegiatan yang ada, kami sering memulainua dengan lebih dulu ada khataman Alquran. Panduan berbusana islami pun kami masukkan dalam kode etik mahasiswa.

Di Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), ada laboraturium fardhu kifayah yang menyiapkan mahasiswa untuk siap guna dalam ibadah fardhu kifayah yang dibutuhkan di masyarat seperti pengurusan jenazah. Di FDI juga disyaratkan untuk S1 lulus hafalan 8 juz sebelum ujian skripsi. Di S2 wajib 4 juz.

Di Fakultas Adab dan Humaniora, ada Prodi yang mengharuskan hapal juz 30 sebelum ujian skripsi, juga membaca dan menerjemahkan Alquran sebelum ujian skripsi dimulai.

Baca juga:  Bendera Arab Saudi dan Bendera ISIS Kok Tidak Disebut Bendera Tauhid?

Di Fakultas Syariah dan Hukum, di Prodi tertentu ada uji pemahaman kitab kuning. Ada laboratorium bank mini syariah.

Di fakultas-fakultas agama, umumnya pengajarnya adalah para ulama yang diketahui luas kredibilitasnya, seperti Prof. Dr. A. Satori Ismail, Dr. Ahzami Samiun Jazuli, Dr. Sahabuddin, Prof. Dr. Huzaemah, dll. Rektornya yang sekarang Prof. Dr. Amany Lubis adalah kakak Ketua Umum FPI yang sekarang.

Kalau ditulis semua, pasti akan panjang sekali. Nah, meski sudah banyak pembekalan ilmu, nilai dan perangkat keislaman yang dilakukan seperti ini kok masih ada yang tulis tidak bisa jadi ulama atau orang saleh kalau masuk UIN. Yang ada malah disekulerkan, diateiskan, dan dikafirkan.

Ini kan jadi ketahuan kurang update (kudet) dan kurang info (kurfo). Ketahuan sekali bila tak pernah melakukan penelitian lapangan. Apalagi yang anggap UIN tak pernah evaluasi.

Di UIN Jakarta evaluasi itu dilakukan bahkan tiap minggu di rapat pimpinan, tiap bulan di rapat fakultas dan prodi, di tiap semester di rapat dosen, di tiap tahun ada rapat kerja. Ini belum lagi diskusi, seminar, dan forum lain yang membahas isu-isu terkini di UIN untuk keberlangsungan dan kebermanfaatan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Baca juga:  Ketika Teman FB Komen Nyelekit

Kalau masih ada yang merasa tak cukup dengan data-data di atas, saya undang untuk datang dan melihat sendiri semua yg dilakukan UIN, terutama UIN Jakarta. Saya siap menemani kapan pun juga, asal dikabari dulu, biar saya bisa menyesuaikan waktunya.

Poin terpenting dari tulisan ini: jangan takut belajar Islam di UIN Jakarta, juga IAIN/UIN lainnya. Kurikulum, dosen, model pembelanjarannya, pola pembinaannya telah terbukti menghasilkan banyak ulama, ustaz, dai, dan orang saleh yang tersebar di hampir semua instansi keislaman di dalam dan luar negeri.

Kalau ada 1-2 yang tidak seperti itu, anggaplah seperti pohon yang tak semuanya berbuah sempurna, bahkan ada saja 1-2 yang busuk.

0 0
Happy
Happy
100.00 %
Sad
Sad
0.00 %
Excited
Excited
0.00 %
Sleppy
Sleppy
0.00 %
Angry
Angry
0.00 %
Surprise
Surprise
0.00 %

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close