Ini 5 Fakta Seputar Mushaf Akbar Wonosobo

  • 311
  •  
  •  
  •  
    311
    Shares

DatDut.Com – Sebagian orang tentu ada yang mengira bahwa penulisan Mushaf Akbar tidak begitu memberikan sumbangsih terhadap syiar agama. Hal ini mungkin terjadi apabila pemahaman sebagian orang tersebut tidak dilandasi dengan sejarah yang jelas. Berikut ini adalah fakta tentang Al-Qur’an Akbar Wonosobo yang dinobatkan sebagai mushaf terbesar di dunia saat pertama kali muncul:

1. Sebagai Simbol Kemajuan Bidang Agama

Pada era tahun 70 hingga 90-an atau zaman orde baru,  Indonesia sedang digemparkan oleh kemajuan bidang teknologi, terlebih lagi sejak Mantan Presiden RI ke-3 BJ. Habibie pulang ke Indonesia dan menjadi Direktur Utama PT IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio). Berita tentang kemajuan teknologi ini seakan menutupi perkembangan bidang lain, termasuk agama.

Baca juga:  Ternyata Ada 5 Rumus Cinta di Balik Bait-bait Alfiyyah Ibnu Malik

Berangkat dari sana, K.H. Muntaha Al-Hafidz (Mbah Mun) Pendiri Pesantren Al-Asy’ariyyah dan Institut Ilmu Al-Qur’an Wonosobo (sekarang UNSIQ) memberikan perintah kepada salah satu santrinya untuk menulis mushaf akbar, sebagai pesan bahwa tidak hanya bidang teknologi yang sedang berkembang.

Mushaf ini pertama kali dipersembahkan kepada Presiden Soeharto pada tanggal 4 Juli 1994 menjelang HUT-RI ke 49. Kemudian setahun setelahnya, IPTN ikut mempersembahkan penerbangan perdana pesawat penumpang N-250 pada tanggal 10 Agustus 1995.

2. Menjaga Tradisi Leluhur

Selain sebagai penyeimbang pesatnya kemajuan teknologi pada masa orde baru, penulisan mushaf akbar ini juga untuk menjaga tradisi menulis dari para leluhur. Menurut kabar sahih, K.H. Abdurrohim (1860-1916) kakek dari Mbah Mun pernah menyelesaikan penulisan mushaf selama melaksanakan perjalanan ibadah haji ke tanah suci.

Baca juga:  Ternyata Ushul Fikih Punya Cara Memastikan Suatu Berita Hoax atau Tidak

Namun sangat disayangkan, mushaf karya Kyai Abdurrohim musnah terbakar bersama karya-karya lain saat terjadi serangan Belanda ke Pesantren Al-Asy’ariyyah pada era agresi militer kedua.

3. Diawali dan Diakhiri Presiden

Sebagian besar penulisan karya mushaf akbar dihadiri oleh orang-orang penting di Indonesia, mulai dari gubernur, menteri hingga presiden. Tercatat bahwa pada saat penyerahan mushaf akbar pertama, Presiden Soeharto menutup penulisan berupa huruf siin terakhir dari mushaf tersebut. Kemudian beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo membuka penulisan mushaf akbar ke-11 dengan menuliskan huruf ba’ pada lafadz basmalah pertama.

Khoirul Muhtadin

Khoirul Muhtadin

Mahasiswa UNSIQ-Wonososbo, Alumni PP. Pasca Tahfidz Bayt al-Qur’an 2014
Khoirul Muhtadin

Latest posts by Khoirul Muhtadin (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *