Ini 5 Fakta Menarik tentang Pendekar Aswaja, Ustaz Idrus Ramli

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Ustaz Muhammad Idrus Ramli. Namanya telah terkenal dalam kancah pembelaan faham Aswaja, khususnya yang dianut oleh Muslim Nusantara dan NU. Video diskusinya berhadapan dengan tokoh berbagai aliran telah beredar luas.

Kiai kelahiran Rambipuji, Jember, 1 Juli 1975 ini selalu menyampaikan dasar dan dalil kuat berdasarkan perkataan ulama salaf. Cara bicaranya yang tegas dan mantap saat debat membuat lawan diskusi gelagapan. Ia belajar agama sejak kecil. Selama menamatkan sekolah di SDN Gugut, ia belajar dasar-dasar agama, Alquran, Tajwid dan gramatika Arab kepada Kiai Nasyith di Pondok Pesantren Nashirul Ulum. Ia mulai masuk pesantren Sidogiri tahun 1986 setamat SD. Ia mondok di Sidogiri hingga 2004. Tahun 1994, dia menjadi guru tugas di Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Darut Tauhid, Injelan, Panggung, Sampang, Madura. Pernah juga mencicipi jalan-jalan ke Inggris dalam rangka studi komparatif atau studi banding.

Kiprahnya dalam forum ilmiah bahtsul masail telah dimulai sejak 1996 ketika di pesantren Sidogiri. Selain aktif berdiskusi, Idrus Ramli juga berkiprah di dunia kepenulisan. Mulai menjadi staf redaksi Majalah Ijtihad (1995-1996), Pimpinan Redaksi Majalah Ijtihad (1997), Pemimpin Umum Buletin Istinbath (1998-2001), dan Pimpinan Redaksi Jurnal TAMASYA (2003), di Pondok Pesantren Sidogiri, dll.

Di luar pesantren, Idrus Ramli aktif menulis buku-buku seputar Aswaja dan amaliah NU. Buku karyanya yang laris antara lain Pintar Berdebat dengan Wahabi, Mazhab Asy’ari Benarkah Ahlussunah Waljamaah, Jurus Ampuh Membungkam HTI, dll. Pengalamannya dalam berdiskusi sudah tidak diragukan. Baik dalam membantah Wahabi maupun Syiah. Dari sekian banyak kiprah dan dakwah yang dijalani, selain keluasan ilmu dan ketekunan membela aswaja, 5 hal berikut ini termasuk bagian penting dalam perjalanan dakwah dan popularitasnya:

[nextpage title=”1. Ustaz Idrus Ramli dan K.H. Said Aqil Siradj”]

1. Ustaz Idrus Ramli dan K.H. Said Aqil Siradj

Persinggungan Idrus Ramli dengan Said Aqil Siradj berawal di tahun 2010. Masa itu, K.H. Said Aqil Siradj yang menjabat sebagai Ketua Umum PBNU diisukan sebagai orang Syiah. banyak kalangan NU yang menyoroti tulisan-tulisan Kiai Said yang berbau Syiah. Maka dibukalah forum tabayun terhadapnya. Ini benar-benar praktik tabayun di kalangan ulama. Para kiai yang tergabung dalam Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur bertemu di Ponpes Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo, asuhan K.H. Ali Masyhuri. Di tempat ini pula, pada 2009 para Kiai NU “menyidang” dedengkot JIL, Ulil Absar Abdalla.

Ustaz Idrus Ramli termasuk dalam FKM. Ia banyak menyoroti buku Kiai Said yang berbau Syiah. Debat terbuka itu berakhir dengan kesimpulan para kiai bahwa Kiai Said Aqil Siradj masih NU. Hanya beda keluasan ilmu dan kecerdasan yang terkadang tidak dipahami orang banyak. Selain itu, K.H. Said Aqil berjanji akan merevisi bukunya, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial; Mengedepankan Islam Sebagai Inspirasi, Bukan Aspirasi  yang kontroversial.

[nextpage title=”2. Idrus Ramli dan Salafi Wahabi”]

Baca juga:  Belajar Etos Menulis Kitab dari Kiai Sahal Mahfudz

2. Idrus Ramli dan Salafi Wahabi

Nama Ustaz Idrus Ramli semakin terkenal melalui banyaknya forum diskusi atau debat terbuka yang ia jalani melawan pembicara dari kelompok Wahabi. Semua tahu kalau Wahabi sejak semula paling anti dengan apa pun terkait amaliah NU. Semua jadi bidah dan sesat. Apa yang dilakukan ulama NU seperti Ustaz Idrus Ramli hanyalah menjawab, bukan menyerang. Karena serangan dimulai dari pihak Wahabi dengan menyebarkan propaganda antibidah.

Salah satu lawan debat Idrus Ramli yang sekan menjadi lawan abadi adalah Ustaz Firanda Andirja. Keduanya telah lama saling bantah di media online melalui tulisan di website masing-masing.

Puncaknya, pada 28 Desember 2013, Ustaz Idrus Ramli dipertemukan dengan Ustaz Firanda dan Zainal Abidin di Kementrian Agama Batam dalam diskusi ilmiah. Saat itu Ustaz Idrus ditemani oleh K.H. M. Thobari Syadzili. Waktu yang singkat dan bahasan materi yang menumpuk tak mampu menampung diskusi itu dengan sempurna. Menurut Ustaz Idrus dalam catatan di situs resmi miliknya, debat tersebut sebenarnya bukan 2 lawan 2, tetapi 1 lawan dua. K.H. Thobari nampak tak mendapat waktu banyak untuk bicara.

Seperti lazimnya, usai debat itu maka masing-masing pendukung mengatakan pihaknya yang menang. Dalam blog-blog Wahabi dikupas kesalahan dan kesesatan Ustaz Idrus. Meskipun sebenarnya, dari video saja sudah jelas siapa yang kuat ber-hujjah dan siapa yang gelagapan dalam ber-hujjah.

Dibanding perdebatan Ustaz Idrus Ramli dengan Wahabi dalam video yang lain, debat dengan Ustaz Firanda termasuk paling imbang dan alot.

[nextpage title=”3. Idrus Ramli dan Syiah”]

3. Idrus Ramli dan Syiah

Bukan hanya kepada Wahabi saja Ustaz Idrus berdialog. Kecaman dan kupasan kajiannya juga menguak sisi ajaran Syiah. Dialog terbuka dengan Syiah terjadi di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, pada 25 Mei 2014. Dari pihak Suni adalah Ustaz Idrus Ramli dan K.H. Misbah Munir, sementara dari Syiah adalah Sayyid Agil al-Attas dan Husein Shihab.

Dialog itu menarik minat masyarakat hingga banyak yang berbondong-bondong datang. Polres Karimun bahkan samapi menyiagakan 260 personel untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.

Sebagaimana dialog dengan Wahabi, waktu yang memang dibatasi membuat dialog itu hanya berakhir dengan masing-masing pihak mempertahankan argumennya.

[nextpage title=”4. Kritikan Kepada K.H. Said Aqil Siradj”]

4. Kritikan Kepada K.H. Said Aqil Siradj

Akhir-akhir ini, Ustaz Idrus kembali menjadi sorotan karena kritik tajamnya terhadap buku K.H. Said Aqil kembali dipublikasikan. Padahal, buku Kiai Said itu telah dibahas dalam forum tabayun tahun 2010 yang lalu.

Kritikannya terhadap buku Kiai Said Aqil itu diposting dalam akun FB dan situs resmi Idrusramli.com. Karena dipublikasikan menyusul muktamar ke 33 NU di Jombang, artikel tersebut menuai pro dan kontra. Bahkan, artikel itu digunakan oleh kelompok NU Garis Lurus untuk membuat suasana kian panas.

Setelah banyak media mempertanyakan artikelnya dan bahkan menghubungkan dirinya dengan NU GL, Ustaz Idrus mengklarifikasikan masalah ini kepada salah satu media aswaja, Muslimmedianews.com.

Baca juga:  Terbongkar! Bermodal Foto Editan, Abu Janda Pamer Seolah-olah Dekat dengan Ketua PBNU

Ia sampaikan bahwa memang poin yang dibahas dalam artikelnya sudah terbahas dalam forum tabayun beberapa tahun lalu. Dulu juga disepakati bahwa Kiai Said akan merevisi buku tersebut. Ternyata buku itu kembali diterbitkan oleh LTN PBNU, dan bahkan dibagikan gratis ke cabang-cabang. Kasus ini telah dilaporkan kepada para kiai, antara lain K.H. Miftahul Akhyar dan Kiai Ali Masyhuri, namun tak ada respon. Karena suasana saat itu menjelang muktamar, Idrus Ramli urung menulis bantahan terhadap buku Kiai Said karena khawatirnya akan dianggap menjatuhkan calon ketua.

“Setelah muktamar saya tulis. Ini saya lakukan, karena tidak ada kiai yang peduli,” ujarnya. Jadi tulisan tersebut sebenarnya bukan pelampiasan rasa tidak puas atas hasil muktamar, tapi memang sejak sebelum muktamar Idrus Ramli telah siap mengkritik buku Kiai Said.

[nextpage title=”5. Idrus Ramli Ketua Umum NU Garis Lurus?”]

5. Idrus Ramli Ketua Umum NU Garis Lurus?

Nama Ustaz Idrus Ramli sering dibawa-bawa oleh kelompok NU Garis Lurus. Dalam situs resmi Nugarislurus.com, bahkan Idrus Rami dinobatkan sebagai Ketua Umum NU Garis Lurus, sementara itu K.H. Luthfi Bashori sebagai Imam Besarnya, dan K.H. Yahya Zainul Maarif (Buya Yahya) dinobatkan sebagai Rais Amm-nya.

Terkait masalah NU Garis Lurus, Idrus Ramli juga mengklarifikasi kepada Muslimmedianews. Dia menanyakan kenapa disangkutpautkan Kiai Luthfi Bashori dan NU Garis Lurus.

“Saya kok dihubung-hubungan dengan Kiai Luthfi Bashori? Saya jarang sekali bertemu beliau. Mungkin bisa dihitung jari. Saya juga pernah bertemu Ulil, Said Aqil Siraj, dan kiai-kiai lain. Apa tujuannya saya dihubungkan dengan Kiai Luthfi Bashori?”

Sebagaimana diketahui bahwa penggas istilah NU Garis Lurus pertama kali adalah K.H. Luthfi Bashori, Malang, dalam situs resmi Pejuangislam.com. Lantas muncul situs Nugarislurus.com yang justru Kiai Luthfi berlepas tangan dari situs ini.

Terkait dengan NU Garis Lurus Jawa Tengah, Ustaz Idrus Ramli berkomentar, “NU Garis Lurus, walaupun yang membuat orang-orang Jawa Tengah, tapi saya tertuduh sebagai orang nomor satu di dalamnya. Padahal saya baru ketemu salah satu krunya di Jombang kemarin (Muktamar Nu ke-33). Bareng Gus Masrur Rhobitullah,” Singkatnya, Ustaz Idrus Ramli tidak turut campur dan bukan tokoh NU Garis Lurus.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
Close