Ini 5 Ilmuwan Abbasiyah Penyumbang Peradaban Dunia

Pin It

DatDut.Com – Bani Abbasiyah merupakan rezim berbasis dinasti yang pusat pemerintahannya berada di Baghdad. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132H (750 M) hingga 656 H (1258 M).

Pada masa Bani Abbasiyah, ilmu pengetahuan berkembang pesat. Mulai dari bidang astronomi, kedokteran, kimia, matematika, dan filsafat. Di setiap bidang ilmu pengetahuan tentu saja ada tokoh yang mempeloporinya. Siapa saja tokoh itu? Berikut 5 ilmuwan pada masa Bani Abbasiyah yang paling berpengaruh:

1. Musa Ibrahim Al-Fazari (796-806 M)

Al-Fazari adalah seorang ahli astronomi yang dimandati oleh Khalifah Al-Manshur untuk meenerjemahkan naskah astronomi dari India yang berjudul Brahmasoutrasidanta. Hasil terjemahannya itu berjudul Al-Magest.

Risalah ini mengalami dua kali penyempurnaan. Melalui karya itu pula, para astronom muslim pada masa ini berhasil menciptakan teropong bintang dengan peralatan lengkap di kota Yundhisyapur, Iran. Selain ahli di bidang astronomi, beliau juga ahli di bidang matematika dan astrologi.

2. Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina (980-1037 M)

Ibnu Sina merupakan ilmuwan muslim pada masa Bani Abbasiyah yang mumpuni di bidang kedokteran. Salah satu karya yang termasyhur adalah al-Qanun fi Thibb yang menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina dikenal dengan nama Avicenna di dunia Barat dan dijuluki sebagai “Bapak Pengobatan Modern”. Karyanya di Barat dikenal dengan nama the Canon of Medicine.

Baca juga:  Bukan Cuma Bola, Spanyol Juga Banyak Melahirkan Intelektual Muslim

3. Abu Musa Jabir bin Hayyan (750-803 M)

Jabir bin Hayyan atau dikenal dengan Geber di dunia Barat merupakan salah satu tokoh pada masa Bani Abbasiyah yang ahli di bidang kimia. Salah satu karyanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Ingris, yaitu kitab al-Kimya dalam bahasa Inggis menjadi The Book of the Composition of Alchem.

Sebelum menjadi ahli kimia beliau berguru kepada Barmaki Vizier pada masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Salah satu penemuannya yang masih digunakan sampai sekarang adalah “Hukum Perbandingan Tetap”,  yaitu kuantitas suatu zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi.

4. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850 M)

Al-Khawarizmi merupakan matematikawan muslim yang mengabdikan diri sebagai dosen di sekolah kehormatan yang terletak di Baghdad. Beliau adalah penemu angka mulai dari nol sampai sepuluh. Beliau adalah salah satu ilmuwan muslim yang menjadi tonggak kekuatan Timur pada masanya.

Beberapa penemuannya tidak bisa disangkal oleh dunia Barat yang dikenal suka menyembunyikan penemuan ilmuwan muslim dan diklaim menjadi milik mereka. Satu-satunya yang tidak bisa dipungkiri oleh Barat bahwa Al-Khawarizmi adalah penemu Aljabar.

5. Abu Walid Muhammad bin Muhammad Ibnu Rusyd (1126-1198 M)

Ibnu Rusyd dikenal di dunia Barat dengan nama Averroes. Beliau mencapai puncak kegemilangan pada masa kepemimpinan Khalifah Al-Manshur. Pada masa itu, beliau menjadi raja para pemikir, sehingga tidak ada pendapat selain pendapatnya.

Baca juga:  Ini Sikap, Pandangan, dan Penjelasan Said Aqil Siradj Soal Ucapan Selamat Natal

Beliau adalah tokoh filsafat terbesar Islam. Salah satu karya terbesarnya di bidang filsafat, yaitu Kitab Mabadi al-Falsafah (pengantar ilmu falsafah). Selain ahli di bidang filsafat, beliau juga ahli dalam bidang kedokteran, matematika, dan ilmu hukum.

Nah, terbukti bahwa ternyata Islam juga kaya dengan ilmuwan-ilmuwan muslim yang tidak hanya berpengaruh di dunia Timur tapi juga di dunia Barat. Bahkan penemuan-penemuan para ilmuwan muslim tersebut masih menjadi sumber rujukan ilmu pengetahuan di masing-masing bidang sampai sekarang. Ayo, para pemuda-pemudi muslim jangan mau kalah dengan ilmuwan zaman dahulu yang sangat hebat dan masyhur itu, loh.

 

Maftukhatul Inayah

Maftukhatul Inayah

Mahasiswa Program Studi Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Martapura. Aktif berorganisasi dan kegiatan tulis-menulis.
Maftukhatul Inayah

Post Author: Maftukhatul Inayah

Mahasiswa Program Studi Tarjamah Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta asal Martapura. Aktif berorganisasi dan kegiatan tulis-menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *