Jangan Olok-olok Orang yang Bilang “Kata Kiai” atau “Kata Habib”

Pin It

DatDut.Com – Beberapa waktu lalu, seorang teman pernah memberi komentar di sebuah status Facebook. Topiknya nggak jauh-jauh dari masalah yang lagi panas saat ini. Komentarnya berkutat tentang ancaman Allah kepada golongan yang mengambil pemimpin dari kalangan non muslim.

Saya tidak bermaksud meladeni lebih jauh karena tahu diri akan ketidakpahaman mengenai tafsir al-Quran. Namun jawaban teman saya itu di luar dugaan.“Nggak perlu tafsir-tafsir segala. Artinya sudah jelas kok,” begitu kira-kira. Oh, rupanya keyakinannya berbeda dengan pemahaman saya selama ini bahwa al-Quran tidak cukup dimengerti melalui terjemahannya. Baiklah kalau begitu.

Sehari setelah GP Ansor merilis hasil Bahtsul Masail-nya, saya mendapatkan pesan Whatsapp dari seorang teman kantor. Isinya tentang keheranannya terkait putusan yang mengesahkan seorang non-Muslim yang terpilih sebagai kepala daerah.

Hal itu tertuang dalam putusan nomor 2 yang menyatakan bahwa terpilihnya non-Muslim di dalam kontestasi politik adalah sah berdasarkan konstitusi. Keterpilihannya untuk mengemban amanah kenegaraan itu adalah juga sah dan mengikat secara agama.

Hal itu merupakan konsekuensi dari diterimanya NKRI, UUD 1945 dan Pancasila sebagai sebuah kesepakatan para pendiri bangsa sehingga produk turunan dari konsititusi itu sah dan mengikat bagi seluruh warga Indonesia.

Diskusi kecil terjadi di antara kami dan di dalamnya tersisip sebuah kalimat,”Kalau ada di Quran dan hadits kita ikuti saja.. tapi kalau nggak ada, kita ikut ulama.” Terus terang saya merasa ada yang aneh dengan kalimat itu. Tapi ya sudah, mungkin saja saya salah menerjemahkan kalimatnya itu di pikiran saya.

Sehari lalu, tepatnya malam hari selepas seorang pejabat Syuriah PBNU sebagai pribadi memberikan kesaksiannya di depan sidang ke-15 kasus Ahok, ada seorang teman lain mengirimkan pesan. Kembali mengarah ke diskusi tentang makna kata auliya’ dalam al-Maidah, 51.

Baca juga:  Wacana Khilafah di Dunia Maya Dikuasai Kelompok Anti-Pancasila

Saya menjawab, memang ada perbedaan dalam penerjemahan kata itu, bahkan al-Quran terjemah versi Departemen Agama tahun 60-an menerjemahkannya dengan kata “wali”. Untuk menambah referensi, saya kirimkan screenshot al-Quran terjemah terbitan Saudi dalam versi Bahasa Inggris. Di situ kata “auliya’” diwakilkan dengan 3 kata : friends, protector dan helpers.

Tampaknya teman saya itu meyakini bahwa terjemah “auliya’” adalah pemimpin semata. Merujuk pada keyakinannya itu, dia menulis dalam pesannya, “Apa mungkin artinya yang salah? “(Sehingga ada orang lain menganggap artinya bukan ‘pemimpin’). Kembali, saya menemukan pandangan bahwa mengerti terjemahan berarti mengerti makna sebuah ayat.

Dari ke-3 kasus di atas, pikiran saya melayang kepada sebuah ungkapan yang selama ini dijadikan slogan oleh sebagian saudara kita. Coba tebak ungkapan itu.

Ya, benar.. “Kembali kepada Quran dan Sunnah”. Bukan bermaksud untuk menolak mentah-mentah ungkapan itu, tapi saya ragu kalangan muslim awam mengerti tentang maksud sebenarnya ungkapan itu.

Bisa jadi banyak dari mereka yang memaknainya secara tekstual sehingga mereka yakin bahwa hanya dengan membaca arti ayat al-Quran, makna dari kalimat-kalimat yang ada di kitab suci itu bisa mereka pahami. Begitu mudahnya seperti membaca sebuah komik. Sungguh pemahaman seperti itu adalah pemahaman yang mendegradasi kemuliaan sebuah kitab suci.

Kembali kepada al-Quran dan Sunnah baru bisa diterima jika diterjemahkan sebagai mengembalikan segala permasalahan berdasarkan al-Quran dan Sunnah melalui para ulama yang mengerti tentangnya.

Betapa kapasitas seseorang dalam memahami kalamullah dan sunnah rasulullah itu bukanlah kemampuan yang sembarangan. Mereka mendapatkan melalui jalan dan proses yang panjang, sama sekali bukan seinstan kita dalam memahami sebuah berita yang terpampang di layar smartphone.

Baca juga:  Soal Harry Tanoe ke Pesantren, Contohlah Rasulullah dalam Hubungan dengan Non-Muslim

Mereka adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dalam menelaah permasalahan dari sumber hukum Islam secara langsung.

Tentu kita tidak akan mungkin menyamakan seorang ahli tafsir dengan orang-orang yang bisa membaca kitab kuning dengan lancar, pun kita tidak mungkin membandingkan mereka dengan orang-orang yang bisa menerjemahkan percakapan dalam bahasa Arab ke bahasa ibu kita. Karena kemampuan seorang ahli tafsir sungguh jauh berada di atas orang-orang itu. Dan kita akan menyamakan diri kita dengan mereka?

Sehingga jelas, dalam memahami sebuah nash, kita diharuskan mematuhi firman Allah dalam surat an-Nahl, 43:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.

Jadi masih merasa paham hanya dengan terjemahan? Atau masih mau memperolok teman Anda yang berdalil dengan “kata ulama”,”kata kiai..” atau “kata habib..”?

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

Post Author: Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *