Ini 5 Sikap Toleransi yang Nabi Ajarkan pada Muslim

  • 81
  •  
  •  
  •  
    81
    Shares

DatDut.Com – Toleransi dalam negara Indonesia ini sudah tertanam sejak berabad-abad lalu. Nabi tidak pernah menyakiti, apalagi membunuh non-Muslim, hanya karena berbeda agama.

Buktinya, mertua Nabi dari istrinya Safiyah itu penganut Yahudi. Dia bernama Huyay bin Akhtab.

Tujuan toleransi terbesar adalah menjalin kasih sayang sesama pemeluk agama. Tuhan menjadikan kita bersuku, berbangsa, dan bertanah air itu untuk saling mengenal satu sama lain, bukan untuk bertikai.

Umat Muslim sebagai mayoritas di Indonesia seharusnya dapat mengayomi umat-umat agama lain yang minoritas. Begitupun sebaliknya, umat agama lain hendaknya menghormati umat Muslim.

Bila demikian, nilai-nilai kebudayaan di Indonesia, seperti tenggang rasa, santun, dan bineka tunggal ika, akan selalu tertanam dalam praktik keseharian setiap pemeluk agama.

Karenanya, kita perlu meneladani Nabi Saw. dalam bertoleransi antar sesama pemeluk agama. 5 hal di bawah ini mudah-mudahan mewakili sifat toleran yang dimiliki Nabi Saw. Berikut uraiannya:

1. Menghormati Jenazah Orang Yahudi

Terkadang saya menjumpai masyarakat awam, kota maupun desa, yang sangat membenci orang lain hanya karena berbeda agama.

Bahkan orang yang demikian enggan menerima makanan atau bingkisan dari tetangganya yang non-Muslim.

Padahal beberapa riwayat hadis menyebutkan bahwa Nabi Saw. pernah menerima hadiah dari Raja Mukaukis yang merupakan pembesar Kristen Koptik Mesir.

Lebih dari itu, saat Nabi sedang duduk dengan para sahabtanya, tiba-tiba rombongan orang lewat membawa jenazah Yahudi.

Secara spontan, Nabi pun berdiri hanya karena menghormati jenazah orang Yahudi yang lewat tadi.

Sahabat pun bingung, dan sedikit protes karena Nabi berdiri hanya untuk menghormati jenazah Yahudi itu. “Nabi, itu kan jenazah Yahudi. Kok Anda sampai berdiri seperti itu,” protes salah sahabat Nabi.

“Loh, dia juga kan sama-sama manusia seperti kita. Sesama manusia kita harus saling menghormati, walaupun dia beragama lain,” kurang lebih begitu jawab Nabi pada sahabat yang protes tadi.

Baca juga:  Haji Backpacker, Apa Hukumnya?

2. Non-Muslim Boleh Masuk Masjid

Pada tahun 2010, Obama dan istri mengunjungi Indonesia. Mereka berdua menyempatkan diri mampir ke Masjid Istiqlal.

Saat itu, keduanya disambut dan diajak melihat-lihat oleh mantan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub. Tindakan tersebut menuai protes masyarakat yang tidak mengerti arti toleransi, di antaranya Hizbut Tahrir Indonesia.

Dalam situsnya, HTI merilis berita dengan judul “Jangan Nodai Masjid Istiqlal dengan Menerima Presiden Negara Penjajah”.

Ulama pakar Hadis Indonesia ini tidak sungkan dan menerima dengan senang hati kedatangan Obama dan istri ke Masjid Istiqlal.

Menurut Badrudin al-‘Aini dalam ‘Umdatul Qari, Imam Syafi’i berpendapat bahwa non-Muslim (dzimmi atau harbi) boleh masuk Masjidil Haram dan tanah Mekah.

3. Mengucapkan Salam pada Non-Muslim

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim menyatakan tidak boleh mendahului memberikan salam, assalamu ‘alaikum, pada non-Muslim.

Namun sikap tersebut tidak membuatnya abai pada pendapat-pendapat ulama yang membolehkan mendahului salam pada non-Muslim.

Menurut  Al-Baihaqi, yang dikutip oleh Imam Nawawi, sahabat Nabi yang bernama Abu Umamah selalu mendahului memberikan salam pada non-Muslim.

Menurut Abu Umamah, salam kita pada sesama Muslim itu bentuk penghormatan (tahiyyah), sementara salam kita pada non-Muslim (ahli dzimmah) itu untuk menjaga ketentraman dengan mereka (aman).

Selain itu, Imam Nawawi juga menyebutkan bahwa Imam at-Thabari membolehkan mendahului memberi salam pada non-Muslim ketika ada alasan yang dibenarkan, seperti adanya hubungan kekerabatan, tetangga, rekan kerja, dan lain sebagainya.

Pendapat di atas mengomentari hadis Nabi terkait mengucapkan salam pada non-Muslim.

4. Tidak Membunuh Tawanan Perang

Alkisah, saat itu sedang terjadi perang antara umat Islam dan orang-orang kafir harbi. Para prajurit Nabi berhasil menawan Tusmamah saat mereka berada di Najd.

Tsumamah itu merupakan pembesar Arab Jahiliyah, Bani Hanifah dari Yamamah. Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk memperlakukan Tsumamah dengan baik. Setiap hari Tsumamah rutin diberikan makanan-makanan yang enak dan bergizi.

Baca juga:  Dilema di Malam Jumat, Baca Yasin atau Al-Kahfi

Saat Nabi menemuinya, Tsumamah pun pasrah, namun sesekali Tsumamah coba menawarkan tebusan berapapun yang Nabi inginkan. Dan, Nabi pun tidak ada niatan sedikit pun untuk membunuhnya.

Hidayah Allah pun akhirnya jatuh di hati Tsumamah berkat sikap lemah lembut yang Nabi perlihatkan pada Tsumamah. Kurang lebih begitu Imam Bukhari meriwayatkan hadis.

5. Bersedekah pada Non-Muslim

“Orang yang memiliki kepedulian dan kasih sayang pada sesama pasti akan disayang Tuhan Yang Mahas Kasih. Karenanya, sayangilah semua makhluk Tuhan di muka bumi ini, dan kalian akan merasakan dikasihi makhluk Tuhan di langit sana.”

Kurang lebih begitu bunyi salah satu hadis Nabi Saw. Bila rasa cinta dan kasih sayang atas nama kemanusian, tentu kita tidak akan pilah-pilih memberikan sebagian harta kita untuk disedekahkan pada orang-orang yang tidak mampu, sekalipun agamanya berbeda dengan kita.

Dan, jangan sekali-kali memberikan dengan tujuan orang yang kita beri itu agar masuk Islam. Nabi saja pernah ditegur Allah karena memberikan sesuatu pada non-Muslim agar orang yang berkaitan masuk Islam.

Masuk Islam atau tidaknya seseorang, itu bukan urusan kita, tapi urusan Allah. Tugas kita sebagai manusia hanyalah berbuat baik atas nama kemanusian.

 

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    81
    Shares
  • 81
  •  
  •  
Close