Ini 5 Ajaran Zuhud Syekh Nawawi Banten

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Mengenai hakikat zuhud dalam agama ini masih menjadi perdebatan. Pendapat yang banyak dipakai oleh sebagian sufi mendefinisikan bahwa zuhud adalah menganggap remeh dunia secara keseluruhan dan menghinakan segala urusan dunia.

Karenanya, siapa saja yang menganggap dunia itu kecil dan hina di hadapannya, maka dunia itu juga akan hina tunduk kepadanya. Berikut 5 ajaran zuhud versi Syekh Nawawi Banten:

1. Tingkatan Zuhud Tertinggi

Seorang yang zuhud tidak merasa senang dengan mendapat bagian yang ada di dunia dan tidak pernah merasa sedih saat tidak mendapatkan bagian dunia.

Ia hanya mau mengambil dari dunia sesuai batas yang diperlukannya untuk melakukan kegiatan ketaatan pada Tuhannya.

Meski begitu, ia tetap terus menerus menyibukkan diri berzikir mengingat Allah dan mengingat akhirat.

Inilah tingkatan zuhud yang tertinggi. Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini, maka hanya fisiknya yang ada di dunia sementara ruh dan akalnya sudah berada di akhirat.

2. Tidak Berangan-angan Muluk

Imam Ahmad, Sufyan Al-Tsauri, dan sufi-sufi lainnya mengatakan, “Zuhud adalah tidak berangan-angan muluk.”

Baca juga:  Muhammad Kusrin, Lulusan SD Perakit TV, Ini 5 Fakta Kasusnya

Ibnul-Mubarak juga mengatakan, “Zuhud adalah percaya sepenuhnya pada Allah.”

Abu Sulaiman Al-Darani menegaskan pula bahwa zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan diri dari Allah. Semua keterangan ini sebagaimana dituturkan oleh Al-‘Azizi.

3. Yang Berhak Mendapat Infak

Pada bagian ini terdapat satu masalah yang sering dibahas. Masalah itu adalah ada seseorang yang berkata begini:

“Bagaimana bila saya menginginkan memberi infak pada orang yang paling pandai? Siapa yang berhak saya beri infak itu?”

Para ahli fikih memberikan fatwanya bahwa ia harus memberikannya pada para zahid. Karena orang yang pandai adalah orang yang menceraikan dunia.

4. Tidak Melebihi Batas Kebutuhan

Zuhud adalah kekosongan hati dari kecenderungan terhadap sesuatu yang melebihi batas kebutuhan dunia juga mengosongkan hati dari percaya pada makhluk.

Pada saat tangannya penuh berisi harta halal, maka ia mengingat di hatinya bahwa itu adalah milik Allah dan Allah menitipkan harta itu padanya sebagai bentuk pinjaman murni yang kapan saja Allah bisa mengambilnya kembali.

5. Pembelanjaan Harta yang Dibolehkan

Seorang yang zuhud juga harus ingat bahwa pembelanjaan harta itu sesuai dengan izin yang dibenarkan agama adalah pembelanjaan sebagai mandat murni.

Baca juga:  Ini Rektor UIN Jakarta yang Berpidato di Hadapan Raja Maroko

Maksudnya, ia harus percaya pada Allah dan dengan segala sesuatu yang ada pada Allah lebih besar dari kepercayaannya pada apa yang ada di tangannya sendiri. Sementara mencari rezeki yang halal sesuai kadar kebutuhan yang ada di dunia ini adalah hal yang wajib.

Oleh karena itulah, Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak ada kebaikan kecuali pada orang yang menyukai dunia yang dipergunakannya untuk menyambung tali silaturahmi, dan menunaikan amanatnya, ia merasa cukup tidak memerlukan makhluk Tuhannya.”

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Latest posts by Redaksi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close