Ini 5 Keunggulan Bahtsul Masail (Musyawarah) Ala Santri

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Kata Bahtsul Masail (BM) sangat akrab di telinga santri pesantren. Terutama yang berbasis NU. Bahtsul masail secara bahasa artinya penelitian terhadap permasalahan. Tujuannya adalah menjawab masalah-masalah keagamaan. Musyawarah dengan metode ini telah diterapkan NU sejak lama. Tradisi keilmuan yang kuat dan merujuk pada kitab-kitab muktabar membuat hasil keputusan suatu bahtsul masail sangat berbobot.

Berbeda dengan diskusi ala kampus, diskusi ala pesantren bisa dikatakan lebih berbobot dan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Berbobot karena sistem pengambilan keputusan melalui debat yang rumit dan alot. Lebih bisa dipertanggungjawabkan karena diawasi oleh kiai atau alim yang berkompeten. Lebih jelasnya inilah 5 keunggulan BM.

1. Referensi Terpilih

Santri yang menekuni diskusi ala BM terlatih untuk menjawab berbagai kasus keagamaan dengan referensi kitab-kitab ulama salaf terpilih (muktabar). Tradisi ini ditanamkan dari tingkat sangat dasar.

Misalnya sekedar musyawarah setingkat kelas, maka refrensi atau dalam bahasa pesantrennya ta’bir, harus benar-benar diambil dari kitab kuning. Kitab-kitab karya ulama kontemporer sangat jarang dijadikan rujukan.

Di masa sekarang santri juga ditekankan untuk tidak tergantung pada teknologi dalam mencari referensi. Saat ini memang telah banyak software yang memuat sekian banyak kitab. Namun adakalanya software tersebut tercampur dengan kitab-kitab yang kurang disukai oleh kalangan pesantren. Sehingga software sejenis Maktabah Syamilah hanya sekadar untuk memudahkan pengetikan referensi saja.

2. Diskusi Sehat

Diskusi ala BM selalu menampilkan suasana panas dan seru. Kalau saja orang yang enggan diskusi melihat suasana ini, niscaya mereka akan berpaling dan berkata, “Agama kok didebat-debatkan.” Dalam diskusi itu tak jarang ada saling ledek ala santri yang pasti membuat panas telinga orang yang belum pernah mondok.

Asal tahu saja, suasana panas mempertahankan pendapat itu akan sirna begitu acara usai. Mereka saling bersalaman, sama-sama mencium tangan kiai yang menjadi mushahih, salaman hangat dengan pemimpin diskusi (moderator) maupun ustad dan kiai yang menjadi perumus pendapat atau muharir.

Di sinilah suasana diskusi sehat itu tampak. Diskusi sehat bertujuan untuk mencari kebenaran dan menghargai perbedaan yang ada. Meskipun ketika dalam proses, perbedaan pendapat kadang menjadi bahan untuk menggojlok peserta tetapi begitu usai, semuanya akan menerima keputusan yang telah disahihkan. Diskusi untuk mencari kebenaran memang beda sekali dengan diskusi dan debat untuk mencari kemenangan.

Baca juga:  Ini 5 Fenomena Unik nan Langka di Pesantren Salaf

3. Pengawasan dari pakar

Diskusi BM selalu menghadirkan para kiai atau ustad di posisi perumus, kadang disebut muharir dan mushahih. Perumus tugasnya adalah mengarahkan argumen-argumen peserta agar lebih mengerucut ke masalah. Perumus mulai bersuara ketika suasana debat kian memanas dan rumit. Saat itu biasanya moderator memberi waktu kepada perumus untuk memberi pencerahan.

Tugas seorang mushahih adalah mengikuti perdebatan kemudian memberikan pertimbangan keputusan dan akhirnya mengesahkan keputusan bersama itu berdasarkan pada referensi yang paling kuat.

Untuk BM setingkat FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren) tak sembarang kiai bisa berposisi sebagai mushahih. Hanya kiai aktivis BM yang mumpuni saja bisa menempati posisi ini.

Meskipun melalui proses rumit, para kiai dan santri aktivis BM tak mau menyebut keputusan BM sebagai sebuah fatwa. Mereka mengakui dan menyadari kemampuan mereka tidaklah pantas mengeluarkan fatwa.

Kata fatwa dalam bahasa Arab literatur fikih memang sangat sakral. Seorang mufti haruslah orang yang layak menjadi mujtahid. Menyadari hal ini, maka hasil BM dikatakan sebagai keputusan yang fungsinya menyampaikan perkataan ulama dalam kitab-kitab klasik.

4. Suasana yang Segar

Selain suasana panas dengan saling ledek, BM juga sering diselingi gelak tawa. Humor segar bisa tiba-tiba dilontarkan oleh peserta maupun moderator. Bahan, humor bisa dari pendapat sebagian peserta yang dianggap konyol ataupun dari gojlokan (ledekan) dan olok-olok.

Misalnya ketika seorang peserta membacakan ta’bir yang oleh peserta lain dinilai tidak nyambung dengan permasalahan, tiba-tiba peserta lain tersebut menyela dengan ucapan, “Ta’bir sampean itu benar, tetapi tak pas untuk masalah ini,” atau “Mas, kalau mau belajar baca jangan di sini.”

Baca juga:  Bukan Sarang Teroris, Ini 5 Kelebihan dan Kekhasan Pesantren Modern

5. Mental Baja

Para peserta BM rata-rata bermental baja. Berani menentang pendapat yang berbeda dari pemahamannya. Bahkan, kalau seorang kiai mushahih dianggap belum pas memutuskan suatu masalah, tak jarang peserta masih membantahnya. Mental baja juga diperlukan ketika si peserta menjadi sasaran gojlokan peserta lain. Tak boleh marah.

Dalam tradisi pesantren, seroang kiai atau alim sangatlah tabu untuk didebat. Tetapi kalau sudah dalam forum BM, santri berani menentang kiai yang pendapatnya dianggap kurang pas. Kebiasaan berani membantah dan berlapang dada ketika dibantah ini tertanam dalam jiwa santri aktivis BM.

Perlahan, hal tersebut dapat melahirkan sikap tawadu atau rendah hati. Tidak anti terhadap kritikan sepedas apa pun. Seorang kiai yang dulunya aktif berdiskusi akan lebih mudah menerima bantahan dari orang lain.

Kata hikmah Imam Syafii “pendapatku benar tetapi mungkin bisa salah, dan pendapat orang lain bisa saja salah tetapi masih mungkin benar”, benar-benar mereka amalkan.

nasrudin maimun

Kontributor : Nasrudin | Penggemar martabak dan bakso

FB: Nasrudin El-Maimun

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

One thought on “Ini 5 Keunggulan Bahtsul Masail (Musyawarah) Ala Santri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close