Figur

Jadi Best Seller Sepanjang Masa, Ini 5 Alasan Ali Audah Menerjemahkan Buku Sejarah Hidup Nabi

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.ComHayatu Muhammad adalah buku berbahasa Arab setebal 638 halaman yang isinya berkisah tentang Nabi Muhammad SAW.

Buku ini ditulis oleh sastrawan dan jurnalis Mesir, Muhammad Husein Haekal. Diterbitkan oleh Dar Al-Maarif, Mesir pada tahun 1933 hingga kini buku tersebut menjadi rujukan cendekiawan muslim dan nonmuslim dunia dalam mencari informasi tentang Rasulullah SAW.

Buku tersebut bukan hanya menampilkan sejarah Rasulullah secara rinci namun juga menjelaskan sejarah Islam, hubungan Islam dengan agama-agama lain, dan sebagainya.

Kita masyarakat Indonesia yang tidak mengerti bahasa Arab tidak perlu khawatir. Seorang sastrawan dan penerjemah Indonesia, Ali Audah (AA) telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan sangat baik sekali.

Dalam versi bahasa Indonesianya judul buku itu menjadi Sejarah Hidup Muhammad. Buku terjemahannya diterbitkan oleh Litera AntarNusa pada tahun 1972.

Setali tiga uang dengan versi bahasa Arabnya, versi bahasa Indonesianya sejak pertama kali terbit hingga 2016 ini selalu cetak ulang. Tercatat bahwa di tahun ini sudah masuk cetakan yang ke-44.

Bahkan, bukan hanya di Indonesia, AA mengatakan bahwa hasil terjemahannya tersebut juga dikonsumsi oleh pembaca di Malaysia dan Singapura. Belum lama ini salah satu penerbit di Singapura mendatanginya untuk minta izin ke AA untuk mencetaknya di Singapura.

Sejarah Nabi Muhammad hasil terjemahan AA menjadi satu cara untuk siapa pun mengenali dan mencintai Rasulullah SAW.  Berikut 5 alasan Ali Audah dalam menerjemahkan Hayatu Muhammad:

1. Upaya Mencintai Nabi

Banyak yang bilang bahwa jika tak kenal, maka tak sayang, tak cinta. Begitu juga dengan cinta kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW yang setiap tanggal 27 Rabiual Awal umat muslim di seluruh dunia merayakan hari lahirnya.

Baca juga:  Makna Kunjungan Prof. Quraish Shihab ke Berbagai Pesantren bagi Bangsa Ini

Mustahil sayang bisa tumbuh, cinta bisa merekah, jika kenal saja tidak. Beragam cara untuk menimbulkan rasa itu, salah satunya membaca buku sejarah Nabi. Namun, inilah yang terjadi dengan AA. Tetapi sayang cinta dan sayang tidak hadir juga, meski ratusan halaman kisah Sang Kekasih dibacanya.

Rasa itu baru bisa hadir setelah pandangan kesekian kali. Ratusan halaman ke sekian kali yaitu ketika AA membaca Hayatu Muhammad. Melalui buku tersebut, ia merasa baru bisa mencintai Rasulullah hingga sekarang. “Mungkin jika saya tidak menemukan buku ini, saya tidak akan pernah bisa sayang dan cinta kepada junjungan Rasulullah,” terang AA.

2. Ekspresi Cinta pada Nabi

Sebagai rasa terima kasih atas tumbuhnya cinta terhadap Rasulullah, AA menerjemahkan buku karya Haekal tersebut. Dan ini adalah karya pertama AA dalam menerjemahkan buku bahasa Arab.

Kurang lebih satu tahun sambil diselingi pekerjaan lain seperti mengajar dan menulis, AA menerjemakan buku yang sangat dicintainya itu.

Tidak ada kesulitan khusus yang dirasakan AA ketika menerjemahkan buku itu. Semua berjalan lancar dan mudah. Apalagi bahasa yang digunakan Haekal adalah bahasa sastra, sesuai sekali dengan kesukaan AA.

3. Buku yang Unik

Hal lain yang membuat AA jatuh cinta terhadap buku tersebut adalah bahwa buku tersebut unik, beda dengan yang lainnya. Di buku-buku lain terlalu banyak disuguhi hal-hal yang tidak rasional dan takhayyul.

Baca juga:  Rio Haryanto Masuk F1, Ada 5 Hal yang Patut Diteladani dari Pembalap Ini

Di buku ini menurut AA, Haekal hanya menampilkan dua mukjizat yang dimiliki Rasulullah, dan dua itulah yang signifikan dan rasional, yaitu akhlak dan Alquan.

4. Merujuk Karya Orientalis

Dalam menulis Hayatu Muhammad, jelas AA, Haekal tidak hanya merujuk referensi Arab, tetapi untuk menyeimbangkan sejarah Haekal juga banyak sekali merujuk buku-buku karya pemikir orientalis, seperti Edouard Schure dalam Les Grands Inities, Sir William Muir dalam Life of Muhammad serta yang lainnya.

5. Banyak Ditentang sejak Awal Terbit

Alasan lain yang membuat AA menerjemahkan karya ini adalah, meski sejak awal terbit di Mesir banyak kalangan yang menentang, banyak yang mengatakan bahwa karya Haekal ini beraliran liberal dan memiliki banyak penyimpangan, namun Haekal maju terus.

Hingga terbukti kini buku tersebut selalu dicari banyak orang dan masih dibaca dan dijadikan rujukan oleh banyak ilmuwan di seluruh dunia. Wallahu’alam bishawaab.

Azzah Zain Al Hasany

Azzah Zain Al Hasany

Mahasiswa Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ibu muda yang bekerja di Mahkamah Agung dan pernah menjadi Ketua Forum Lingkar Pena Ciputat.
Azzah Zain Al Hasany

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *