Ini 5 Bahan Tambahan Makanan yang Berbahaya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Bahan tambahan makanan tidak hanya yang diperoleh secara alamiah, tapi juga yang dihasilkan dari proses kimia tertentu. Dengan kata lain, bahan tambahan makanan selain ada yang alami, tapi ada yang buatan.

Fungsi bahan tambahan ini selain meningkatkan gizi, memperbaiki nilai sensori makanan, juga memperpanjang umur simpan (shelf life) makanan.

Tak banyak dari kita yang memahami betul nama-nama bahan tambahan makanan yang kadang muncul pada komposisi makanan kemasan, termasuk bila nama bahan-bahan itu disebut dalam berita-berita mengenai bahan berbahaya.

Padahal, bahan tambahan makanan itu berbahaya bagi tubuh kita. Berikut 5 bahan tambahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan dan tubuh kita:

1. Pemutih

Yang dimaksud pemutih di sini seperti Natrium Hipoklorit. Dari namaya sudah dapat dibayangkan makna kasarnya.

Namun ternyata bahan pemutih ini memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pemutih warna bahan makanan, di samping juga sebagai pereaksi untuk menjadikan bahan makanan itu larut dalam air.

Natrium Hipoklorit digunakan agar pati yang tidak larut dalam air menjadi larut dalam air.

2. Pewarna

Bahan pewarna yang sering sekali didengar adalah Rhodamin B. Bahan ini merupakan bahan pewarna sintetis dalam industri tekstil dan kertas yang disalahgunakan sebagai pewarna makanan.

Baca juga:  5 Benda “Aneh” di Masjid Maroko

Rhodamin B berupa serbuk kristal berwarna merah keunguan. Bahan ini sangat berbahaya bagi tubuh jika terhirup. Kulit pun bisa mengalami iritasi, bahkan bisa menyebabkan gangguan pencernaan berupa iritasi lambung dan kanker hati.

3. Pemanis

Salah satu bahan pemanis yang paling banyak dijumpai adalah sakarin. Sakarin berupa bubuk putih tanpa bau dan halus. Sakarin memberikan rasa manis 550 kali lebih manis dari gula biasa.

Nah, kita bisa bayangkan rasa manisnya jika kita menambahkannya ke dalam makanan. Apabila dikonsumsi secara terus menerus sakarin akan mengendap dalam ginjal sehingga memicu pertumbuhan kanker mukosa kandung kemih.

4. Penguat Rasa dan Aroma

Monosodium Glutamat atau yang sering dikenal dengan nama MSG, adalah bahan penguat rasa yang sering muncul dalam berbagai jenis makanan. Bahan ini sering digunakan sebagai penguat rasa makanan dan juga untuk melebahankan makanan.

Vetsin yang dikonsumsi secara terus menerus akan mengendap dalam ginjal sehingga  meningkatkan risiko kanker ginjal, kanker, otak dan merusak jaringan lemak. Wow, mengerikan sekali.

Selain MSG, bahan yang berbahaya adalah Nitrosamin. Memang bahan ini jarang sekali kita dengar. Nitrosamin sendiri adalah bahan kimia yang digunakan untuk memberi aroma khas.

Bentuknya seperti garam berupa kristal atau bongkahan tidak berbau. Warnanya agak kekuning-kuningan. Nitrosamin bersifat karsinogen, yang dapat menyebabkan kanker dengan mengubah DNA tubuh dan mengganggu proses metabolisme.

Baca juga:  Dunia Darurat Virus Zika, Ini 5 Fakta Penting di Baliknya

5. Pengawet

Bahan pengawet yang paling terkenal adalah formalin. Formalin merupakan bahan kimia dalam industri kayu lapis, dan digunakan sebagai disinfektan pada rumah sakit. Bahan yang berbahaya seperti ini digunakan secara ilegal untuk bahan pengawet.

Di dalam tubuh, formalin bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limfa, dan sistem saraf pusat. Bila dikonsumsi sampai pada batas 30 ml (sekitar 2 sendok makan), dapat menyebabkan kematian.

Perlu dijelaskan di sini, semua bahan tambahan makanan di atas, memang diperbolehkan untuk ditambahkan ke dalam makanan, tetapi harus dalam dosis yang dianjurkan dan tak boleh dalam waktu yang lama secara terus-menerus.

Sekarang sudah tahu, kan, bahaya bahan-bahan tambahan makanan di atas? Lebih baik menghindari, daripada harus terkena penyakit yang berbahaya.

Komentar

Rahmayani Putri Utami

Rahmayani Putri Utami

Mahasiswa Program Studi Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Bogor. Aktif berorganisasi dan kegiatan tulis-menulis. Pernah kuliah di Sekolah Analis Kimia Bogor.
Rahmayani Putri Utami

Latest posts by Rahmayani Putri Utami (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *