Hukum Usaha Petshop Anjing dalam Pandangan Islam

USEP USMAN NASRULLOH/"PR" PEMILIK toko, Satrijana (57), memberikan minum pada anjing peliharaan milik konsumen yang masih dititip di Goofy Pet Shop di Kompleks Taman Kopo Indah III, Desa Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung, Kamis (23/7/2015). Penitipan hewan peliharaan anjing dan kucing pada liburan Lebaran mencapai 30 ekor saat pemiliknya mudik. Tarif jasa berkisar Rp 40.000-Rp 80.000 per malamnya tergantung ukuran hewan peliharaan. Tarif tersebut sudah termasuk sewa kandang, makan, dan perawatan lainnya.*

  • 10
  •  
  •  
  •  
    10
    Shares

DatDut.Com – Salah satu permasalahan yang tengah dihadapi oleh umat Islam saat ini adalah soal memelihara anjing. Mayoritas umat Islam menganggap bahwa anjing itu binatang yang najis dan haram untuk dipelihara.

Namun di samping itu, saat ini tidak sedikit masyarakat muslim juga turut memelihara anjing. Pemahaman boleh atau tidaknya memelihara anjing menjadi meluas yang kemudian menjadi permasalahan yang kini terjadi di masyarakat hingga merembet pada pertanyaan soal bagaimana hukum usaha petshop yang menjual perlengkapan anjing.

Seperti yang kita ketahui, banyak umat muslim di indonesia ini yang sudah tahu bagaimana hukum memelihara Anjing. Bahkan dalam sebuah hadits riwayat imam Bukhari di sebutkan:

“Barangsiapa memelihara anjing yang bukan untuk berburu atau menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap hari” [HR. Bukhari No. 5058].

Namun banyak dari kita mungkin yang belum tahu, bagaimana sih hukum usaha petshop yang menjual perlengkapan anjing. Bolehkah? atau justru haram?

Baca juga:  Ketika Salat Tidak Khusyu Sekalipun, Ternyata Ada Banyak Kenikmatan yang Didapat

Menurut Dr. Muhammad Arifin bin Baderi pembina konsultasi syariah bahwa jual beli perlengkapan hewan ternak atau piaraan insya Allah halal, asalkan tidak menjual perlengkapan anjing, karena haram memelihara anjing selain yang untuk berburu, ternak, atau jaga ladang.

Apalagi dalam sebuah usaha petshop bukan tidak mungkin owner juga akan ikut merawat atau memelihara anjing, mulai dari memandikan anjing customer, menyisirkan rambutnya, hingga terkena jilatan air liurnya sehingga najis akan menempel pada tubuh.

Imam Syafi’i pun menegaskan kalau anjing itu binatang yang najis, sebab kenajisannya maka Rasul memerintahkan untuk mencuci bekas jilatannya hingga tujuh kali yang mana hal ini menunjukkan bahwa najis anjing itu  najis yang berat.

Rasululloah SAW juga bersabda dalam Kitab Bukhari,

نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن ثمن الكلب ومهرالبغي وحلوان الكاهن

Baca juga:  Hukum Menjamin Pelunasan Hutang dalam Islam

Nabi saw melarang dari upah hasil penjualan anjing, upah pelacuran, dan upah dari pedukunan. [HR. Bukhari No. 5319]

Hadits diatas telah jelas menyatakan bahwa hasil penjualan anjing itu haram (upah), karena nabi melarangnya. Bukan tidak mungkin hasil dari penjualan perlengkapan anjing atau aksesoris anjing juga haram.

Selain itu, aksesoris pada anjing nantinya akan digunakan untuk keindahan anjing peliharaannya, padahal hukum memelihara anjing sebenarnya adalah  haram jika bukan untuk keperluan berburu, ternak, atau jaga ladang.

Komentar

Dina Karulina Muhlas

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Dina Karulina Muhlas

Latest posts by Dina Karulina Muhlas (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *