Ini 5 Pejabat Zaman Dulu yang Hidup dalam Kesederhanaan

  • 7
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

DatDut.Com – Di tengah maraknya perbuatan korupsi yang dilakukan para pejabat negara, saya yakin masyarakat Indonesia rindu sosok pejabat negara yang sederhana, tegas, dan kharismatik.

Maraknya perbuatan korupsi yang dilakukan para pejabat bisa jadi karena gaya hidup mereka yang berlebihan.

Selain itu, orientasi dan niat pejabat yang terlibat korupsi bukan lagi untuk membangun bangsa Indonesia ini menjadi bangsa yang ditakuti dan disegani dunia internasional.

Ambisi para koruptor itu pasti ingin menguasai kekayaan Indonesia sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan orang-orang terdekatnya.

Nah, mungkin 5 pejabat zaman dulu ini dapat memuaskan kerinduan masyarakat Indonesia pada sosok pemimpin-pemimpin yang sederhana, seperti disarikan dari Biografiku.com dan Anakregular.com

1. Bung Hatta

Kesederhanaan sosok Bung Hatta tercatat dalam sejarah. Konon, saat Bung Hatta menjabat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia merasa kangen dengan ibunya yang berada di Sumedang, Jawa Barat.

Saat itu Indonesia masih mengenal sistem perdana menteri. Sebagai pejabat negara, tentu Bung Hatta berhak menggunakan mobil negara untuk menemui ibunya di Sumedang.

Namun faktanya tidak demikian. Bung Hatta justru meminjam mobil keponakannya, Hasjim Ning, yang merupakan seorang pengusaha.

Bung Hatta merasa bahwa penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga merupakan sebuah penyelewengan wewenang. Hal ini tentu sangat dihindari para pemimpin yang tidak haus akan jabatan dan harta.

2. Agus Salim

Siapa yang tidak kenal sosok Agus Salim? Pria kelahiran Agam, Sumatera Barat ini, pandai Sembilan bahasa, baik lisan maupun tulisan.

Baca juga:  Ini Bukti Habib Rizieq Tegas Tanpa Pandang Bulu dalam Membela Islam dan Melawan Kezaliman

Pria kelahiran 1884 ini, pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia. Saat itu keadaan ekonominya terbilang miskin untuk sekelas menteri.

Tempat tinggalnya tidak layak untuk ukuran menteri saat itu. Agus Salim tinggal di pelosok gang yang sulit dijangkau.

Dalam keadaan rumah yang pelosok seperti itu, Agus Salim tetap memilih tinggal di rumahnya tersebut. Bahkan dia enggan untuk pindah.

Konon untuk mengurangi kejenuhan tinggal di rumahnya itu, dia suka memodifikasi tata letak perabotan rumahnya setiap enam bulan sekali.

Agus Salim berprinsip bahwa leiden is lijden, memimpin itu menderita. Artinya, menjadi pemimpin itu harus mau menjadi “orang susah”, bukan untuk mencari fasilitas negara yang serba enak dan terjamin.

3. Hoegeng

Hoegeng memiliki nama panjang Hoegeng Iman Santoso. Pria kelahiran Pekalongan ini, terkenal sebagai polisi yang sangat jujur. Sejak kecil ayah Hoegeng mendidiknya dalam kesederhanaan.

Saat dirinya masih kecil, ayahnya tidak memiliki rumah pribadi untuk tempat tinggal keluarganya.

Sehingga, dia pernah mengalami beberapa kali pindah kontrakan. Padahal, saat itu ayahnya adalah pegawai Hindia Belanda yang tergolong ningrat pada waktu itu

Kesederhanaan yang diajarkan ayahnya ini, menjadi barometer kehidupannya di masa mendatang. Saat dirinya menjabat menjadi menteri, dia menolak fasilitas yang berlebihan.

Dia diberikan dua mobil negara. Mobil pertama untuk dinas, dan mobil yang satu lagi untuk keluarganya.

4. Mohammad Natsir

Pria kelahiran Solok, Sumatera Barat ini, pernah menjabat sebagai Menteri Penerangan (1946), dan Perdana Menteri Indonesia (1950-1951).

Baca juga:  5 Guru Ibnu Athaillah (Penulis Al-Hikam)

Di tengah-tengah menjabat sebagai menteri, harta berharga satu-satunya adalah mobil De Soto yang sudah tua. Itu pun mobil hasil jerih payahnya menabung, bukan mobil fasilitas negara.

Suatu ketika, ada tamu yang datang ke rumah Natsir untuk memberikan mobil yang lebih mewah, Chevrolet Impala.

Dengan kerendahan hati, Natsir menolak pemberian tersebut. Yang lebih menyedihkan lagi, Natsir baru memiliki rumah pribadi saat dia baru menjabat sebagai Menteri Penerangan.

5. Sudirman

Cinta Sudirman pada tanah air melebihi dari sebuah arti kesederhanaan. Pada usianya yang ke-31, pria kelahiran Purbalingga ini, telah memiliki gelar jendral.

Meski mengalami sakit paru-paru yang cukup parah, namun dia tetap memaksakan diri untuk perang melawan Belanda, walaupun dalam keadaan ditandu para prajurit.

Bayangkan, dalam keadaan seperti itu, Jenderal Sudirman masih sempat memikirkan negara yang sedang dijajah musuh.

Inilah kisah-kisah para petinggi negara Indonesia zaman dulu yang patut kita jadikan teladan jika suatu saat nanti diamanahi menjadi pejabat negara.

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    7
    Shares
  • 7
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *