Ini Ulama yang Pernah Tawasul di Kuburan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Ziarah kubur merupakan sunah yang dilakukan para ulama salaf saleh. Tujuan ziarah kubur bermacam-macam, di antaranya mengingat kematian, mendoakan mayat, memenuhi kewajiban sebagai anak pada orang tua, dan dalam rangka mencari berkah sekaligus bertawasul.

Pada poin terakhir inilah masih terjadi perbedaan pendapat dan bahkan ada yang kukuh memvonis bahwa ziarah kubur untuk bertawasul dan mencari berkah adalah syirik.

Antara tujuan tawasul dan mencari berkah (tabaruk) dalam ziarah itu mirip tetapi beda. Simpelnya, kalau ziarah untuk berdoa di makam ulama agar doanya cepat terkabul, itu adalah tabaruk.

Bila dalam doa membawa nama atau kemuliaan ulama yang diziarahi, maka itu tawasul. Secara umum, keduanya sering dilakukan sekaligus.

Makam orang-orang saleh itu selalu penuh berkah. Peziarah yang membaca salam untuk ulama yang diziarahi dan mendoakannya, pastilah mendapat kebaikan.

Demikian dikatakan oleh al-Hafizh Abdul Haq bin Abdurrahman dalam al-‘Aqibah. Al-Hafizh Adz-Dzahabi juga mengungkapkan dalam Siyar A’lam an-Nubala bahwa doa di tempat-tempat berkah lebih mudah terkabul, termasuk kuburan para wali.

Amaliah ziarah kubur dengan tujuan tabaruk dan tawasul pun  telah ada sejak zaman sahabat Nabi (Baca: Sahabat Nabi Juga lakukan Bidah Kok! Ini 5 Faktanya). Kali ini, kami hadirkan contoh ziarah kubur ke makam orang saleh dengan tujuan tabaruk dan tawasul yang dilakukan oleh 5 ulama.

1. Al-Hafizh ‘Abdul Ghani al-Maqdisi Sembuh di Makam Imam Ahmad bin Hanbal

Syaikh Yusuf Khaththar Muhammad dalam Mausu’ah al-Yusufiyyah (hlm. 128) meriwayatkan kisah berikut ini. al-Hafizh Abdul Ghani bercerita berikut:

“Saya menderita semacam bisul di tangan. Setiap kali sembuh selalu kambuh lagi. Ini telah berlangsung lama. Aku telah bepergian (berobat) ke Asbihan dan kembali ke Bagdad, sedangkan penyakit yang kuderita itu tetap sering kambuh. Akhirnya, aku ziarah ke makam Imam Ahmad bin Hanbal. Lalu, aku usapkan lenganku ke kuburan Imam Ahmad. ternyata aku sembuh dan bisul itu tidak kambuh lagi.”

Baca juga:  Ini 5 Kepedulian Rasulullah Saw. pada Rakyat Jelata

2. Abu Ali an-Naisaburi Berdoa di Makam Yahya bin Yahya

Abu Ali an-Naisaburi merupakan guru dari Imam al-Hakim penulis kitab al-Mustadrak. Dalam Tadzhib at-Tadzhib (juz 4, hlm. 398) diriwayatkan bahwa Abu Ali an-Naisaburi pernah mengalami kesusahan. Ia lalu mimpi bertemu Nabi Muhammad Saw. yang menyarankan agar ia berziarah ke makam Yahya bin Yahya.

Abu Zakaria Yahya bin Yahya at-Tamimi an-Naisaburi (wafat 226 H), adalah salah satu ulama besar di zamannya, imam terkemuka dan terkenal sebagai ahli Hadis.

Abu Ali an-Naisaburi disuruh beristigfar dan berdoa di sana. Keesokan harinya beliau segera melakukan petunjuk itu. Tak lama kemudian hajatnya terkabulkan.

3. Abu Ali al-Khallal Berdoa di Makam Musa al-Kazhim

Musa al-Kazhim bin Ja’far Shadiq adalah salah satu keturunan Rasulullah Saw. Makamnya sering diziarahi untuk tujuan tawasul dan tabaruk. Abu Ali al-Khallal adalah salah satu guru para ulama mazhab Hanbali.

Dalam Tarikh Baghdad (juz 1 hal 120), Abu Ali al-Khallal bercerita, “Setiap kali ada urusan penting dan aku datang ke makam Musa al-Kazhim bin Ja’far Shadiq, lalu bertawasul dengannya, pastilah Allah Swt. memudahkan urusan itu seperti yang kuinginkan.

4. Imam Syafi’i Berdoa di Makam Abu Hanifah

Dalam Tarikh Baghdad  (juz 1 hal 123) diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i berkata, “Sungguh aku bertabaruk dengan Abu Hanifah dengan cara berziarah ke makamnya. Bila ada hajat, maka aku salat dua rakaat lalu datang ke makamnya dan berdoa di sana. Tak lama hajatku pasti terkabul.”

5. Ibnu Hibban Berdoa di Makam Ali ar-Ridho

Imam Ibnu Hibban dalam kitab ats-Tsiqat (juz 8 hal 456) menceritakan bahwa ketika dirinya menghadapi kesulitan, maka ia selalu berziarah ke makam Ali ar-Ridha bin Musa al-Kazhim yang merupakan keturunan Rasulullah Saw. Beliau berdoa di sana dan kesulitan itu segera teratasi. Beliau tegaskan bahwa hal itu terjadi berkali-kali.

Baca juga:  Hati-Hati! Ini 5 Sunah yang Sering Dianggap Bidah

Prinsipnya, berkomunikasi dengan orang yang telah wafat itu sama halnya kita berbincang dengannya saat masih hidup. Mereka mendengar dan menjawab, namun kita tak mendengar mereka.

Saat kita mendoakan mereka, merekapun balas mendoakan kita sebagaimana keterangan tentang salam kepada ahli kubur. Bukankah salam adalah doa?

Sama juga saat kita minta tolong orang hidup untuk melakukan sesuatu, maka kepada orang saleh yang telah meninggal apalagi ulama kita juga bisa minta tolong. Tolong ikut mendoakan agar hajat kita segera terkabul.

Karena, sebagian hamba-hamba Allah memperoleh kemuliaan dari-Nya sehingga permohonan mereka lebih cepat dikabulkan.

Yang jelas, baik orang hidup atau mati sama-sama tak punya kuasa apapun. Semuanya atas izin Allah SWT. semata. Tauhidnya tuh di sini.

perbedaan tetaplah perbedaan. Tetapi tak selayaknya memaksakan hal yang dianggap benar dan menuding syirik pada yang beda pendapat, kalau yang berbeda itu memiliki dasar yang kuat.

%
Happy
100 %
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

One thought on “Ini Ulama yang Pernah Tawasul di Kuburan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close