Jangan Kaget Bila Ada yang Bunuh Diri! Ini 5 Penyebabnya

  •  
  •  
  •  
  •  

Datdut.Com – Akhir-akhir ini sering kita menemui kasus bunuh diri, baik  dari lingkungan sekitar, media televisi, surat kabar dan lain-lain. Yang terakhir yang paling menghebohkan adalah berita bunuh dirinya vokalis Linkin Park.

Tentunya, hal ini sangat memprihatinkan dan sangat disayangkan. Sebab Tuhan telah menganugerahkan hidup untuk mempersiapkan diri menghadapnya dengan keadaan yang baik, dan penuh kerelaan.

Semua peristiwa terjadi bukanlah tanpa sebab, motif atau alasan. Begitu juga halnya dengan maraknya praktik bunuh diri ini. Mau tahu motif atau faktor apa saja yang menyebabkan praktik bunuh diri bisa terjadi. Simak 5 faktor penyebab orang melakukan bunuh diri berikut ini:

1. Himpitan Ekonomi

Kondisi ekonomi-finansial yang lemah membuat sebagian orang putus asa terhadap keadaan yang ada. Sementara itu, tuntutan kebutuhan keluarga sangatlah tinggi dan tidak bisa dielakkan. Pada akhirnya, sebagian mereka hanya menemui lorong kosong dan buntu.

Mereka sudah sampai pada puncak keputusasaan. Hingga pada akhirnya, hal inilah menyebabkan adanya dorongan untuk mengakhiri hidupnya. Mereka merasakan kehidupan ini hanya penuh dengan beban dan penderitaan.

Padahal apabila mereka mau sejenak merenungkan bahwa diberikan hidup, sehat jasmani-rohani adalah karunia Tuhan yang besar baginya. Toh, masih banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung diri kita saat ini.

Oleh karena itu, kuncinya adalah bersabar, bersyukur, dan berdoa. Tuhan pasti akan membukakan jalan selagi kita mau berusaha.

2. Keadaan Psikososial

Sejumlah keadaan psikologis juga meningkatkan risiko bunuh diri, meliputi keputusasaan, hilangnya kesenangan dalam hidup, depresi dan kecemasan, kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah, hilangnya kemampuan seseorang yang dahulu dimilikinya, dan kurangnya pengendalian impuls juga berperan.

Pada orang dewasa lanjut usia, persepsi tentang menjadi beban bagi orang lain merupakan hal yang penting. Stres kehidupan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir seperti kehilangan anggota keluarga atau teman, kehilangan pekerjaan, atau isolasi sosial (seperti hidup sendiri), meningkatkan risiko tersebut.

Baca juga:  Ini 5 Hal Terkait Hari Guru Nasional yang Harus Kamu Tahu

Orang yang tidak pernah menikah juga berisiko lebih besar. Oleh karena itu, bersikap religius dapat mengurangi risiko seseorang untuk melakukan bunuh diri, seperti mengikuti pengajian, majelis taklim, ceramah, konsultasi dengan agamawan dan lain sebagainya.

3. Menderita Penyakit Kronis

Terdapat hubungan antara bunuh diri dan masalah kesehatan fisik, mencakup sakit konis, cedera otak traumatis, kanker, dan lain sebagainya.

Akibat dari penyakit-penyakit yang dideritanya tersebut, terkadang membuat sebagian orang merasa penuh beban dan membebani anak, suami, istri dan keluarganya. Hingga tidak sedikitnya, mereka memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Pada setiap Tuhan menciptakan penyakit, Dia juga memberikan obatnya. Bersabarlah dan jangan berputus asa. Karena sakit yang sedang diderita adalah tanda rasa kasih sayang Tuhan kita. Yakinlah, Tuhan pasti memberikan jalan dan solusinya.

4. Konsumsi Obat

Penyalahagunaan obat adalah faktor resiko bunuh diri paling umum. Saat melakukan bunuh diri, kebanyakan orang berada dalam pengaruh obat yang bersifat sedatif-hipnotis (misalnya alkohol atau benzodiazepine) dengan adanya alkoholisme pada sekitar 15% sampai 61% kasus.

Negara-negara dengan angka penggunaan alkohol tinggi dan memiliki jumlah bar lebih banyak secara umum juga memiliki risiko terjadinya bunuh diri lebih tinggi yang keterkaitannya terutama berhubungan dengan penggunaan minuman beralkohol hasil distilasi ketimbang jumlah total alkohol yang digunakan.

Biasanya, mereka melarikan masalah dan melupakan kepenatan hidupnya dengan mengkonsumsi obat-obat terlarang seperti ganja, sabu, heroin, pil ekstasi dan lain sebagainya.

Tak sedikit pula yang sengaja mengkonsumsi barang haram tersebut dengan berlebihan yang mengakibatkan overdosis. Pada akhirnya berujung pada kematian.

Baca juga:  Ini 5 Tempat Terbaik untuk Lari dari Tekanan Kesibukan

Padahal, kalau mereka tahu bahwa solusi yang paling baik dan mujarab adalah mendekatkan diri pada Tuhan (taqarub), seperti salat, membaca Alquran, bergabung dengan orang-orang saleh dan lain-lain. Harusnya mereka memiliki prinsip dan mengatakan, “Hai, masalah besar, aku punya Tuhan yang lebih besar dari kamu.”

5. Dampak Negatif Media

Media, termasuk internet, memainkan peranan penting. Caranya menyajikan gambaran bunuh diri mungkin saja memiliki efek negatif dengan banyaknya tayangan yang mencolok dan berulang yang mengagungkan atau meromantiskan tindakan bunuh diri dan memberikan dampak terbesar.

Pemicu penularan bunuh diri atau peniruan bunuh diri ini dikenal sebagai efek Werther, yang diberi nama berdasarkan tokoh protagonis dalam karya Goethe yang berjudul The Sorrows of Young Werther yang melakukan bunuh diri.

Risiko ini lebih besar pada remaja yang mungkin meromantiskan kematian. Sementara itu, media massa memiliki pengaruh yang signifikan, efek dari media hiburan masih tampak samar-samar.

Kebalikan dari efek Werther adalah pengusulan efek Papageno, yaitu cakupan yang baik mengenai mekanisme cara mengatasi masalah secara efektif, mungkin memiliki efek perlindungan.

Oleh karena itu, peranan orangtua menjadi mutlak diperlukan mengenai tontonan anak atau remaja. Memberikan pendidikan tentang hal-hal baik dilakukan anak (do) dan mana yang tidak baik bagi anak (don’t).

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Toni Pransiska

Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini sedang menyelesaikan program doktor di kampus yang sama.
Toni Pransiska

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close