Ini 5 Muslim Pemenang Hadiah Nobel

  • 10
  •  
  •  
  •  
    10
    Shares

DatDut.Com – Penghargaan Nobel dianugerahkan setiap tahun kepada mereka yang telah melakukan penelitian yang luar biasa, menemukan teknik atau peralatan yang baru atau telah melakukan kontribusi luar biasa ke masyarakat.

Hal ini saat ini dianggap sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang mempunyai jasa besar terhadap dunia. Penghargaan Nobel pertama kali diberikan berdasarkan wasiat Alfred Nobel.

Dia menginginkan agar penghargaan Nobel diberikan kepada mereka yang berjasa besar terhadap kemanusiaan. Dari keseluruhan pemenang hadiah Nobel sejak pertama kali diumumkan pada tahun 1901 sampai sekarang, ada beberapa Muslim yang turut serta memenangkannya, antara lain:

1. Abdus Salam (Fisika)

Prof. Abdus Salam merupakan fisikawan muslim terbaik abad 21. Gelar Ph.D. diraihnya pada usia 26 tahun untuk fisika teori dari University of Cambrigde dengan disertasi tentang elektrodinamika kuantum.

Disertasi ini dipublikasikan tahun 1951 dan membuatnya terkenal serta bereputasi internasional. Pada tahun 1957, beliau menjadi profesor bidang fisika teori di Imperial College, London.

Bersama dengan Sheldon Lee Glashow dan Steven Weinberg, Prof. Abdus Salam mendapatkan Nobel Fisika tahun 1979 untuk kontribusinya dalam menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah yang dinamakan teori elektrolemah (electroweak theory).

Teori ini menjadi pijakan pengembangan teori penyatuan maha agung (grand unification theory) dengan menyatukannya dengan gaya inti (gaya kuat). Dalam perkembangannya teori ini menjadi inti penting dalam pengembangan model standar (standard model) fisika partikel.

Prof. Abdus Salam wafat pada tanggal 21 November 1996 di Oxford, Inggris dalam usia 70 tahun. Beliau dimakamkan di tanah air yang amat dicintainya di Rabwah, Pakistan.

2. Ahmed Hassan Zewail (Kimia)

Dr. Ahmed Hassan Zewail adalah seorang pakar sains asal Mesir yang telah memenangkan hadiah Nobel 1999 dalam bidang Kimia.

Dr. Zewail merupakan ilmuwan Muslim kedua (setelah Prof. Abdus Salam dari Pakistan) yang menerima penghargaan Nobel dalam bidang sains karena jasanya menemukan femtokimia, studi mengenai reaksi kimia melintasi femtoseconds.

Menggunakan teknik laser ultracepat (terdiri dari cahaya laser ultrapendek), teknik ini memberikan deskripsi reaksi pada tingkat atom. Dapat dilihat sebagai bentuk kehebatan tinggi dari cahaya fotografi.

Baca juga:  5 Ratu Terpenting dalam Sejarah Umat Manusia

Perlu diketahui, orangtua Dr. Zewail begitu mengharapkannya menjadi seorang profesor kelak saat sudah dewasa. Malah sejak kecil, orang tuanya telah meletakkan tanda nama “Dr. Ahmed” di bilik bacaannya.

Kini beliau menetap di San Marino, California dan memegang 2 jabatan profesor di Caltech yaitu Profesor Fisika dan Kimia.

3. Naguib Mahfouz (Sastra)

Nama Naguib Mahfouz adalah salah satu kebanggaan warga Mesir. Sastrawan terkemuka ini meraih Nobel Sastra pada 1988. Naguib Mahfouz pula muslim pertama yang meraih Nobel Sastra.

Karya-karya Naguib Mahfouz antara lain sebagai berikut: Rhadopis of Nubia (1934), Struggle Tyba (1944), Modern Kairo (1945),  Khan al-Khalili (1945), Midaq Hallway (1947), Fatamorgana, Start, and End (1950), Trilogy Kairo; Hallway Palace (1956), Palace of Desire (1957), Sugar Path (1957), Child of Gebelawi (1959) dan masih banyak lagi.

Konsistensi Mahfouz dalam  menghasilkan karya dan perhatiannya pada isu-isu sosial politik menarik perhatian panitia Nobel dari Swedia, Swedish Academy. Pada tanggal 13 Oktober 1988, Akademi Sastra Internasional menobatkan Mahfouz sebagai penerima Nobel di bidang sastra.

Hal ini merupakan momen penting pengakuan dunia internasional terhadap karya sastra Arab. Pada Juli 2006, beliau mengalami kecelakaan di kepala karena terjatuh dan beliau pun menderita sakit hingga hari wafatnya, yakni pada 30 Agustus 2006 di Cairo Hospital. Beliau dimakamkan secara militer pada keesokan harinya.

4. Yasser Arafat (Perdamaian)

Yasser Arafat adalah Pejuang kemerdekaan Palestina, Pendiri Al-Fattah, Pimpinan PLO (Palestina Liberation Organization) dan pada 1994 terpilih menjadi Presiden Otoritas Nasional Palestina.

Di tahun 1993 beliau membawa PLO pada perjanjian keamanan di Oslo (Norwegia) bersama Israel yang diwakili oleh perdana menterinya yang waktu itu dijabat oleh Yitzhak Rabin.

Kesepakatan Oslo menegaskan bahwa PLO akan menghentikan kekerasan perlawanan terhadap Israel, dan Israel menghentikan tindakan represif terhadap Palestina.

Baca juga:  Meski Dikenal sebagai Tokoh Kontroversial, Ini 5 Hal tentang Musdah Mulia yang Tak Banyak Orang Tahu

Israel harus menarik mundur seluruh pasukannya dari Jalur Gaza dan Tepi Barat untuk dibentuk pemerintahan otoritas Palestina di kawasan tersebut.

Sementara itu, menurut Deklarasi Utama (Declaration of Principles), Israel harus mulai mundur dari tempat-tempat yang didudukinya. Sebagai imbalannya, PLO setuju untuk mematuhi resolusi PBB yang mengakui keberadaan Israel, di samping menggalakkan kesematan dan keamanan yang berkepanjangan antara masyarakat Arab dan Yahudi di wilayah yang bergejolak.

Atas usaha-usaha itulah Yasser Arafat, Rabin, dan Shimon Peres dipilih secara bersama-sama menerima hadiah Nobel Keamanan pada tahun 1994. Yasser Arafat meninggal dunia pada tanggal 11 November 2004, dalam usia 75 tahun.

Jenazahnya kemudian diterbangkan dari Paris ke Kairo untuk diadakan upacara guna memberikan penghormatan terakhir  baginya. Selesai upacara yang dihadiri banyak pejabat asing tersebut jenazah Arafat diterbangkan ke Ramallah untuk dimakamkan di kuburan dekat markasnya.

5. Muhammad Yunus (Perdamaian)

Muhammad Yunus adalah seorang ekonom Bangladesh dan pendiri Grameen Bank, sebuah lembaga yang menyediakan kredit mikro (kredit kecil untuk rakyat miskin yang memiliki jaminan tidak) untuk membantu klien membangun kredit dan keuangan swasembada.

Beliau juga adalah seorang profesor ekonomi di Chittagong University, temapt di mana beliau mengembangkan konsep kredit mikro dan keuangan mikro.

Pinjaman ini diberikan kepada pengusaha terlalu miskin untuk memenuhi syarat untuk kredit bank tradisional. Pada tahun 2006 Yunus dan Grameen menerima Hadiah Nobel Perdamaian “untuk usaha mereka melalui kredit mikro untuk menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari bawah”.

Komentar

Hamim Tohari

Hamim Tohari

Mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Gadjah Mada asal Pasuruan.
Hamim Tohari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *