Jangan Buru-buru Emosi pada Suami yang Mau Poligami!

  • 6
  •  
  •  
  •  
    6
    Shares

Datdut.Com – Selalu ada kehebohan saat ada seorang pria beristri yang memutuskan berpoligami, apalagi bila pria itu sebelumnya dikenal sebagai pria baik-baik. Padahal, poligami adalah jalan keluar yang disediakan oleh agama dalam kebuntuan hidup berumah tangga.

Dalam tradisi agama-agama langit dan bumi, yang ditabukan itu perceraian, bukan poligami. Bila dalam tradisi Nasrani poligami seperti ditabukan, itu mungkin salah satunya karena Nabi Isa tidak menikah. Berbeda dengan agama-agama yang nabi-nabinya menikah dan bahkan berpoligami.

Nah, mengapa sebagian nabi berpoligami? Jawabannya karena tugas berdakwah itu memang berat. Istri yang lebih dari satu tampaknya salah satu tujuannya untuk meringankan beban yang berat itu. Semua sepakat bahwa istri adalah tempat berteduh terbaik dari teriknya hidup seorang lelaki.

Lalu, bagaimana soal perceraian? Bila membaca sejarah Nabi Nuh dan Nabi Luth, maka akan sulit ditemui informasi mengenai perintah menceraikan istri beliau berdua, meskipun istri kedua beliau ini disebut-sebut mengganggu dakwah dua nabi ini.

Meskipun tahu bahwa poligami dibenarkan oleh agama, tapi tidak mudah bagi kita kaum Hawa menerima kenyataan bahwa suami kita menikah lagi. Apalagi bila kita adalah istri pertamanya. Dunia seperti runtuh saat itu juga, apalagi pas tahu suami kita justru berseri-seri pada saat yang sama. 

Mungkin ada amarah dan kecewa yang ingin kita tumpahkan padanya, tapi apa itu menyelesaikan masalah? Biasanya tidak. Kemarahan kita yang meletup-letup, malah justru menjauhkan kita dari suami. Nah, apa yang perlu kita lakukan saat itu? Jawabannya, mungkin sebaiknya kita menanyakan 5 hal berikut saat suami mengutarakan niatnya berpoligami:

1. Tanyakan Alasannya

Saat suami mengutarakan niat berpoligami, sebaiknya Anda mengajaknya berbicara baik-baik dan tanyakan padanya apa alasannya menikah lagi. Apa dia sudah tidak cinta dan sayang lagi?

Baca juga:  Kaum Hawa! Ini 5 Syarat Busana Muslimah Versi Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub

Apakah selama ini ada pelayanan Anda yang tidak disukainya sehingga ia memutuskan untuk mencari wanita lainnya untuk mendapatkan apa yang disukainya?

Tanyakan juga apakah poligaminya itu benar-benar karena mengikuti sunah Nabi atau sebetulnya dorongan nafsunya yang tak terkendali.

Tanyakan apa saja yang berhubungan dengan alasannya menikah lagi. Gali sebanyak-banyaknya sehingga selain tahu, Anda juga bisa berintrospeksi diri. Siapa tahu Anda bisa membujuknya untuk membatalkan niatnya itu setelah mengetahui alasannya.

2. Tanyakan Kesiapannya

Poligami bukan hanya soal kesiapan materi, tapi ada banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum akhirnya memutuskan berpoligami. Ada hati yang harus dijaga perasaannya. Tanyakan terkait kesiapannya baik secara lahir maupun batin untuk menikahi wanita lain, selain menjaga diri kita sebagai istri pertamanya.

Apakah ada jaminan dia siap menafkahi lahir-batin kepada kita sebagai istri-istrinya secara adil, sesuai kesepakatan antara kita, dia, dan wanita madu kita. Secara materi, mungkin banyak yang bisa adil, tapi yang nonmateri ini yang sering kali sulit merumuskan keadilannya. Ini lebih parah lagi bila suami kita tidak siap secara materi.

3. Tanyakan Tujuannya

Ini yang sering kali luput dari perhatian orang-orang yang sedang mengalami dilema poligami. Kita sebagai istri bisa bertanya, benarkah bila kita sudah berpoligami, maka kehidupan rumah tangga kita dalam biduk yang terbelah itu, akan baik-baik saja. Apakah benar suami telah memikirkan dengan jernih bahwa pilihannya itu agar kehidupan rumah tangga menjadi lebih baik dan lebih bahagia.

Beri pertimbangan padanya, jangan-jangan setelah berpoligami, justru ada pihak-pihak yang terzalimi. Anda perlu tekankan, tidak selalu kita yang terzalimi, tapi bisa juga madu kita yang terzalimi. Atau bisa juga suami yang justru terzalimi. Setelah dia bisa menyakinkan akan tujuannya, mintalah dia untuk berjanji atau minta dia bersumpah bila dia bersedia.

Baca juga:  Ini 5 Bukti Ide Khilafah Versi HTI Hanya Omong Kosong

4. Tanyakan Hak dan Kewajibannya

Bila suami benar-benar kekeh untuk menikah lagi, tanyakan padanya dalam situasi yang baru itu, apa saja yang menjadi hak dan kewajibannya. Ini tentu saja Anda bisa juga mengajukan hak dan kewajiban Anda padanya.

Ini penting sekali agar semua pihak saling memahami dan tahu apa yang menjadi kewajiban dan hak masing-masing. Bila masing-masing sudah tahu, ini meminimalisasi kemungkinan terburuk dari konflik-konflik yang terjadi.

5. Tanyakan Sikapnya saat Ada Konflik

Poligami sangat berpeluang terjadinya konflik bila masing-masing pihak tidak memahami hak dan kewajibannya. Nah, saat konflik terjadi, seorang suami diuji kesiapannya. Dari sikapnya akan ketahuan dia lelaki seperti apa.

Pertanyaannya, kan itu bila sudah terjadi poligami. Lalu, bagaimana bila belum terjadi poligami? Bagaimana cara kita tahu suami kita bisa bersikap dengan baik, proporsional, dan adil saat konflik? Mudah sebetulnya, lihat sikapnya saat Anda sedang berkonflik dengannya.

Bila dia tak bisa berlaku baik, proporsional, dan adil saat berkonflik dengan Anda sebelum berpoligami, maka dapat dipastikan sikapnya lebih buruk lagi saat telah berpoligami.

 

Komentar

Measha

Measha

Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu rumah tangga yang menggemari film korea dan martabak manis juga pesmol gurame.
Measha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *