Ini 5 Bantahan untuk Buku “Ada Pemurtadan di IAIN/UIN”

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Isu adanya pemurtadan di UIN Jakarta mengemuka pada saat Hartono Ahmad Jaiz menulis buku yang berjudul Ada Pemurtadan di IAIN. Waktu itu, masih IAIN Jakarta, belum bertransformasi menjadi UIN. Pada tahun 2002, IAIN Jakarta barulah bertransformasi menjadi UIN Jakarta.

Penulisan buku itu berdampak negatif terhadap citra UIN di  masyarakat. Bahkan, yang terkena dampak negatif bukan saja hanya UIN Jakarta, namun UIN di daerah lain pun terkena dampak buruk atas terbitnya buku tersebut. Selain itu, beberapa kiai juga khawatir mengizinkan santrinya untuk kuliah di UIN.

Namun demikian, saya mengamati bahwa setiap tahunnya, para santri yang tertarik untuk kuliah di UIN cukup signifikan. Benarkah cap negatif yang dimuat dalam buku itu? Berikut 5 fakta yang perlu disampaikan agar tidak terulang lagi cap-cap negatif pada UIN seperti yang disampaikan penulis buku tersebut:

1. Hartono Ahmad Jaiz Tidak Pernah Kuliah di IAIN/UIN Jakarta

Dikutip dari goodreads.com, Hartono Ahmad Jaiz merupakan mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang lulus pada angkatan 1980-1981. Perjalanannya dalam dunia jurnalistik cukup panjang.

Ia pernah menjadi wartawan Pelita pada 1982 hingga 1996. Tidak heran, jika saat ini produktif dalam menulis buku dan tulisannya sering dikutip di beberapa media online yang secara kultural suka membidahkan kelompok lain.

Hartono Ahmad Jaiz sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan di IAIN/UIN Jakarta sama sekali. Namun, seringkali ia ‘menghajar’ dan menyesatkan Guru Besar UIN Jakarta, seperti Prof. Dr. Harun Nasution, Prof. Dr. Azyumardi Azra, dan Prof. Dr. Komarudin Hidayat.

Seperti dikutip dari voa-islam.com, Azyumardi dianggap sesat karena membolehkan Valentine Day. Padahal, ia tekankan bahwa Valentine Day yang dimaksud adalah yang sesuai dengan nilai positif kultur di Indonesia, seperti berbagai untuk fakir miskin, anak yatim, janda dan lain sebagainya. Bukankah Valentine Day merupakan hari kasih sayang?

Baca juga:  Fenomena Cari Berkah di Zaman Nabi, Ini 5 Cara Uniknya

2. Bedakan Forum Akademis dan Forum Masyarakat Awam

Forum akademis bukanlah seperti forum pengajian masyarakat umum yang hanya membicarakan halal dan haram. Forum akademis menuntut seseorang berpikir rasional secara proporsional. Selain itu, forum akademis menuntut pendekatan sosiologi, antropologi, budaya, dan ilmu sosial lainnya dalam mengkaji agama.

Latar belakang turunnya ayat Alquran (Asbabun Nuzul), hadis (Asbabul Wurud) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan konteks sosial masyarakat pada masa Nabi dan sahabat. Oleh karena itu, perlu dibedakan antara forum akademis dan forum awam. Ini yang tidak dibedakan oleh Hartono Ahmad Jaiz.   

3. Rasionalisasi Islam

Kata rasional dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring berarti menurut pikiran dan pertimbangan yang logis. Rasionalisasi Islam berarti upaya atau cara menjadikan Islam bersifat rasional. Salah satu contoh kecil penerapan rasionalisasi Islam adalah penggunaan kias dalam kajian Ushul Fikih.

Nabi tidak pernah membayar zakat fitrah menggunakan beras, karena dalam konteks Arab, beras bukanlah makanan pokok. Tapi Nabi membayar zakat dengan menggunakan gandum (al-bur dan asy-sya’ir).

Saat ini, kita membayar zakat fitrah menggunakan beras, bukan gandum. Padahal, beras tidak pernah disebut dalam Alquran dan hadis untuk membayar zakat. Beras memiliki kesamaan dengan gandum sebagai makanan pokok. Titik kesamaan di antara keduanya dinamakan ilat dalam Ushul Fikih.

Apakah bidah zakat menggunakan beras karena tidak ada dalam Alquran dan hadis? Jadi, tidak selamanya yang rasional itu sesat dan terlarang.

Baca juga:  Hukum Menjamin Pelunasan Hutang dalam Islam

4. Kurikulum Agama Islam

Kita dapat melihat langsung kurikulum agama Islam di UIN apabila dianggap dapat membuat orang sesat, murtad, kafir, dan lain sebagainya. Matakuliah agama yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan di pesantren, seperti bahasa Arab, fikih, usul fikih, tafsir, hadis, ilmu hadis, sejarah kebudayaan Islam, dan filsafat Islam.

Namun, beberapa mata kuliah agama Islam di fakultas umum, seperti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Fakultas Psikologi, Fakultas Ekonomi dan Bisinis, distandarkan sesuai kemampuan mereka. Pasalnya, mayoritas mahasiswa UIN di fakultas umum tidak jarang yang berasal dari SMA.

5. Lihat Fakultas di UIN

Pada artikel sebelumnya yang berjudul, “Masih Menuduh UIN Sarang Liberal? Baca 5 Fakta Ini”, saya memaparkan bahwa tidak semua dosen-dosen di UIN Jakarta itu berkiblat ke Barat, sebagaimana Hartono Ahmad Jaiz sampaikan.

Ada beberapa fakultas yang dosen-dosennya alumni Timur Tengah, seperti Fakultas Adab dan Humaniora, Fakultas Dirasat Islamiyah, dan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Walaupun demikian, tidak semua yang datang dari Barat itu keliru dan sesat.

harisPenulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Kharish

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close