Jangan Diam Saja Ketika Agamamu Dinista dan Ulamamu Dihina! Iman Butuh Keberpihakan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.C0m – Polemik penistaan agama seperti belum ada pangkal ujungnya. Publik pun sekurang-kurangnya terbagi ke dalam tiga kelompok. Kelompok yang bersuara lantang melawan kezaliman dalam penanganan terhadap kasus penistaan agama. Kelompok lawannya adalah yang mati-matian membela si penista.

Nah, ada satu kelompok lagi yang cenderung menjauhkan diri dari hiruk-pikuk. Kelompok ini asik dengan dunianya sendiri. Mereka apolitis dan tak jarang melarang orang berpolitik. Dengan gaya sok bijak, kelompok ini biasanya meminta orang bersabar, jangan menebar kebencian, dan tak usah terlalu larut dalam masalah politik. Agama memerintahkan kita untuk memaafkan dan membalas kejahatan.

Di sinilah masalah muncul. Kalau semua orang disuruh diam saja, tak bersikap, tak marah, tak benci, dan tak melawan, meski dinista, dilecehkan, diperlakukan tidak adil, dan dijatuhkan derajatnya, lalu kenapa Nabi dulu berperang?! Kenapa Nabi dan para sahabat tidak diam saja, tapi justru melakukan perlawanan?!

Tolong baca sirah nabawiyah dengan baik. Kalau belum paham, apalagi belum baca, tak usah melarang-larang orang yang marah, kecewa, tidak terima, dan melawan. Toh dalam Islam, membalas kejahatan dan keburukan itu boleh, apalagi ini berhubungan dengan penistaan terhadap Islam.

Tolong juga baca hadis-hadis Nabi ketika beliau begitu marah setiap kali Islam dinistakan. Nabi dan para sahabat tak pernah diam begitu saja. Tolong pahami konteksnya! Di sini pentingnya menggunakan segala sesuatu itu berdasarkan konteksnya.

Nabi sabar dan diam saja itu hanya kalau yang dinista pribadi beliau sendiri. Bahkan setelah di Madinah dan Islam kuat, ada hadis yang secara jelas memperlihatkan kemarahan Nabi dan sahabat ketika penistaan itu mengarah ke pribadi Nabi.

Baca juga:  Ingat! Jangan Nodai Aksi Super Damai 212 dengan Menyebar Foto dan Berita Hoax

Beliau pernah marah ketika ada orang yang menghardik Nabi dengan menuduh beliau tidak adil. Para sahabat pun bahkan mau membunuh orang itu dan hal itu diketahui Nabi. Tak ada larangan sedikit pun dari Nabi.

Apalagi kalau penistaannya sudah menyangkut Islam. Nabi dan sahabat pasti marah dan melawan. Saya belum ketemu satu ayat atau hadis saja yang menunjukkan bahwa Nabi dan para sahabat diam saat Islam yang dinista.

Satu lagi, ayat-ayat jihad itu masih berlaku kan?! Setahu saya, tak ada satu pun ayat jihad yang di-mansukh (dianulir hukumnya). Meskipun tentu penerapannya bisa beragam, tidak harus berperang fisik, tapi juga berjihad harta, gagasan, ide, dan doa. Belakangan pun ada jihad medsos juga.

Nah, kalau dalam situasi seperti ini saja, ada orang yang diam saja dan menyuruh semua orang diam, tidak membenci, dan tidak melawan, lalu kapan kamu jihad?! Jihad memang menghabiskan waktu, karena arti jihad itu berjuang. Karena kalau santai-santai saja, itu namanya beruang.

Kalau baca sejarah Islam, sufi-sufi dulu pun gak cuma memimpin zikir dan bertarekat saja. Mereka bahkan memimpin perlawanan dan mendorong santrinya untuk membasmi kezaliman dan kejahatan, termasuk penistaan. Bacalah kisah ketika Al-Hallaj harus dihukum gantung gara-gara dianggap menistakan agama. Yang berada di garda terdepan juga para sufi besar atas dasar menegakkan penerapan syariah.

Sekali lagi baca kitabnya jangan tentang “bab memaafkan” atau “anjuran berzikir” saja! Saya khawatir mereka justru kehilangan ghirah kepada agamamu. Dan, itu musibah terbesar bagi orang yang beragama.

Baca juga:  Bendera Arab Saudi dan Bendera ISIS Kok Tidak Disebut Bendera Tauhid?

Karena itulah, saya pun beberapa hari lalu menulis status di Facebook saya begini:

Silakan saja kalau kau tak membenci si penista, tapi jangan benci orang yang membenci penista, karena dia punya alasan dan argumennya.

Silakan saja kau tak marah agamamu dinista, tapi jangan marah pada orang yang marah pada orang yang menista agamamu, karena dia pasati punya pertimbangannya.

Silakan saja kau tak mau bersikap dalam pilkada, tapi harusnya dirimu juga tak bersikap pada orang yang bersikap dalam pilkada, karena dia punya hak untuk berpendapat dan bersikap.

SIlakan saja kau apolitis dan hanya puas sebagai orang arif-bijaksana, tapi arif dan bijaksanalah pula pada orang lain yang memilih jalan politik untuk memperjuangkan haknya.

Silakan habiskan waktumu untuk menasihati orang yang keras menyikapi penista, tapi habiskan juga waktumu untuk menasihati dirimu tentang kapan kau akan memperjuangkan agamamu.

Silakan saja kau diam saja pada orang yang melecehkan dan merendahkan ulamamu, tapi kau juga harus diam kalau si penista juga dilecehkan dan dihina.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close