Ini 5 Alasan Orang Syiah dan Liberal Tidak Suka K.H. Ali Mustafa Yaqub

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Tuduhan-tuduhan miring mengenai sosok Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub yang merupakan agen Arab Saudi dan Wahabi cukup santer di media-media online.

Sarkub.com, salah satu situs yang berafiliasi ke NU, mencurigai acara siaran televisi di RCTI yang bertemakan “Hadis-hadis Bermasalah”. Di mana, Kiai Ali Mustafa Yaqub terlibat dalam acara siaran program Ramadan tersebut.

Demi kemaslahatan, akhirnya acara tersebut tidak dilanjutkan. Bagi pengkaji Hadis, istilah Hadis-hadis bermasalah itu bukan hanya membicarakan Hadis maudhu’ seperti yang disangkakan Sarkub.com saja.

Hadis Matruk, Hadis Munkar, dan Hadis-hadis daif lainnya juga termasuk Hadis bermasalah. Selain dari kalangan NU, kalangan Syiah dan Liberal juga kurang suka dengan sosok Kiai Ali Mustafa Yaqub.

Pasalnya, beliau merupakan ulama yang konsisten mengkritik pemikiran-pemikiran yang menurutnya sudah melenceng dari jalur Ahli Sunah wal Jamaah.

Karenanya, mungkin ada beberapa kalangan yang berbahagia saat Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub ini sudah tidak lagi menjabat sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal (Baca: Imam Besar Masjid Istiqlal yang Baru Dilantik Liberal? Baca 5 Penjelasan Ini). Mengapa mereka kurang suka dengan Kiai Ali Mustafa Yaqub? Nah, baca dulu 5 uraian di bawah ini:

1. Ingin Mencari Titik Temu NU-Wahabi

Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub pernah menulis artikel “Titik Temu Wahabi-NU” di Republika.

Sebagai tokoh yang lama tinggal di Arab Saudi yang dikenal sebagai cikal bakal lahirnya paham Wahabi, Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah ini, berusaha mencari titik temu antara amaliah NU dan Wahabi.

Beliau membandingkan buku induk NU dan Wahabi. Buku induk NU yang beliau rujuk adalah buku karya Syekh Hasyim Asy’ari.

Sementara itu, sumber-sumber ajaran Wahabi yang beliau rujuk adalah karya-karya Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayim, dan Muhammad Abdul Wahab.

Judul artikel tersebut kemudian menjadi sebuah buku dengan pembahasan yang spesifik mencari titik temu antara ajaran NU dan Wahabi. Upaya dan niat beliau mencari titik temu ini justru dipertanyakan banyak kalangan NU.

Padahal, niat beliau itu untuk mewaspadai pembenturan yang selalu dilakukan zionis antara kedua golongan itu yang sama-sama memiliki simpatisan yang cukup banya.

Bila masih terus terjadi benturan antara NU dan Wahabi, itu sama saja menjadi relawan gratis Zionis untuk melaksanakan agenda Zionisme.

Baca juga:  Mencermati Pandangan M. Quraish Shihab tentang Ucapan Selamat Natal pada Non-Muslim

Di sisi lain, beliau juga sangat menentang aliran-aliran Wahabi ekstrimis yang suka membidahkan amaliah-amaliah NU.

Beliau itu hidup lama di dua kultur tersebut, NU dan Wahabi (Arab Saudi). Sehingga tahu persis amaliah-amaliah dua golongan tersebut.

Tentu sangat berlebihan anggapan sebagaian kalangan NU yang mendiskreditkan beliau sebagai agen Wahabi (Baca: Imam Besar Masjid Istiqlal Bukan Wahabi dan 5 Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal Bercorak Islam Nusantara).

2. Mengkritik Aktor Intelektual Korban Haji Mina

Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub pernah menulis artikel “Aktor Intelektual Tragedi Mina” di Republika.co.id. Dalam pembahasannya tersebut, Kiai Ali Mustafa Yaqub menggaris bawahi beberapa hal terkait banyaknya jamaah haji yang meninggal pada tahun 2015.

Pertama, jatuhnya korban haji yang tewas setelah tahun 1980-an itu, dugaannya, merupakan setingan Zionis untuk mengadu domba sesama umat Islam.

Kedua, Kiai Ali Mustafa Yaqub mendengar bahwa korban Mina yang berjumlah ribuan itu sengaja dilakukan oleh jamaah haji asal Iran. Itu pun beliau masih mempertanyakan keabasahan berita tersebut.

Ketiga, Kiai Ali Mustafa Yaqub tidak setuju dengan wacana pengelolaan haji secara internasional yang justru akan menimbulkan konflik yang semakin memanas di antara umat Islam.

Seingat saya, Abdillah Toha, Komisaris Utama Penerbit Mizan, mengkritik dan mempertanyakan gelar Imam Besar Masjid Istiqlal yang pada waktu itu disandang Kiai Ali Mustafa Yaqub setelah beliau menulis artikel di atas.

Mantan Imam Besar Masjid Istiqlal itu bisa jadi dianggap Toha mengganggu kepentingan-kepentingan Syiah.

Karenanya, Toha menulis bantahan tulisan Kiai Mustafa di atas melalui Republika juga. Sebagaimana diketahui, Penerbit Mizan sering kali menerbitkan buku-buku pemikiran ulama-ulama Syiah.

3. Melarang Ulama Syiah Ceramah di Istiqlal

Setahu saya, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub bukanlah sosok yang mudah menyesatkan aliran atau paham tertentu tanpa pertimbangan dan argumen yang menurut beliau kuat.

Saya belum pernah mendengar beliau menyesatkan aliran Syiah secara mutlak.

Mungkin Anda bisa membaca reportase DatDut.com terkait ceramah beliau yang di antaranya menyinggung tentang Syiah (Baca: Pesan Penting Imam Besar Masjid Istiqlal Soal 5 Hal).

Namun demikian, beliau mewaspadai betul memberi ruangan lebar untuk kelompok Syiah. Salah satunya beliau pernah mewanti-wanti agar Masjid Istiqlal tidak memperkenankan ulama Syiah ceramah umum di situ.

Baca juga:  Ini 5 Fakta Tak Terbantahkan Kalau Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub Bukan Wahabi

Larangan beliau ini karena hal tersebut akan membuat fitnah di kalangan masyarakat di tengah marayaknya fanatisme mazhab dan perang ideologi antara Wahabi dan Syiah.

4. Keras terhadap Pembolehan Nikah Beda Agama

Hukum bolehnya nikah beda agama disuarakan secara lantang oleh para pegiat Islam Liberal. Kini Jaringan Islam Liberal (JIL) sudah tidak begitu menampakkan taringnya di tengah kesibukan tokoh-tokohnya yang tidak lagi fokus mengurusi JIL.

Apalagi pembesar JIL, Ulil Abshar Abdalla kini sudah sibuk menjadi kader partai politik Demokrat. Ini diperjelas dari aktivitas situs Islamlib.com yang sudah jarang di-update dengan tulisan-tulisan terbaru.

Di samping itu, Luthfi Syaukanie, salah satu pembesar JIL lainnya, sudah sibuk mengurusi situs yang dikelolanya sendiri, Qureta.

Nah, Kiai Ali Mustafa Yaqub sangat menentang sekali dengan ide-ide pembolehan nikah beda agama yang dilakukan para aktivis JIL.

Bahkan beliau menulis buku spesifik berjudul “Nikah Beda Agama dalam Alquran dan Hadis” yang diterbitkan Pustaka Firdaus pada tahun 2005 (cetakan pertama).

5. Menolak Pendapat Kebolehan Perempuan Mengimami Salat Laki-laki

Kesetaraan gender juga merupakan isu yang sering digembor-gemborkan aktivis JIL. Salah satu artikel yang pernah dirilis situs Islamlib.com berjudul “Perempuan Boleh Mengimami Laki-laki”.

Artikel ini merupakan pemikiran K.H. Husein Muhammad yang diwawancarai Ulil Abshar pada tahun 2005. Pendekatan yang dilakukan Kiai Husein berdasarkan pendapat-pendapat fikih ulama mazhab.

Sementara itu, Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub menulis buku yang berjudul “Imam Perempuan”. Buku itu merupakan respon atas pendapat kebolehan perempuan menjadi imam dalam salat.

Menurut beliau, hadis tentang bolehnya wanita menjadi imam salat itu daif dan tidak dapat dijadikan landasan hukum.

 

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
Close