Ini Alasan dan Solusi Ketika Anak Tidak Betah di Pesantren

  • 155
  •  
  •  
  •  
    155
    Shares

DatDut.Com – Tidak kerasan atau tidak betah di pesantren merupakan salah satu penyebab santri akhirnya minta orang tua agar menjemput pulang dan tidak mondok lagi. Kalau sudah begini orangtualah yang sedih.

Niatan untuk memiliki anak yang saleh dan lebih luas pengetahuan agamanya pupus sudah. Meskipun memang menuntut ilmu agama bisa saja di luar pesantren, tanpa mondok, namun menjadi santri pesantren tetap merupakan pilihan tepat.

Tidak betah atau tidak kerasan tidak hanya dialami santri baru. Santri lama pun sebenarnya banyak juga yang mengalami masa tidak kerasan. Bahkan kadang lebih menyiksa. Santri lama yang ngempet (menahan) tidak kerasan lalu menyalurkannya dengan berbagai kegiatan di luar kegiatan pokok pesantren, juga berpotensi menimbulkan tidak kerasan yang lebih parah. Ini sering terjadi.

Bagi orangtua yang memiliki buah hati sedang merasakan tidak betah atau tidak kerasan di pesantren, sebaiknya diteliti dulu. Apa alasan tidak kerasannya? Lalu haruskah boyong alias tidak mondok lagi? Benarkah itu solusi terbaik? Nah, mungkin 5 alasan berikut ini ada yang salah satunya menjadi sebab buah hati Anda tidak kerasan:

1. Jauh dari Orangtua

Jauh dari orangtua adalah alasan paling sering dilontarkan santri baru. Menangis adalah hal lumrah bagi santri baru. Bahkan karena sudah lumrahnya, sampai-sampi ada ungkapan, santri baru harus nangis dulu biar kerasan.

Baca juga:  Inilah 5 Keunikan Muhadharah (Dai Idol) ala Pesantren

Kalau ini yang jadi penyebab tidak kerasan lalu ingin berhenti mondok, cobalah baca dan dengarkan kisah dan cerita para ulama zaman dahulu. Bagaimana para imam mazhab menuntut ilmu, bagaimana para kiai nusantara mengarungi perjalanan jauh hanya berjalan kaki demi mondok, dan sebagainya.

Satu hal yang paling harus diingat, jauh dari rumah dan orangtua saat ini adalah dalam rangka membahagiakan orangtua. Memberi kebanggaan kepada mereka, dan juga agar mendapat keridhaan dan doa mereka.

Coba tanyakan pada mereka, lama manakah antara mondok dengan di rumah? Sejak kecil hinga usia remaja, lalu nanti setelah selesai mondok. Maka masa mondok tak seberapa lama jika dibanding kebersamaan mereka dengan orangtua.

2. Kelelahan Mengikuti Kegiatan

Masih jadi alasan santri baru, yaitu lelah mengikuti padatnya jadwal kegiatan di pesantren. Di pesantren-pesantren besar yang semi modern dan pesantren modern kegiatan memang sangat padat.

Mulai sebelum subuh hingga malam hari. Bahkan kadang pukul 24.00 baru pesantren benar-benar istirahat. Itu diluar kegiatan pribadi setelah pukul 24. Misalnya ngelembur hafalan, ngelembur belajar baca kitab dan sebagainya.

Baca juga:  Ini 5 Sikap Orangtua Santri yang Bisa Menyebabkan Anaknya Gagal di Pesantren

Proses adaptasi dengan lingkungan memang harus dijalani. Kalau memang fisik tidak memadai, tentu harus berani lapor pengurus, ustaz, agar mendapat keringanan. Periksa juga kegiatan pribadi buat hati Anda. Benarkah ia kelelahan mengikuti kegiatan pondok atau justru kelelahan karena melakukan kegiatan pribadi?

3. Pesantrennya Kurang Nyaman

Kurang nyaman, tidurnya gak pakai kasur, atau kasurnya gampang dibuat rebutan. Itu juga alasan santri baru. Itulah dunia pesantren. Keberhasilan yang dicapai para ulama dan para pembesar keilmuan Islam banyak yang berasal dari jalan berat.

Dikisahkan bahwa Imam Thabrani, pernah ditanya penyebab begitu banyaknya hadis yang ia riwayatkan. Beliau menjawab, “Aku tidur di tikar selama 30 tahun.”

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin