Inilah Perjalanan Karir Keilmuan Imam Ghazali

  • 176
  •  
  •  
  •  
    176
    Shares

Dibaca: 548

Waktu Baca7 Menit, 27 Detik

DatDut.Com – Laiknya iman yang naik dan turun, fase kehidupan seseorang juga demikian. Kadang di atas, kadang di bawah. Contoh aktualnya adalah 5 babak kehidupan Aa Gym, sebagaimana artikel yang dimuat di Datdut waktu lalu (baca: Episode Baru Dakwah Aa Gym setelah Melalui Babak Belur Hidup, Ini 5 Curhatan Jujurnya). Nah, kali ini setelah membaca biografi Imam Ghazali saya simpulkan bahwa ada 5 fase kehidupan—baik intelektual, emosial, maupun spiritual—yang dialami dan dilalui oleh beliau.

[nextpage title=”1. Fase Kanak-kanak di Thus (Nyufi Teoritis)”]

1. Fase Kanak-kanak di Thus (Nyufi Teoritis)

Ghazali terlahir dari bapak yang miskin tapi saleh. Acap kali menghadiri majelis taklim para ulama. Jika mendengar pengajian kerap menangis. Hatinya lembut. Mengagungkan ulama, gemar berkhidmat kepada ulama, bahkan bersedekah kepadanya sesuai kemampuannya.

Ia ingin sekali mempunyai seorang anak laki-laki yang nantinya menjadi seorang ulama. Lalu, Allah mengijabah doanya. Dinamailah anaknya dengan Muhammad (bin Muhammad bin Ahmad), At-Thusi (karena lahir di desa Thus, sekarang terletak di timur laut Iran), Abu Hamid (karena nantinya punya anak namanya Hamid).

Terkait nama Ghazali ada dua pendapat. Pertama mengatakan Ghazali tanpa tasydid huruf ‘z’, karena nisbat kepada kampung di Thus yang bernama Ghazalah. Kedua menyatakan Al-Ghaz(z)ali dengan tasydid ‘z’, karena bapaknya tukang pemintal wol (Ghazzal). Dan yang rajih—wallahu a’lam—adalah yang tasydid huruf ‘z’nya, mengingat setelah ditelusuri tidak ada kampung di Thus yang bernama Ghazalah, sedangkan bahwa bapaknya seorang tukang pemintal wol adalah benar. Hanya di Indonesia terlanjur populer yang pertama.

Ketika bapaknya sakaratul maut, ia menitipkan Ghazali dan Ahmad (adiknya) kepada sahabatnya yang seorang sufi agar mendidik keduannya. Dari sini fase pertama Ghazali dimulai: belajar dasar-dasar agama kepada seorang fakih yang suufi.

Sayangnya sufi itu tidak lama mendidik keduanya karena harta yang dititipkan ayah mereka untuk membiayai keduanya telah habis. Sedetik kemudian ia menyarankan kepada keduanya nyantri atau mondok ke suatu pesantren karena di sana ada beasiswa untuk para santri.

[nextpage title=”2. Fase ABG ke Jurjan (Ngaji Syariat)”]

2. Fase ABG ke Jurjan (Ngaji Syariat)

Dikisahkan dalam Thabaqat Asy-Syafiiyah Al-Kubra karya Imam As-Subki bahwa Ghazali muda belajar fikih kepada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Radzikani. Kemudian melanjutkan rihlah ilmiahnya ke kota Jurjan nyantri kepada Syekh Abu Nashr Al-Ismaili.

Ghazali rajin mencatat ilmu-ilmu dari gurunya tersebut hingga tamat. Lalu ia kembali ke kotanya, Thus. Ghazali menceritakan sebagai berikut:

Di tengah jalan rombongan kami dirampok. Semua yang aku miliki dirampas. Mereka pergi. Aku ikuti. Gembong perampoknya menoleh kepadaku seraya berkata:

“Pergi! kurang ajar! Jika tidak, mampus kau!”

“Aku mohon padamu—demi Zat yang engkau kepada-Nya memohon keselamatan—agar berkenan mengembalikan catatanku saja, bukankah itu tidak kalian perlukan.”

“Catatanmu tentang apa?”

“Itu merupakan catatan ilmuku selama mengembara (nyantri) yang saya peroleh dengan mendengar, menulis dan memahaminya.”

Si perampok tertawa sembari berkata, “Bagaimana bisa kamu mengklaim memahami ilmu padahal kami telah mengambilnya darimu, lantas kamu kehilangannya, dan menjadi tanpa ilmu?!”

Kemudian ia menyuruh anak buahnya mengembalikan catatan-catatan ilmu Ghazali. Dari peristiwa itu Ghazali sadar seolah-olah diingatkan Allah bahwa ilmu itu fis shudur la fis suthur (di dalam ingatan, bukan di buku).

Oleh karenanya sesampai di Thus, ia bertekad menghafalkan semua catatan ilmunya. Memakan waktu tiga tahun (470-473 H). Ghazali berkata, “Aku telah hafal semua catatanku selama tiga tahun. Kini jika aku dirampok lagi, aku tidak akan kehilangan ilmuku.” (Thabaqat Asy-Syafiiyah, 4/102).

Baca juga:  K.H. Zayadi Muhajir, Ulama Besar Betawi yang Makamnya Banyak Diziarahi

[nextpage title=”3. Fase Nyantri ke Imam Al-Haramain di Naisapur (Memperdalam Syariat dan Filsafat)”]

3. Fase Nyantri ke Imam Al-Haramain di Naisapur (Memperdalam Syariat dan Filsafat)

Pada tahun 473 H. Ghazali mengembara ke Naisapur (Ibukota Dinasti Saljuk dan kota ilmu setelah Baghdad). Di Naisapur beliau menjadi mahasiswa sekaligus Asdos (Asisten Dosen) Imam Juwaini. Setelah ia belajar sungguh-sungguh kepada tokoh yang digelari Imam Dua Tanah Suci sampai-sampai disebutkan gurunya takjub dan “iri” dengan kejeniusan muridnya itu seraya berkata, “Ghazali itu bahrun mughdiq (samudra yang luas),” (At-Thabaqat, 4/103).

Ketika menjadi mahasiswanya, ia rangking pertama, terbaik pertama se-Universitas Nidzamiyah cabang Baghdad, mengungguli 400 mahasiswa lainnya. Perlu diketahui bahwa Universitas Nidzamiyah merupakan kampus bonafit di masa itu yang didirikan oleh Menteri Nidzamul Mulk.

Ibnu Jauzi mengisahkan ketika Ghazali menulis buku Al-Mankhul fi Ilmi Al-Ushul, Imam Al-Haramain berkata padanya, “Kamu telah menguburku sedang aku masih hidup, apa kamu tidak bisa sabar sedikit sampai aku mati?” (Al-Muntadzam fi Tarikh al-Muluk wa al-Umam, 9/505).

[nextpage title=”4. Fase Popularitas dan Keemasan di Al-Muaskar dan Baghdad (Mengajar dan Menjabat)”]

4. Fase Popularitas dan Keemasan di Al-Muaskar dan Baghdad (Mengajar dan Menjabat)

Ketika Al-Juwaini wafat (478 H) ia mengembara ke Al-Muaskar dengan niat menemui Menteri Nidzamul Mulk yang memiliki Majelis Alim Ulama (tempat diskusinya para ulama). Pada waktu itu umur Ghazali baru 28 tahun.

Di sana ia nimbrung, berdialektika dan berdebat ilmiah dengan para ulama senior hingga suaranya didengar dan pendapatnya diperhitungkan berkat kecerdasan dan kedalaman ilmunya. Mereka mengakui kejeniusannya dan menaruh hormat padanya.

Akhirnya Menteri Nidzamul Mulk meminangnya menjadi dosen di pusat Universitas Nidzamiyah (An-Nidzamiyah) di Baghdad. Menjadi dosen di kampus ini merupakan jabatan bergengsi dan prestisius yang didamba-dambakan dan diperebutkan oleh para cendekiawan dan ulama saat itu.

Ghazali ke Al-Muaskar tahun 478 H. Pada tahun 484 H/1091 M ia pindah ke Baghdad, mengajar di kampus An-Nidzamiyah. Jadi untuk bisa mengajar di sana ia butuh waktu enam tahun berdialektik dan berdiskusi dengan ulama di Majelis Alim Ulama (Semacam MUI kalau sekarang).

Usianya waktu itu baru 34, tapi sudah menjadi—istilah sekarang—Profesor Doktor kelas dunia internasional yang disegani semua ulama pada masanya. Namanya terkenal di mana-mana. Ada sekitar 400 ulama (pascasarjana) yang kuliah padanya. Kata Ibnul Arabi, “Di Baghdad aku melihat majelis Ghazali dihadiri 400 sorban (ulama),” (Syadzarat Adz-Dzahab).

Pada masa-masa ini, banyak karya yang terlahir darinya di antaranya Maqasid Al-Falasifah, Tahafut Al-Falasifah, Fadhaih Al-Batiniyah, Hujjatul Haq, Qawasim Al-Batiniah.

Namun di tengah-tengah kepopulerannya yang ditandai dengan jabatan yang tinggi, gaji besar, istri, anak dan kemewahan, ia berkata pada dirinya mendeskripsikan jiwanya dan almamaternya (Nidzamiyah), “Aku diuji dengan tadris (mengajar) dan ifadah (memberi pencerahan) kepada 300 mahasiswa di Baghdad,” (Al-Munqidz minad Dhalal, 85).

[nextpage title=”5. Fase I’tizal dan Khuruj (Mengembara)”]

5. Fase I’tizal dan Khuruj (Mengembara)

Ujian mengajar, jabatan, uang, popularitas, dan kemewahan itu membuatnya resah, gundah gulana. Ketika para tokoh berebutan mencari dan mempertahankan posisi yang dimiliki Ghazali (dosen di An-Nidzamiyah), ia dengan sadar dan atas kejeniusannya memilih untuk meninggalkannya. Karena selama ini niat mengajarnya salah, bukan karena Allah.

Baca juga:  Kalau K.H. Ma'ruf Amin Tak Mau Ditemui Si Penista, Itu Artinya Beliau Sangat Marah

Kesadarannya itulah yang menurut Abul Hasan An-Nadwi mengantarkan Ghazali digelari “Hujjatul Islam” (Rijal al-Fikr wa ad-Da’wah, 1/226). Menurut Roy Jackson dalam Fifty Key Figures in Islam, gelar itu disematkan kepadanya karena ia berhasil mengkombinasikan dengan apik antara tiga jaringan utama rasionalitas Islam: penyelidikan filsafat dan logika, yurisprudensi Islam (fikih), dan laku sufi.

Di tengah kecamuk antara tetap mengajar dan dalam kemewahan atau i’tizal (pengunduran diri dari) mengajar, ia memilih untuk meninggalkan semua yang dimilikinya di Baghdad termasuk istri dan anak-anaknya, ditinggal khuruj (keluar mengembara)—pada tahun 488 H—mencari jiti dirinya, mencari makna kebahagiaan yang hakiki (talaqqi al-ahwal) yang semuanya bermuara pada makrifatullah, selaras dengan adagium yang dilontarkan Yahya bin Muadz Ar-Razi, “Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” (siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya).

Dikisahkan bahwa pada detik-detik kritis dan titik klimaks kegalauan emosionalnya, Ghazali sampai tidak dapat mengajar mahasiswanya. Lisannya keluh. Suaranya tercekat di tenggorokan. Satu kata pun tak keluar dari lisannya. Hingga beliau memohon kepada Allah agar disembuhkan (al-Munqidz min ad-Dhalal, 170).

[nextpage title=”6. Kembali ke Tanah Air (Memilih Jadi Begawan)”]

6. Kembali ke Tanah Air (Memilih Jadi Begawan)

Sekitar lebih kurang 11 tahun beliau mengembara ke Damaskus (Suria), Quds (Palestina), Mekah dan Madinah dan lain-lain. Nah, selama pengembaraan inilah beliau mencatat pengalaman spiritual-intelektualnya yang kemudian hari dikenal dengan kitab Ihya Ulumiddin.

Sekembalinya dari pengembaraannya tahun 499 H, beliau diminta ngajar lagi di Nidzamiyah Cabang Naisapur oleh Menteri Fakhruddin Al-Mulk. Dengan terpaksa ia memenuhi perintahnya, dan itu tidak berlangsung lama.

Dan pada akhirnya beliau kembali ke kampung kelahirannya, Thus, membangun semacam pesantren sufi (khanqah/zawiyah) di dekat rumahnya di mana beliau menghabiskan sisa waktunya untuk mengajar, mengkhatamkan Quran, bercengkrama dengan para sufi dan beribadah di sana hingga malaikat maut menjemputnya hari Senin tanggal 14 Jumadal Akhirah.

Kata Ahmad, adiknya Ghazali seperti dikisahkan Ibnul Jauzi, pada subuh senin saudaraku wudhu lantas salat setelah itu berkata, “Aku harus pakai kain kafan,” lalu mengambilnya, menciumnya, dan meletakkan ke matanya. Ia berkata, “Taat dan patuh memasuki kerajaan,” kemudian ia menjulurkan kakinya seraya menghadap kiblat dan wafat sebelum matahari terbit.

Sebelum wafat sempat beberapa sahabatnya meminta nasohat terakhirnya, beliau berwasiat, “Alaika bil ikhlash,” (jagalah keikhlasanmu). Beliau mengulang-ulang wasiat itu sampai ruhnya terpisah dari jasadnya.

Ghazali lahir 450 H/1058 M dan wafat 505 H/1111 M. Masya Allah hanya 53 tahun, umur yang singkat tapi sangat mengesankan.

 

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Alvian Iqbal Zahasfan
Latest posts by Alvian Iqbal Zahasfan (see all)
  • 176
    Shares