Ini 5 Karamah K.H. Muhammad Hasyim Zaini, Pengasuh Nurul Jadid Paiton

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Like father like son. Kalau kemarin saya telah menuliskan 5 kelebihan K.H. Zaini Mun’im, maka kali ini izinkan saya menyajikan 5 karomah putra pertama beliau, K.H. Muh. Hasyim Zaini (w. 1984). Berkat kealiman dan ke-wara-an sang abah, lahirlah keturunan yang tidak jauh berbeda dengan orangtuanya, bahkan bisa jadi lebih alim dan lebih wara.

Meskipun saya tidak menangi (menemui) masa hidup beliau, namun beredar di kalangan santri, uswah dan cerita kepribadian beliau yang sangat lembut dan santun, ditambah lagi cerita-cerita seputar ke-karamahannya yang secara akal sulit dipercaya. Beliau menjadi pengasuh kedua PP Nurul Jadid, menggantikan abahnya sejak tahun 1976-1984.

Oh ya, boleh jadi penamaan Hasyim Zaini disebabkan sang abah terpesona kepada keluhuran kepribadian Sang Kiai (Hasyim Asy’ari), guru beliau waktu di Tebuireng yang menjulukinya dengan Zaini Al-Khalisi. Rupanya beliau ingin menyandingkan nama gurunya dengan nama pribadinya untuk putra pertamanya, K.H. Muhammad Hasyim Zaini. Wallahu A’lam. Berikut 5 karamah K.H. Hasyim Zaini tersebut:

1. Diantar Mbah Saleh

Ratib, salah satu santri Kiai Hasyim, mengkisahkan suatu ketika ia diajak Kiai Hasyim ziarah ke makam Sunan Ampel di Surabaya. Setelah beberapa waktu di Sunan Ampel, Kiai Hasyim meminta Ratib untuk pulang duluan. Sebelum pulang, Kiai Hasyim memberinya ongkos untuk pulang. Setelah mohon diri, Ratib segera pulang. Sesampainya di halaman PP. Nurul Jadid, Ratib tiba-tiba terkejut, sebab dia mendengar suara Kiai Hasyim tengah mengajar santri-santrinya di Musala Riyadus Solihin.

Karena penasaran, ia segera meluncur ke musala, ternyata benar, Kiai Hasyim tengah mengajar. Keesokan harinya, karena penasaran, Ratib mengunjungi kediaman beliau. Masih belum mengucapkan salam, Kiai Hasyim sudah membukakan pintu dan memanggilnya; “Dik, sini-sini, ada apa? Tanya yang kemarin, ya?” “Iya”, jawab Ratib gugup. “Saya diantarkan Mbah Saleh (Wali yang makamnya terletak di sebelah kiri Sunan Ampel),” jawab Kiai Hasyim.

Jangan tanyakan saya bagaimana cara Mbah Saleh yang sudah wafat bisa mengantarkan beliau datang lebih awal dari Ratib yang disuruhnya pulang duluan ke Pesantren.

2. Didatangi Rasulullah

Masih menurut Ratib, Kiai Hasyim juga terkenal sebagai ulama yang weruh sak durungi pinaruh atau winara (tahu sebelum terjadi). Kala itu, Ratib sempat berkunjung ke kediaman beliau sehari sebelum hari wafatnya. “Aneh, kok mendung terus?” kata Kiai Hasyim. “Habib Husein Berani, yang tinggal di selatan Genggong, sedang sakit Kiai,” terka Ratib. “Kalau begitu kenapa saya didatangi Rasulullah?!” kata Kiai Hasyim.

Baca juga:  Ini 5 Argumen K.H. Hasyim Muzadi Ketika Menolak Keras LGBT

Biasanya seseorang yang didatangi Rasulullah itu bahagia, harinya cerah tidak mendung dan tidak hujan, biasanya juga rumah atau kamar di mana seseorang mimpi atau bertemu Rasulullah wangi sampai tiga bulan.

Sejurus kemudian, saat waktu menunjukkan isya, Ratib dan santri-santri lainnya mendengar bahwa Kiai Hasyim telah meninggal dunia. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun, dua ribuan santri menangisi kepergian sosok guru penyantun dan penyabar yang konon beliau diangkat menjadi wali karena kesantunan dan kesabarannya. Beliau terkenal di kalangan santri sebagai kiai yang tidak pernah marah dan memanggil santrinya dengan sebutan “Ananda”. Kiai Hasyim wafat di umur yang relatif muda.

3. Didatangi Banyak Tamu saat Menjadi Santri

Menginjak dewasa, beliau nyantri ke PP. Peterongan Jombang yang diasuh oleh K.H. Musta’in Ramli. Sebelum berangkat abahnya berpesan, kalau nyantri jangan mengandalkan orangtua, tetapi andalkanlah Allah. Pesan tersebut kemudian beliau ingat-ingat dan yakini. Lebih-lebih saat beliau mengalami kejadian yang mencermikan petuah abahnya tersebut.

Kejadiannya pas di perjalanan menuju Peterongan bekal berupa beras dari orangtuanya tertinggal di Surabaya. Dari kejadian itu, beliau lalu tambah yakin dan mantap bahwa petuah dari abahnya tersebut benar, harus mengandalkan Allah Swt.

Dari kesadaran dan keyakinan tersebut, beliau kemudian mendapatkan banyak kemudahan-kemudahan dari Allah yang bisa dibilang karamah. Di antaranya, beliau acapkali ditemui tamu yang selain untuk silaturahmi juga memberikan uang. Meski demikian, uang dari tamu-tamu itu tidak beliau miliki sendiri. Beliau menaruhnya dalam wadah bekas songkok atau peci dan meletakkannya di pojok kamar dalam biliknya. Kemudian kepada sahabat-sahabatnya, beliau berkata, “Jika di antara sahabat-sahabat ada yang membutuhkan uang, bisa mengambilnya di dalam wadah songkok itu.”

Tidak diketahui berapa banyak uang yang di dalam wadah songkok itu dan berapa banyak pula sahabat-sahabatnya yang mengambil uang itu. Tapi tidak habis-habis. Bak mesin ATM saja.

4. Amplop di Balik Sajadah setiap Selesai Salat

Selain itu, beliau juga medapatkan “kemudahan dari Allah” berupa hadirnya sebuah amplop berisikan beberapa lembar rupiah dari balik sajadah di setiap habis menunaikan salat. Dalam amplop tersebut tertulis nama beliau sebagai orang yang dituju, sementara nama pengirimnya tidak tertulis.

Baca juga:  Viral! Ketika Prof. K.H. Didin Hafidhuddin Tidak Enak Badan, Ini Penuturan Putrinya

5. Ratu semut

Karamah-karamah di atas saya ambil dari beberapa sumber, di antaranya Moslemwiki.com dan Afandielhasan.blogspot.com. Karamah-nya yang kelima saya dengar langsung dari adik kandung beliau (Alm) K.H. Abdul Haq Zaini sewaktu saya ngaji di PP. Nurul Jadid.

Ceritanya, suatu waktu Kiai Abdul Haq nyupiri kakaknya ceramah di luar kota. Pulang ceramah, saat tiba di Pesantren Kiai Abdul Haq menemukan semut di dalam mobilnya, kemudian ia melaporkan ke kakaknya. Beliau meminta, “Letakkan semut itu di dalam kotak korek api lalu bawa kembali ke tempat saya ceramah. Di depan rumah tersebut ada pohon besar, letakkan semut itu di bawahnya, lalu lihat apa yang terjadi.”

Malam itu juga Kiai Abdul Haq kembali ke tempat ceramah yang jaraknya lumayan jauh. Dalam hati kecilnya berkata, “Ada apa ini kok sampai jauh-jauh saya disuruh mengembalikan seekor semut?” rupanya Kiai Abdul Haq penasaran dengan perintah kakaknya.

Sesampai di tempat tujuan, Kiai Abdul Haq terkejut setelah meletakkan semut itu. Pasalnya, semut-semut di pohon itu turun semua ke bawah pohon menyambut seekor semut yang dibawa Kiai Abdul Haq yang ternyata semut itu merupakan ratu semut (pemimpinnya).

Artinya jika semut tadi tidak dikembalikan ke tempat asalnya, maka boleh jadi “masyarakat semut” akan kehilangan sang pemimpin. Mereka tentunya sedih dan berduka. Cerita ini mengingatkan kita akan kisah Nabi Sulaiman yang bisa mendengar pemimpin semut yang menyuruh rakyatnya kembali ke sarangnya sebelum Nabi Sulaiman dan pasukannya melintas, lihat Q.S. An-Naml [27]: 18. Subhanallah.

alvianKontributor: Alvian Iqbal Zahasfan | Alumni PP. Nurul Jadid, pecinta wali




0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Alvian Iqbal Zahasfan

Latest posts by Alvian Iqbal Zahasfan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close