Ibu, Sekarang Bukan Ramadan (Cerpen Nasrullah Alif)

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Keluarga kecil itu berjalan perlahan menuju TPU (Taman Pemakaman Umum). Seorang pria separuh baya, istrinya, anaknya, dan seorang wanita tua yang sepertinya adalah nenek di keluarga itu.

Mereka berjalan perlahan ke makam yang tepat berada di tengah TPU. Sang istri menuntun nenek perlahan dengan hati-hati, dan si pria memimpin arah ke makam yang dituju. Matahari masih agak terik, tapi langkah kaki mereka sudah mantap. Tak ada keraguan untuk berziarah pada hari itu jua.

***

Setelah itu, hanya air mata yang keluar dari kelopak mata mereka.

“Nak, jangan lupa sahur. Bangunkan ayahmu juga.” Sang nenek menyuruh anaknya, yaitu si istri, untuk lekas sahur. “Bangunkan suamimu, dan anakmu juga.” Ia lanjut menambahkan untuk membangunkan suaminya.

Jarum jam tepat menunjukan pukul tiga. Sahur memang paling pas saat waktu itu. Keluarga kecil itu melangkah terantuk-antuk. Ketahuan sekali mereka tak kuat menahan rasa ngantuk. Masakan sudah siap tersedia di atas meja, namun tak sedikit pun mereka nafsu melihatnya, sekedar tertarik juga tidak.

Mereka makan ala kadarnya, seperti makan yang dipaksakan. Tak lahap, dan tak terlalu bergairah. Meja makan terasa sangat hambar.

“Jangan lupa langsung subuh,” sang nenek mengingatkan lagi

Baca juga:  Ini 5 Fakta Menarik tentang Candi Borobudur

“Iya, bu,” keluarga kecil itu menjawab serempak.

***

Siang masih terik sekali, tapi sang anak sudah amat kehausan. Tak lama ia mendengar sayup-sayup suara penjual es krim dari jauh, dan tak butuh waktu lama penjual itu mendekat ke rumahnya.

Ia amat kegirangan hingga menelan ludahnya sendiri. Baginya, es krim di tengah siang bolong seperti oase bagi musafir yang terjebak di padang pasir. Es krim itu akan menjadi penyelamat bagi sang anak.

Saat penjual es krim tiba tepat depan rumahnya, ia berlari sekuat tenaga tanpa mempedulikan sekitarnya. Sayang beribu sayang, suara seorang wanita tua menghentikan langkahnya. Ia amat  kenal suara itu. Itu adalah suara neneknya. Ia menahan kesal saat suara itu terdengar.

“Ade, ingat puasa!” Sang nenek meneriaki si anak dengan suara yang kencang.

Sang anak terlihat amat kesal. Terlihat sekali di wajahnya. Ia ingin tetap melanjutkan, tapi ibu sudah di depan pintu rumah juga, menghentikan ia untuk melanjutkan niat membeli es krim. Menyebalkan sekali, gerutu sang anak dalam hatinya.

“Aku haus, Bu,” ucap sang anak terhadap ibunya.

“Yang sabar, Nak,” balas ibunya sembari menyuruhnya kembali masuk ke rumah.

Penjual es krim hanya menggelengkan kepalanya. Tanda ia tak paham.

Baca juga:  Pesan Bapak (Cerpen Ali Munir Sangkakala)

***

Adzan isya bergema di penjuru masjid sekitar rumah. Sang nenek sudah bersiap dengan mukena yang melekat di tubuhnya. Ia keluar dari pintu kamarnya, dan menemukan suami anaknya masih berselonjor di sofa dengan santai. Ia hanya melengos sabar, lalu menyuruhnya cepat-cepat ganti baju.

“Heh, sekarang tarawih, cepat ganti baju,” sang nenek menyuruh menantunya itu untuk cepat berkemas.

“Iya, Bu,” jawab sang menantu dengan sekenanya. Terlihat jelas ia sungguh amat malas menjalankan perintah mertuanya itu.

Ia berjalan ke dalam kamarnya, dan membuka pintu kamar dengan agak kencang. Sangat kesal ia ternyata. Si istri di dalam kamar terkejut melihat suaminya.

“Ada apa, sayang?” tanya sang istri kepada suaminya itu.

“Ibumu,” jawabnya dengan melengos.

“Yang sabar, ya,” jawab si istri kepada suaminya sembari mengelus punggungnya.

***

Nasrullah Alif Suherman

Nasrullah Alif Suherman

Mengambil konsentrasi Islamic History & Culture di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Alumni Pesantren Islam Ummul Quro Al-Islami. Asal-usulnya dari Magelang.
Nasrullah Alif Suherman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *