Hormati Perbedaan Pendapat, Ini Caranya

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Belakangan di Indonesia terutama di media sosial, kerap muncul perdebatan terkait hal-hal yang sifatnya ijtihad.

Sayangnya, ada saja kelompok yang merasa paling benar sendiri dan menyalah-nyalahkan kelompok lain yang tak sependapat.

Prinsip “pokoknya” membuatnya tidak toleran terhadap perbedaan, padahal yang diributkan hal-hal yang ijtihadi, yang sama-sama dapat pahala, benar atau salah.

Orang-orang seperti ini biasanya merasa paling benar sendiri dan menganggap surga juga kebenaran menjadi hak eksklusifnya. Makanya, mereka cenderung ngototan.

Padahal, para mujtahid saja tidak begitu. Mereka menerima perbedaan itu. Apa pun kebenaran yang diyakininya, para mujtahid tetap menganggap pihak lain yang berbeda pendapat punya potensi yang sama dalam mendapat kebenaran.

Nah, berikut ini 5 hal agar kita bisa menyikapi dan menghargai perbedaan pendapat terkait urusan ijtihad, seperti yang ditulis oleh Mohammad Amin Syifa Widigdo, kandidat doktor dari Indiana University Amerika Serikat, dalam catatan Facebooknya:

1. Posisi Tashwib

Posisi ini prinsipnya memandang bahwa Allah Swt. tidak memberi keputusan hukum yang pasti (hukm muʿayyan) dalam perkara yang belum pasti sehingga mujtahid diberi keleluasaan untuk melakukan ijtihad.

Seorang mujtahid hanya dituntut untuk melakukan penalaran yang dapat menghantarkannya pada keyakinan bahwa pendapatnya kemungkinan besar benar (ghalabat al-zhann).

Apabila ada dua orang mujtahid berselisih pendapat karena mempunyai dua hasil ijtihad yang berbeda, keduanya tetap dianggap benar karena sama-sama sudah mencapai ghalabat al-zhann.

Dua-duanya mendapat ganjaran. Posisi ini diwakili oleh Abu Bakr al-Baqillani.

2. Posisi Takhthiah

Posisi ini dipelopori oleh Abu Ishaq al-Isfara’ini. Posisi ini berpandangan bahwa Allah Swt. mempunyai sebuah keputusan hukum yang pasti (hukm muʿayyan) sebagai sebuah kebenaran dalam perkara yang belum pasti hanya saja tidak dapat ditangkap secara utuh oleh manusia.

Manusia hanya mungkin untuk sampai pada point yang paling mendekati kebenaran saja (al-aqrab).

Seorang mujtahid yang dengan penalarannya berhasil sampai pada poin yang paling mendekati kebenaran tersebut dinilai benar dan berpahala.

Namun demikian seorang mujtahid yang dengan ijtihadnya tidak berhasil sampai pada poin yang paling mendekati kebenaran tersebut, maka dia dan ijtihadnya dinilai salah tapi kemudian kesalahannya tersebut dimaafkan.

3. Posisi Tengah

Menengahi dua posisi di atas, di mana yang satu membenarkan semua pendapat (tashwib) meskipun saling bertentangan dan yang lain menilai bahwa satu dari dua pendapat yang bertentangan adalah salah (takhthiah), Imam al-Haramayn al-Juwayni mengajukan posisi intelektual alternatif.

Baca juga:  Penjelasan Lengkap tentang Sifat Wajib 20

Di satu sisi, dia mengkritik al-Baqillani yang menganggap tidak ada hukum yang pasti (sebagai poin kebenaran) dalam urusan yang tidak pasti dan mengambil pendapat al-Isfara’ini yang menyatakan adanya keputusan hukum yang dikehendaki Tuhan sebagai poin kebenaran.

Di sisi yang lain, Imam al-Haramayn juga mengkritik pendapat al-Isfara’ini berkaitan dengan mujtahid dan ijtihād yang salah sebagai pendapat yang tidak tepat seraya mengadopsi pendapat al-Baqillani tentang pentingnya ghalabat al-zhann sebagai basis bagi sebuah amal.

Singkatnya, bagi Imam al-Haramayn al-Juwayni, yang dituntut dari seorang mujtahid itu adalah menyampaikan penalaran agar mencapai titik terdekat dengan kebenaran (al-aqrab atau al-ashbah) hingga tingkat yang meyakinkan (ghalabat al-zhann).

Selama seorang mujtahid berhasil mencapai tingkat ghalabat al-zhann dalam berijtihad dan beramal selaras dengan hasil ijtihadnya tersebut, maka dia dinilai benar dan berpahala.

4. Mujtahid Dianggap Benar dalam Hal Ini

Misalnya dalam hal penentuan awal Ramadan. Anggap saja awal Ramadan yang benar menurut Allah Swt bertepatan dengan 6 Juni 2016. Namun, kebenaran tentang tanggal masehi awal Ramadan tersebut tidak dapat diketahui dengan pasti.

Dalam hal ini, tugas seorang mujtahid bukanlah untuk mengetahui kebenaran tanggal tersebut dengan pasti, melainkan, untuk sampai pada keyakinan yang tinggi (ghalabat al-zhann) bahwa ijtihadnya mendekati kebenaran tersebut.

Yang kemudian harus dilakukan oleh seorang mujtahid adalah menggunakan metode tertentu, baik rukyah maupun hisab, untuk menghantarkan ijtihadnya kepada poin yang paling mendekati kepada kebenaran, yakni awal Ramadan menurut Allah Swt.

Jika seorang mujtahid dengan metode ru’yah menyimpulkan dengan keyakinan yang tinggi (ghalabat al-zhann) bahwa awal Ramadan adalah 6 Juni 2016 dan dia mulai berpuasa hari itu, maka dia dinilai benar.

Benar dalam dua pengertian, yaitu bahwa dia beramal sesuai dengan ijtihadnya dan sekaligus sampai pada kebenaran tanggal yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah Swt.

Demikian pula dengan mujtahid lain yang dengan metode hisab sampai pada kesimpulan yang meyakinkan (ghalabat al-zhann) bahwa awal Ramadan adalah 7 Juni 2016 dan lalu mulai berpuasa pada hari itu.

Dia juga dianggap benar. Benar dalam pengertian bahwa dia telah mengamalkan hasil ijtihadnya meskipun salah dalam hal menemukan tanggal yang tepat menurut Allah Swt.

Baca juga:  Hijrah yang Membuat Kita Tak Berhenti Hijrah

Hal yang sebaliknya bisa terjadi, misalnya jika awal Ramadan yang benar menurut Allah Swt. bertepatan dengan 7 Juni 2016.

Maka, yang menggunakan metode rukyah dinilai benar karena mengamalkan hasil ijtihadnya meskipun salah dalam hal menemukan tanggal awal Ramadan yang sebenarnya.

Sementara yang menggunakan metode hisab dinilai benar dalam dua pengertian sekaligus, mengamalkan hasil ijtihadnya dan menemukan tanggal yang sebenarnya.

5. Mujtahid Dianggap Salah dalam Hal Ini

Dalam hal ini, yang dianggap salah dari seorang mujtahid adalah apabila dia mempunyai ijtihad tersendiri hingga mencapai tingkat ghalabat al-zhann namun pada praktiknya dia tidak mengamalkan hasil ijtihadnya dan malah mengamalkan hasil ijtihad orang lain.

Kesalahannya terletak pada inkonsistensi dan inkoherensi antara keyakinan intelektual dan praktik dalam amalan. Kecuali, tentu saja jika mujtahid tersebut pada satu titik menemukan kesalahan pada metode dan hasil ijtihadnya sendiri sehingga mengadopsi metode dan hasil ijtihād orang lain untuk diamalkan.

Posisi intelektual yang seperti ini memberikan jalan bagi kita untuk dapat menghargai pendapat orang lain dengan lebih mudah dan lapang hati.

Meskipun pendapat orang lain itu kita anggap salah, meleset dari kebenaran sejati, tapi jika pendapat tersebut didasarkan atas penalaran yang lurus dan jujur, kita patut untuk menghormati dan menghargainya.

Yang menjadi titik kritis bukan pendapat akhirnya, tapi cara bernalarnya. Kalau penalarannya tidak lurus dan jujur, maka penalaran orang tersebut musti diluruskan sesuai dengan kaidah penalaran yang benar dan diterima (baik penelaran logis maupun tekstual).

Tapi kalau yang dianggap salah adalah pendapatnya sedangkan penalarannya sudah lurus dan jujur, maka posisi orang tersebut harus dihargai dan dihormati.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
Close