Ini 5 Fenomena Unik nan Langka di Pesantren Salaf

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.com – Pesantren salaf masih menyimpan sekian banyak hal unik untuk dikuak. Tata kurikulum, keterbatasan fasilitas, hubungan kiai-santri yang berbeda dari pendidikan nonpesantren, memunculkan berbagai fenomena unik.

Seiring perkembangan dan tuntunan zaman, pesantren salaf banyak yang membenahi beberapa kekurangan yang ada. Misalnya pengembangan kurikulum, yang awalnya santri hanya mengaji tanpa sekolah, lalu pesantren membuka sekolahan umum. Ini sebagai solusi atas tuntutan para orang tua yang ingin anaknya tak hanya belajar ilmu agama.

Perubahan dan pembenahan sistem tertentu dalam pesantren salaf berimbas pada hilang atau semakin langkanya beberapa fenomena unik santri salaf. Karena pesantrennya sudah semi modern, maka santrinya pun ikut bertransformasi menjadi santri semi modern. Beberapa hal yang rumit ataupun langka perlahan pudar bahkan ditinggalkan. Nah, berikut ini 5 fenomena unik yang semakin langka di pesantren salaf:

1. Memaknai Kitab dengan Pena Tradisional

Pena makna tradisional, selain memakan waktu untuk membuat cairan tinta juga memerlukan ketelitian dan kemampuan khusus saat mengasah mata pena (Baca: 5 Keunikan di Balik Pena Khas Pesantren). Mata pena yang kurang bagus pengasahannya menjadi kurang nyaman dipakai dan hasil tulisannya kurang bagus. Karena itu pena makna termasuk barang yang semakin jarang dipergunakan santri.

2. Minum Air Mentah

Minum air mentah merupakan hal praktis dan ekonomis bagi santri. Alasannya, malas memasak air karena harus ke dapur umum. Kalaupun punya air masak, akhirnya juga harus rela berbagi dengan rekannya. Tidak pantas rasanya kalau ada yang meminta sekedar air minum kok tidak diberi. Akhirnya hal paling praktis dan ekonomis, ya minum air mentah-mentah langsung dari sumur atau kran. Apalagi pesantren yang ada di daerah pedesaan yang relatif sumber airnya aman dari polusi.

Seiring kesadaran akan pentingnya kesehatan dan air tanah semakin tidak sehat jika dikonsumsi langsung, pesantren salaf mulai ada yang menggunakan mesin penyaring air. Hasilnya, kualitas air minum santri, meskipun mentah tetapi sudah sekelas air mineral dalam kemasan. Ada santri yang berinisatif iuran untuk menyediakan air minum isi ulang di asrama atau biliknya. Mungkin nantinya tidak ada lagi fenomena santri minum air mentah.

Baca juga:  Santri dan Tantangan Revolusi Industri 4.0

3. Santri Sepuh

Masa belajar di pesantren salaf tidak ada batasan umur. Meskipun sudah lulus semua tingkatan madrasah yang ada, tetapi banyak santri yang masih menetap di pesantren tersebut. Entah untuk mengabdi sebagai pengurus, guru, atau pekerja. Di pesantren salaf zaman dahulu banyak dijumpai santri yang berumur di atas 30 bahkan 40 tahun masih nyantri dan belum nikah.

Sejalan dengan perubahan pola belajar dan pola pikir santri, karena pesantren banyak yang sudah menambah unit pendidikan umum, santri tua atau sepuh semakin jarang. Santri yang telah lulus lebih memilih segera menikah, kuliah di luar pesantren, atau pulang. Kalau seorang santri senior menikah, otomatis ia harus pulang atau keluar dari pesantren.

Pulangnya santri senior, apalagi yang keilmuan dan dedikasinya tinggi, merupakan kehilangan aset bagi pesantren dan pengasuh. Solusinya, pesantren menyediakan rumah dinas atau asrama bagi ustaz atau santri berkeluarga. Contohnya Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah Situbondo. Di sana santri yang ditugaskan oleh pengasuh untuk mengajar dalam jangka waktu tertentu, disediakan asrama khusus bila dia sudah berkeluarga. Tentunya ini hanya fasilitas sementara selama si santri memenuhi tuntutan tugasnya.

4. Dijodohkan Kiai

Fenomena unik lainnya adalah menanti jodoh lewat pilihan kiai. Bahasa kasarnya dijodohkan. Ini juga tak lepas dari ajaran kitab Ta’lim yang menganjurkan seorang santri menyerahkan berbagai pilihan kepada guru. Karena seorang guru, kiai dianggap lebih memahami mana yang baik untuk si santri.

Dijodohkan oleh kiai adalah satu hal yang sulit ditolak oleh santri. Beda latar belakang, beda pula yang dirasakan. Ada yang merasakan sebagai karunia, ada juga yang merasakan sebagai musibah. Terlebih jika ternyata calon yang diajukan tak memenuhi selera. Pergaulan santri yang terbatas dan terpisahkan antara santri putra dan putri, juga merupakan alasan untuk menyerahakan pilihan pada sang guru. Kala santri sudah dijodohkan oleh kiai, tak ada kata lagi selain sami’na wa atha’na. Mendengar dan mentaati.

Baca juga:  Ada 5 Fakta Menarik di Balik Sarung yang Dipakai Para Santri

Karena teknologi komunikasi semakin maju, kini banyak kiai yang enggan menjodokan santrinya. Alasannya, karena santri sekarang sudah pintar-pintar. Ada FB dan media sosial lain yang membuat mereka lebih pintar memilih pasangan versi mereka. Kiai tinggal menyetujui dan mengarahkan saja. Dulu, dijodohkan oleh kiai adalah hal langka, kini semakin langka.

5. Santri Jadug

Santri zaman dahulu rata-rata memiliki kemampuan kanuragan. Jadug, istilah mereka. Mulai dari tenaga dalam, melawan gangguan makhluk halus atau jin, hingga kekebalan. Mereka mendapat semua itu dengan olah batin atau tirakat atas doa dan ijazah yang didapatkan. Ini tak lepas dari kebutuhan saat itu. Zaman perjuangan, pascakemerdekaan, masa-masa genting PKI, para santri dituntut mempunyai kemampuan khusus selain mengaji.

Fenomena santri jadug, meskipun masih ada dan terjaga, tetapi semakin langka saja. Sebagian pesantren yang mengembangkan sistem pendidikan semimodern, menekankan santri untuk lebih tekun belajar. Bukan tirakat ilmu aneh-aneh. Karena zaman sekarang yang dibutuhkan adalah ilmu pengetahuan, bukan lagi ilmu kanuragan.

Keberadaan santri jadug tetap dibutuhkan dalam pesantren. Misalnya untuk membantu kiai menanggulangi gangguan makhluk halus. Untuk itu, pengasuh pesantren biasanya memberi batasan khusus santri boleh mempelajari ilmu kejadugan. Biasanya santri yang telah lulus pendidikan madrasahnya baru boleh mempelajarinya. Jadi, meskipun langka, fenomena santri jadug tetap masih ada di setiap pesantren salaf.

nasrudin maimun

Kontributor : Nasrudin | Penulis tetap DatDut.Com

FB: Nasrudin El-Maimun

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close