Ini Sikap, Pandangan, dan Penjelasan Said Aqil Siradj Soal Ucapan Selamat Natal

0 0
  • 725
  •  
  •  
  •  
    725
    Shares

Dibaca: 3159

Waktu Baca2 Menit, 56 Detik

DatDut.Com – Ucapan Selamat Natal yang dilontarkan umat Muslim untuk umat Kristen selalu menjadi perbincangan hangat di bulan Desember. Pro dan kontra selalu bergulir setiap tahunnya. Ini mungkin salah satu faktor sulitnya umat Islam berkembang, karena selalu memperdebatkan permasalahan yang sudah usang (Baca: Inilah 5 Fenomena Tahunan yang Selalu Hangat Diperdebatkan Umat Islam Indonesia).

Sebelumnya, Datdut.com telah merilis pendapat M. Quraish Shihab terkait bolehnya mengucapkan Selamat Natal untuk umat Kristiani (Baca: Ucapan Selamat Natal pada Non-Muslim Boleh, Ini 5 Pandangan M.Quraish Shihab).

Kali ini Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (2015-2020), Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, menyatakan pendapatnya terkait bolehnya mengucapkan Selamat Natal untuk pemeluk agama Kristen. Pendapatnya ini, disarikan dari fanpage resminya. Berikut 5 penjelasannya:

1. Sama dengan Ucapan Selamat Ulang Tahun

Menurut Said Aqil, mengucapkan “Selamat Natal” itu ucapan selamat biasa sebagaimana kita mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” pada teman.

Pria yang pernah nyantri di Lirboyo ini mengutip riwayat Ibnu Ishak, “Suatu hari orang-orang Arab Quraish mendatangi Nabi Muhammad. Mereka bertanya, ‘Wahai Muhammad, bagaimana bila kita bekerja-sama dalam ibadah? Kami akan menyembah yang kau sembah, tapi kau juga menyembah yang kami sembah.'”

Lalu, turunlah firman Allah, لَكُم دينُكُم وَلِيَ دينِ, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku,” (QS Al-Kafirun [109]: 6). Ini adalah Asbabun Nuzul (sebab turun ayat) pada surah Al-Kafirun ini, yang ditujukan kepada Arab Quraish yang mengajak menyatukan agama.

Baca juga:  Makna Kunjungan Prof. Quraish Shihab ke Berbagai Pesantren bagi Bangsa Ini

“Apakah mengucapkan “Selamat Natal”, artinya kita menyatukan agama Islam dan Kristiani? Ucapan selamat tak lebih dari adab santun tidak ada bedanya dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun”, atau “Selamat Menempuh Hidup Baru” bagi pasangan baru menikah, atau saat mendengar istri kawan baru hamil,” tegas Ketua Umum PBNU ini.

2. Tidak Ada Kaitan dengan Akidah

Kiai asal Kempek, Cirebon ini, menegaskan bahwa ucapan Selamat Natal tidak ada kaitannya sama sekali dengan akidah. “Masalahnya di mana? Tidak ada urusannya dengan akidah, hanya adab berbagi bahagia, tidak kurang tidak lebih, karena kita manusia, bukan binatang,” sindir Said.

Menurutnya, menggunakan al-Kafirun yang ditujukan kepada Arab Quraish karena mengajak menyatukanN agama untuk mengharamkan “Selamat Natal” jelas Jaka Sembung Bawa Golok!

3. Islam Agama yang Menyempurnakan Agama Sebelumnya

Menurut Aqil Siradj, syahadat Islam itu asyhadu an lailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Selain itu, dia juga menegaskan alasan mengapa harus ada kalimat “dan Muhammad utusan Allah”. Menurutnya, hal tersebut karena Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw.

“Apa boleh syahadat ‘dan Musa utusan Allah’? Apa boleh syahadat ‘dan Isa utusan Allah’? Mengapa harus ‘dan Muhammad utusan Allah?’ tanyanya menggoda. “Alquran (Islam) mukzizat Muhammad. Islam turun kepada Nabi Muhammad menyempurnakan agama-agama yang sudah turun sebelum Islam,” imbuhnya.

4. Tradisi Taurat dan Injil

Beberapa pernyataannya menyatakan bahwa ada beberapa ajaran agama Yudaisme (Taurat), agama Nasrani (Injil) yang diadopsi Islam. Menurutnya, cadar adalah tradisi Yudaisme, sunat adalah tradisi Yudaisme, hijab adalah tradisi Kristiani.

Baca juga:  Pemuda Jambi Ini Jadi Juri Bersama Pendiri Google dan Whatsapp di Ajang Internasional

Cadar, sunat, hijab adalah tradisi agama Yudaisme dan Kristiani yang sudah dilakukan oleh bangsa Yahudi (Bani Israil) dan umat Nasrani jauh sebelum Islam turun kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya.

5. Tidak Tepat Gunakan Hadis

Sebagian kalangan memakasakan hadis man tasyabbah bi qaumin fahuwa minhum untuk mengharamkan ucapan “Selamat Natal” itu keliru. Menurut pria yang suka humor ini, bila memaksakan dalil “barang siapa menyerupai suatu kaum, maka ia akan menjadi kaum tersebut”, maka bercadar jadi Yahudi, disunat jadi Yahudi, berhijab jadi Kristen.

“Berdasarkan kajian inilah ulama-ulama Besar Indonesia yang bergelar profesor doktor yang pasti pintar dan menguasai ilmu Islam yang luhur, menetapkan umat Muslim boleh mengucapkan “Selamat Natal”,” pungkasnya menegaskan.

 

Happy
Happy
100 %
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Redaksi
  • 725
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *