• 1
  •  
  •  
  •  
    1
    Share

Datdut.Com – Gagasan dakwah yang digagas Wali Songo sejatinya mengarah pada dakwah Islam yang berusaha mengakomodir nilai-nilai kearifan lokal.

Istilah kearifan lokal (local wisdom atau local genius) pertama kali diperkenalkan oleh Quaritch Wales, antropolog yang konsentrasi mengkaji agama-agama di Asia Tenggara.

Menurut Gus Dur, kearifan lokal adalah nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat.

Istilah kearifan lokal, menurut saya, sepadan dengan istilah al-‘urf dan al-ma’ruf dalam Alquran. Ada 8 ayat yang terdapat kata al-amr dan berbagai macam bentuknya yang berpasangan dengan kata al-‘urf atau al-ma’ruf.

Masing-masing terdapat dalam QS. Al-A’raf; 157 dan 199, QS. Ali Imran; 104 dan 110, QS. Al-Taubah; 113 dan 114, QS. Al-Haj; 41, QS. Luqman; 17. Saya menyimpulkan, ada 5 corak dakwah yang diajarkan Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Berikut ulasannya:

1. Santun

Al-‘Urf atau al-ma’ruf, menurut Ibnu Faris, memiliki dua arti dasar. Pertama, sesuatu yang terus menerus dilakukan secara turun-temurun. Kedua, kedamaian serta ketenangan.

Jadi, pasangan kata al-amr dan al-ma’ruf yang terdapat dalam Alquran mengisyaratkan kepada kita untuk berdakwah dengan kasih sayang dan berusaha mengakomodir adat-adat masyarakat setempat yang ditolelir oleh syariat.

Selain itu, dalam berdakwah juga diperlukan sikap-sikap yang santun, sehingga mendatangkan ketenangan dan kedamaian untuk mengasihi sesama manusia, bukan memusuhi. Apalagi, umat Muslim Indonesia saat ini sedang dijangkit penyakit sektarianisme.

 2. Mengakomodir Budaya Setempat

Saya contohkan penerapan gagasan dakwah yang sejalan dengan kearifan lokal, misalnya tradisi selamatan 120 hari (masuk 4 bulan) atas kehamilan calon bayi adalah suatu tradisi yang tidak terlepas dari orang Jawa.

Baca juga:  5 Ulasan Sains dalam Fikih

iasanya, ayah dan ibu bayi menyediakan kupat (ketupat) dan lepet dalam acara tersebut. Selain itu, mereka juga mendoakan jabang bayi dengan membaca surah-surah dalam Alquran, Surah Yusuf, Surah Maryam, Surah Luqman, Surah Al-Rahman, Surah Al-Waqi’ah, Surah Al-Mulk, Surah Muhammad, Surah Al-Muzammil dan Surah Yasin.

Kupat adalah akronim dari ngukuhaken perkara papat (mengukuhkan perkara empat), yaitu jodoh, rejeki, umur, dan nasib. Malaikat menentukan empat perkara tersebut disaat usia janin memasuki 120 hari dalam kandungan ibu.

Lepet akronim dari dilep (disimpan) pet (rapat). Jadi, lepet adalah disimpan dengan baik. Dengan dua suguhan tersebut yang kemudian dibagi-bagikan untuk masyarakat sekitar diharpakan jodoh, rejeki, umur, dan nasib calon jabang bayi mendapatkan yang terbaik.

 3. Tidak Anarkis

Terkait kata al-amr, Ibnu Asyur menjelaskan secara mendetail. Menurutnya, tugas tokoh masyarakat hanyalah mengajak dan menjelaskan antara yang makruf dan munkar, bukan menghakimi orang yang diajaknya.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa hadis yang menyatakan, “Jika di antara Anda melihat kemunkaran, maka cegahlah menggunakan kekuasaannya, atau cukup diajak, atau cukup diinkari dalam hati, dan inilah iman yang terlemah,” (H.R. Muslim).

Hadis itu ditujukan kewenangannya untuk pemerintah, bukan individu atau sekelompok organisasi masyarakat. Hal ini, menurutnya, untuk menghindari timbulnya anarkisme dalam berdakwah yang mencoreng nama Islam.

Baca juga:  Terkait Kesehatan, Ini 5 Fakta Unik Kerokan

4. Lebih Banyak Mengajak daripada Melarang

Masih menurut Ibnu Asyur yang juga menyebutkan bahwa sahabat Nabi, Muaz bin Jabal, yang diutus menjadi dai ke Yaman untuk lebih banyak mengajak pada kebaikan, daripada melarang kemunkaran yang dilakukan masyarakat Yaman.

Memang betul, melarang seseorang melakukan perbuatan maksiat juga bagian dari dakwah. Namun, hal tersebut perlu disampaikan secara santun dan tidak anarkis.

Sehingga, masyarakat merasa nyaman dengan dakwah yang kita lakukan, baik sifatnya mengajak kebaikan atau melarang kemungkaran.

5. Taat Pada Pemerintah

Saya telah menyebutkan pada poin sebelumnya bahwa tugas kita sebagai individu ataupun organisasi masyarakat hanyalah mengajak kebaikan atau melarang kemunkaran dengan cara yang santun dan tidak anarkis.

Sehingga, ketika masih ada perbuatan-perbuatan menyimpang yang dilakukan masyarakat, baik yang melanggar norma agama maupun norma sosial, segeralah melapor ke pemerintah terkait, seperti RT, RW, Walikota, Bupati, dan seterusnya. Main hakim sendiri tidak dibenarkan dalam Islam.

 

 

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga dan sudut pandang yang khas nan unik.
Redaksi
  •  
    1
    Share
  • 1
  •  
  •  

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.