Ini 5 Perjalanan Hidup Abuya Dimyati Banten yang Perlu Diteladani

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Abuya Dimyati merupakan sosok ulama kharismatik Banten. Hampir semua santri di Banten atau bahkan Jawa mengenal kebesaran nama beliau. Abuya lahir dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sebagian sumber menyebutkan bahwa beliau lahir sekitar tahun 1925-an. Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa beliau lahir pada 1919-an. Ulama Cidahu, Banten ini, penganut dua tarekat muktabar, yaitu tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah, dan tarekat Syadziliyah.

Abuya Dimyati wafat pada malam Jumat Pahing, 3 Oktober 2003. Tentunya beliau mewariskan banyak teladan untuk santri, kiai, dan masyarakat pada umumnya. Murtadho Hadi dalam bukunya, Jejak Spritual Abuya Dimyathi, mengurai sepak terjang kehidupan Abuya yang ditempuh sejak muda hingga wafatnya. Nah, 5 perjalanan hidup di bawah ini yang disarikan dari buku tersebut patut ditiru oleh siapa pun yang membaca secuil perjalanan hidup Abuya. Berikut uraiannya:

1. Thariqah Mengaji dan Jamaah 

Mengaji dan salat berjamaah merupakan kebiasaan kiai dan para santrinya di pesantren. Jika ingin pandai, maka rajinlah mengaji. Pandai saja tidak cukup. Buat apa pandai bila kepandaiannya tidak dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, para kiai selalu menganjurkan para santrinya untuk salat berjamaah agar menjadi santri pandai yang baik. Bukan santri pandai yang menyalahgunakan ilmunya. Dalam bahasa Sunda, Abuya Dimyati sering berpesan, “Thariqah aing mah ngaji” ‘tarekat saya mah mengaji’.

Menurut Abuya, kemiskinan dan usia tidak menjadi alasan untuk menuntut ilmu sampai meninggal. Perkataan beliau itu dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari bersama santrinya. Hidup beliau hanya diabdikan untuk mengajar santri, melayani tamu yang berkunjung, dan mendidik anak. Sebelum wafat, Abuya Dimyati pernah membuka pengajian kitab tafsir at-Thabari yang tebal berjilid-jilid hingga khatam. Waktu pengajiannya pun dilaksanakan pada malam hari, dari pukul 22.00 hingga 02.30 tanpa istirahat.

Baca juga:  Meneladani Akhlak K.H. Zaini Mun’im, Pendiri Ponpes Nurul Jadid Paiton

2. Mendidik Putra-putrinya Sendiri

Tidak seperti kebanyakan kiai pada umumnya yang menitipkan anaknya di pesantren kiai lain. Abuya Dimyati justru mendidik anaknya dengan didikannya sendiri. Bahkan kesembilan anaknya semuanya hafal Alquran. Selain itu, Abuya juga memperlakukan anaknya seperti santri pada umumnya. Mewajibkan mereka salat jamaah, dan mengaji bareng bersama santri.

Jika anak-anaknya belum datang menuju musala untuk berjamaah, Abuya sabar untuk menunggu mereka agar berjamaah bersama beliau. Kedisiplinan yang diterapkan Abuya Dimyati semata-mata mengamalkan firman Allah Swt., “Orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga dari api neraka,” (QS at-Tahrim [66]: 6). Jadi beliau benar-benar menerapkan ayat ini untuk diri pribadi dan keluarga beliau.

3. Memilih Dipenjara

Pada masa orde baru, kira-kira tahun 70-an, Abuya Dimyati pernah difitnah dan dijebloskan dalam penjara. Pengadilan memutuskan bahwa Abuya Dimyati dikenai hukuman penjara selama tujuh bulan. Hal ini tentu menuai amarah para jawara-jawara Banten yang siap melawan orang-orang yang telah menzalimi beliau. Karena kesabaran dan ketawakalan, Abuya tetap memilih dalam penjara sesuai putusan hakim selama tujuh bulan.

Keadaannya dalam penjara tidak membuatnya meninggalkan istikamah ibadah-ibadahnya yang biasa dilakukan. Konon, karena karamah yang beliau miliki, pengajian rutinitas yang biasa dilaksanaka di pesantren tetap berjalan seperti biasanya. Artinya, jasad beliau dapat terbagi menjadi dua, bahkan lebih. Wallahu’alam.

4. Hafal Alquran dalam Waktu Singkat

Abuya Dimyati menghafal Alquran pada Mbah Dalhar Watucongol, Magelang, Jawa Tengah hanya dalam waktu enam bulan. Namun perlu diketahui bahwa sebelum menghafal Alquran yang dalam waktu singkat itu, Abuya menerapkan membaca Alquran satu hari satu kali khataman, dan ini diulang-ulang sampai kurang lebih 4 bulan.

Baca juga:  Siapakah Bahrun Naim, Otak Intelektual Teror Bom Sarinah? Ini 5 Penjelasannya

Jadi sebelum menghafal, Mbah Dalhar menganjurkan Abuya muda untuk membaca Alquran sesering mungkin terlebih dulu, sehingga bacaan Alquran melekat kuat di hati dan lisan. Ini juga yang dilakukan Kiai Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Bahkan beliau melakukan satu hari khatam Alquran itu selama tiga tahun.

5. Berguru Kebanyak Ulama

Memperbanyak guru berarti sama saja kita memperbanyak jalur keilmuan yang dalam tradisi Ilmu Hadis dilakukan oleh para perawi-perawi Hadis. Hal ini pula dilakukan oleh para ulama Nusantara waktu itu. Abuya Dimyati pun demikian. Beliau berguru pada puluhan ulama di Jawa, dan bahkan di luar Jawa.

Beberapa ulama yang pernah disinggahi Abuya Dimyati di antaranya Kiai Abdul Halim Kalahan Banten, Mama Sempur Purwakarta, Kiai Ma’shum dan Kiai Baidhawi Lasem, dan lain sebagainya. Semakin banyak memiliki guru berkualitas, wawasan pun akan semakin luas. Tentu hal ini dapat membantu menjawab dan menghadapi problematika sosial-kemasyarakatan yang akan dihadapi oleh setiap penuntut ilmu.

harisPenulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Kharish

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
Close