Ini 5 Fakta di Balik Sweeping FPI Tolak Kedatangan Bupati Purwakarta

  •  
  •  
  •  
  •  

Dibaca: 254

Waktu Baca4 Menit, 2 Detik

DatDut.Com – Ada yang berbeda pada acara Malam Anugerah Federasi Teater Indonesia (FTI) ke- X yang digelar di Taman Ismail Marzuki, pada Senin (28/12/2015). Terlihat di depan pintu masuk Taman Ismail Marzuki dipadati massa (Front Pembela Islam) dan juga ratusan polisi  yang melakukan penjagaan ketat.

Pasalnya, jumlah polisi tersebut seperti mengalahkan penjagaan aparat keamanan saat mengawal proses pemilu Gubernur dan Walikota beberapa waktu yang lalu. Padahal hanya sebuah acara penganugerahan seni budaya. Bukan acara yang berbau politik atau sektarian agama.

Dari sebuah tulisan yang mencoba menilai dari dua sudut pandang masing-masing pihak, maka ini 5 fakta yang bisa dicermati di balik aksi sweeping FPI menolak kedatangan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, pada acara malam penganugerahan FTI ke-X di Taman Ismail Marzuki.

1. Sampurasun, antara Penilaian Budaya dan Agama

Peristiwa ini merupakan buntut dari episode kritikan Habib Rizieq atas ucapan salam suku Sunda sampurasun yang beliau plesetkan menjadi campur racun (Baca: 5 Pernyataan Habib Rizieq Ini Singgung Perasaan Orang). Namun, Ketua FPI Jawa Barat, Abdul Qahar, menyatakan bahwa tidak mungkin Habib Rizieq melecehkan suatu adat budaya, selama tidak bertentangan dengan Islam.

Pernyataan Habib Rizieq tersebut terekam dalam sebuah video yang beredar di Youtube yang berdurasi 15 menit dan hanya memuat tentang penggalan ceramah terkait plesetan sampurasun saja. Padahal ceramah Habib Rizieq di Purwakarta (13-11-2015) berdurasi tidak kurang dari 2 jam. Meski begitu jika benar hal itu diucapkan, memang tidak seharusnya juga seorang Habib Rizieq mengatakan perkataan seperti itu.

Jika diasumsikan, mungkin saja masalah ini sebenarnya hanya sebuah kesalahpahaman, yang hanya dibesar-besarkan oleh media. Sehingga, diperlukan kearifan dan pengertian dari berbagai pihak, agar peristiwa ini tidak berbuntut pada bentrokan massa serta terhindar dari aksi perusakan fasilitas umum.

2. FTI Tidak Berafiliasi dengan Politik atau Kelompok Sektarian

Federasi Teater Indonesia (FTI) adalah lembaga nirbala yang terbentuk atas kesadaran bersama akan pentingnya kolektivitas dalam hidup berkesenian di negeri ini. Bermula dari gagasan dan inisiatif Radhar Panca Dahana, didukung oleh lebih dari 1000 penggiat teater dari 200-an lebih grup teater se-Jabodetabek yang berkumpul di Teater Halaman, Taman Ismail Marzuki, akhirnya FTI didirikan di Jakarta pada 27 Desember 2004. Dan hadir pada saat itu: Putu Wijaya, Amna S. Kusumo, Ratna Riantiarno dan banyak lagi lainnya.

Baca juga:  NU Akan Ganyang Pemerintah Belanda Sebab 5 Hal Ini

Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa FTI bukanlah lembaga yang berafiliasi dengan kepentingan politik atau sektarian tertentu. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Radhar Panca Dahana, Ketua Federasi Teater Indonesia, saat memberikan sambutan malam itu. Jadi, seharusnya FPI tidak membuat blokade yang dapat menimbulkan keresahan masyarakat sekitar.

FTI memberikan penghargaan Maecenas kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, hanya sebagai bentuk apresiasi atas prestasinya yang mampu membawa kebudayaan daerah dalam pentas dunia. Yaitu melalui acara Festival Budaya Dunia yang diselenggarakan pada hari jadi Purwakarta, akhir Agustus lalu. Acara yang diikuti oleh 1.000 seniman, dari 14 negara.  Di antaranya; Italia, Jepang, Meksiko, Turki, Mesir, Afrika Selatan, Korea Selatan, India, China, Filipina, dan Malaysia.

3. Dedi Mulyadi Sempat Berhasil Diselundupkan ke Dalam Gedung Penganugerahan

Meski sempat terhalang oleh blokade massa yang berkumpul di depan pintu masuk TIM, ternyata Dedi Mulyadi sempat berhasil diselundupkan ke dalam gedung penganugerahan pada malam tersebut. Tapi, ternyata aparat mengetahui hal ini dan mencegat sang bupati muncul di depan umum demi keamanan publik.

Akhirnya beliau memutuskan tidak muncul dan hanya mengucapkan ucapan terima kasih kepada Radhar Panca Dahana dari balik layar, karena telah memilihnya sebagai penerima penghargaan Maecenas FTI 2015 ini.

Pada akhirnya, acara penganugerahan tersebut diberikan secara pantonim seakan-akan sang bupati hadir di tengah-tengah acara. Berbeda dengan Akhudiat, salah satu tokoh FTI 2015, beliau diwakilkan oleh muridnya untuk menerima penghargaan.

Baca juga:  Ini Bukti Habib Rizieq Tegas Tanpa Pandang Bulu dalam Membela Islam dan Melawan Kezaliman

4. Aparat Menyarankan Acara Malam Anugerah FTI Dibubarkan

Dalam aksi sweeping-nya tersebut, FPI  memeriksa tiap kendaraan yang masuk TIM untuk mencari Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang diundang Federasi Teater Indonesia sebagai penerima Anugerah Maecenas FTI 2015. Demi keamanan, aparat pun sempat menganjurkan acara malam anugerah FTI dibubarkan saja.

Namun, mengingat pentingnya peran seni dalam membentuk kebudayaan Indonesia. Aksi aparat menyarankan pembubaran acara tersebut tentu menyebabkan kekecewaan beberapa pihak. Karena sekali lagi, FTI tidak punya afiliasi dengan kepentingan politik atau sektarian lainnya. Dan merupakan salah satu misi dari penyelenggaraan acara tersebut, memberikan penghargaan pada prestasi dari mereka yang menjadi bagian dari masyarakat teater Indonesia.

5. Mulai Muncul Kecurigaan Masyarakat terhadap Dedi Mulyadi

Pagelaran kebudayaan yang digelar Agustus lalu, memakan milyaran dana kas daerah Purwakarta. Kini bahkan Dedi Mulyadi rutin menggelar safari budaya setiap hari Sabtu. Hal tersebut mungkin yang membuat masyarakat mulai menaruh kecurigaan terhadap Bupati Purwakarta tersebut.

Seperti informasi yang dilansir dari Kompasiana.com. Seorang netizen mengkritik aksi Dedi Mulyadi. Dalam artikel yang dia tulis bertajuk “Memahami Komunikasi Politik Dedi Mulyadi”, salah satunya ia menyayangkan bahwa diselenggarakannya acara bertaraf internasional itu di saat banyak warga Purwakarta hidup kekurangan. Di samping itu, mulai tersebar kabar pula bahwa Dedi termasuk salah satu calon kandidat potensial pada pemilihan Gubernur Jawa Barat mendatang.

nenengNeneng Maghfiro | Penulis tetap Datdut.Com

Twitter : @NengAirin

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Neneng Maghfiro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *