Jangan Vonis Hizib Bidah dan Syirik Sebelum Tahu Penjelasan Ulama Ini!

  • 8
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

DatDut.Com – Di kalangan santri dan pesantren, juga kalangan penganut tarekat hizib adalah suatu bentuk susunan atau rangkaian wirid-wirid dan doa-doa khusus yang biasa diamalkan dengan mengharap suatu keberkahan.

Jenisnya macam macam. Ada Hizib Bahr dan Hizib Nashr yang dinisbatkan kepada Syekh Abul Hasan Syadzili (1197 M- 1258 M). Ada juga beberapa jenis hizib lain yang tenar di kalangan santri. Ada Hizib al-Ghazali, Hizib an-Nawawi, dan sebagianya. Contoh berbagai hizib yang biasa diamalkan sebagian kalangan santri bisa dilihat di halaman pinggiran kitab Dalail al-Khairat versi cetakan Indonesia.

Kata hizib sendiri pada asalnya berarti golongan, kelompok, ataupun tentara. Pada perkembangannya, kata hizib dalam tradisi tarekat dan pesantren menjadi istilah untuk “menandai” sebuah bacaan-bacaan tertentu.

Dalam definisi khususnya, hizib adalah himpunan sejumlah ayat-ayat Alquran dan untaian kalimat-kalimat zikir dan doa yang lazim diwiridkan atau diucapkan berulang-ulang sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sebagaimana “tradisi” kelompok tertentu yang selalu meneliti dan mengomentari amaliah umat Islam dengan cara dan pemahaman kaku mereka, maka hizib pun tak luput mendapat sorotan sebagai dzikir atau wirid yang bidah bahkan syirik. Terkait boleh-tidaknya amalan hizib, berikut ulasannya:

[nextpage title=”1. Kreasi dan Variasi dalam Berdoa”]

1. Kreasi dan Variasi dalam Berdoa

Rangkaian kalimat-kalimat dalam hizib merupakan campuran antara doa-doa, ayat Alquran, maupun asma Allah. Sebagian di antaranya merupakan doa ma’tsurat atau nukilan dari hadis-hadis. Yang lain dan kebanyakan adalah kreasi doa oleh pemilik hizib. Karena kebanyakan hizib diamalkan dengan tujuan memohon suatu keberkahan yang tampak nyata sebagai hasil dari doa hizib ini, maka masing-masing hizib mempunyai corak kalimat berbeda. Hal itu dilatarbelakangi sejarah terbentuknya hizib atau tujuan hizib itu sendiri.

Pada dasarnya berdoa dan memohon apapun kepada Allah Sang Maha Pemberi adalah sah-sah saja. Dan, tak ada dalil yang mewajibkan kita untuk hanya mennggunakan doa yang diajarkan Rasulullah Saw.

Meskipun doa-doa yang diajarkan Rasulullah sekian banyaknya, namun Rasulullah tidak pernah melarang umatnya untuk berdoa sesuai cara dan keinginan mereka. Juga tidak melarang umatnya menyusun redaksi kalimat-kalimat doa. Perhatikan kisah seorang Arab dusun yang berdoa dengan doa versinya sendiri dan justru dihadiahi sekantung emas oleh nabi muhamamd Saw.

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw.  pernah bertemu dengan laki-laki Arab pedalaman yang sedang berdoa dalam salatnya dan berkata: “Wahai Tuhan yang tidak terlihat oleh mata, tidak dipengaruhi oleh keraguan, tidak dapat diterangkan oleh para pembicara, tidak diubah oleh perjalanan waktu dan tidak oleh malapetaka; Tuhan yang mengetahui bobot gunung, takaran lautan, jumlah tetesan air hujan, jumlah daun-daun pepohonan, jumlah segala apa yang ada di bawah gelapnya malam dan terangnya siang. Satu langit dan satu bumi tidak menghalanginya ke langit dan bumi yang lain, lautan tidak dapat menyembunyikan dasarnya, gunung tidak dapat menyembunyikan isinya. Jadikanlah akhir umurku adalah saat terbaiknya, amal terbaikku sebagai pamungkasnya, dan hari terbaikku adalah saat aku bertemu dengan-Mu.

Baca juga:  Makna Sakinah, Mawadah, dan Rahmah Menurut Dr. Moch. Syarif Hidayatullah

Saat orang itu usai berdoa, Nabi Saw. memanggilnya dan memberi hadiah emas. Beliau lalu berkata, “Aku memberimu emas itu karena doamu yang bagus,” (HR At-Thabrani dengan sanad sahih).

[nextpage title=”2. Mengandung Tawasul”]

2. Mengandung Tawasul

Di antara untaian kalimat dalam hizib, banyak terdapat tawasul. Baik tawasul dengan asma Allah, nama Rasulullah, bahkan bertawasul kepada malaikat dan para wali.

Sudah menjadi hal maklum, kalangan mayoritas umat Islam menerima tawasul dengan berbagai jenisnya. Entah dengan amal saleh, asma Allah, orang shalih, baik yang telah wafat maupun masih hidup. Contoh tawasul dengan Rasulullah setelah wafatnya seperti  dalam kisah sahabat yang memohon hujan.

Pada masa sahabat Umar, terjadi paceklik luar biasa. Salah satu sahabat datang ke makam Nabi. “Nabi, kami butuh bantuanmu. Mintakanlah pada Allah agar hujan turun untuk umatmu,” pinta sahabat tersebut. Setelah permohonan itu, dia mimpi bertemu Nabi, yang bersabda, “Datanglah ke Umar. Sampaikan salamku untuknya. Dalam waktu dekat, hujan akan turun.” Umar pun menangis ketika disampaikan salam dari Nabi (H.R. Baihaqi dan Ibnu Syaibah).

Baca: Masih Ragu Hukum Tawasul? Baca 5 Penjelasan Ini

Dalam tulisan kelompok Wahabi yang antitawasul dengan orang yang telah wafat, hizib dianggap mengandung kesyirikan selalu menyorot bagian tawasul ini. Agar tak mudah ikut-ikutan suka memvonis bidah dan syirik maka Anda harus lebih memperdalam pemahaman tentang hakikat tawasul.

Baca: 5 Ulama Ini Pernah Tawasul di Kuburan

[nextpage title=”3. Contoh Rangkaian Doa Unik dalam Hadis”]

3. Contoh Rangkaian Doa Unik dalam Hadis

Hizib juga mempunyai ciri khas rangkaian kalimat yang unik, indah, bahkan nyleneh. Sama halnya seperti kata-kata dalam ruqyah versi Arab, dan jampi-jampi atau mantera versi orang Jawa. Sayangnya, banyak orang yang tidak mengerti maksud dari jampi-jampi dan mantera itu langsung memvonisnya sebagai syirik atau sihir. Padahal, kata-kata unik akan lebih menarik pembacanya agar lebih konsentrasi dalam berdoa.

Anggapan aneh terhadap sebagian ungkapan dalam doa sejenis hizib dan mantra ini mungkin karena kita terbiasa berdoa dengan redaksi yang biasa-biasa dan itu-itu saja. Padahal doa Rasulullah Saw. pun banyak di antaranya yang memiliki rangkaian kata indah, unik dan berkesan. Salah satunya diriwayatkan dalam al-Adzkar/113 ketika Nabi menyembuhkan luka atau sakit, beliau menempelkan ibu jari ke tanah lalu diangkat seraya berdoa:

بسم الله تربة أرضنا بريقة بعضنا يشفى به سقيمنا بإذن ربنا

[nextpage title=”4. Ketentuan Hizib”]

4. Ketentuan Hizib

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa membuat kreasi doa bukanlah hal terlarang, sehingga secara redaksi, hizib bukanlah barang terlarang. Pengamatan akhirnya beralih pada khasiat dari doa ini. Hizib selalu berkaitan dengan dunia mistik di mana bacaan hizib selalu mempunyai khasiat khusus. Bahkan, ada yang menuduh hizib sebagai bagian sihir.

Ini adalah anggapan yang salah. Dari sekian hizib yang ada di kalangan pesantren, seluruhnya hanyalah doa, bacaan dzikir, tawasul, dan sejenisnya. Sebenarnya tak jauh beda dengan rangkaian bacaan yang disebut dengan ruqyah. Intinya tidak meminta dan memohon pada makhluk semacam jin sebagaimana halnya sihir.

Baca juga:  Selain Bisa Disayur, Kelor Ternyata Punya Sisi Magis! Ini 5 Fakta Lainnya

Sebagaimana dijelaskan dalam al-‘Ilaj bi ar-Ruqa min al-Kitab wa as-Sunnah, h. 82-83 bahwa doa, hizib, rajah harus mempertimbangkan hal-hal berikut.

  1. Harus menggunakan Kalam Allah Swt., sifat Allah, asma Allah Swt. ataupun sabda Rasulullah Saw.
  2. Menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dapat dipahami maknanya.
  3. Tertanam keyakinan bahwa ruqyah atau doa itu tidak dapat memberi pengaruh apa pun, tapi apa yang diinginkan dapat terwujud hanya karena takdir Allah Swt. Doa dan azimat itu hanya sebagai salah satu sebab saja.

[nextpage title=”5. Kitab Kontroversial tentang Hizib dan Jimat”]

5. Kitab Kontroversial tentang Hizib dan Jimat

Tokoh kontroversial di kalangan pengamal doa, hizib, dan ajimat antara lain adalah Syekh Ali al-Buni (w. 1225 M). Beliau mempunyai beberapa kitab tentang doa-doa, hizib, ajimat atau rajah, yaitu Man’baul Hikmah dan Syamsul Ma’arif. Dua kitab inilah yang masih bisa dijumpai di pesantren.

Sosok Ali al-Buni yang meskipun seorang ahli fikih (faqih) terkenal, namun sosoknya lebih akrab dengan dunia hikmah atau perdukunan. Hal ini menjadi kontroversi tersendiri. Tak sedikit ulama yang menuduh beliau lebih dekat dengan ilmu sihir.

Contoh ulama yang menentang pengamalan doa dan azimat dalam karya al-Buni antara lain Syekh Abu Fadlol as-Senori Tuban, dalam ad-Dur al-Farid Syarh Jauhar at-Tauhid, 327, menyatakan:

…Ketika Anda merenung dengan hati jernih mulai dari Awal yang telah kami sampaikan (pembahasan masalah Sihir), maka Anda akan tahu bahwa Kitab Syamsul Ma’arif dan Manba’u Ushul al-Hikmah yang ditulis oleh Syaih al-Buni atau kitab-kitab lain yang menyerupainya termasuk golongan kitab sihir.

Namun demikian, ulama yang membela dan mendukung serta mengamalkan bahkan mengijazahkan kitab karya Syekh al-Buni juga banyak. Habib Munzir al-Musawa dalam situs majelisrasulullah.org, ketika menanggapi pertanyaan terkait kitab Syamsul Ma’arif, beliau menjawab bahwa kitab tersebut sudah ada banyak versi. Yang mengkhawatirkan adalah kitab yang sudah ditambah-tambahi dengan ilmu sihir. Sementara untuk sekadar penulisan wifiq atau rajah dari kitab ini, maka hal itu tidak terlarang.

Demikian. Pada intinya, hizib, ruqyah, mantera dan jampi, dengan bahasa apa pun, tak lebih adalah doa, dan ketentuannya syari’atnya telah dikupas dalam poin 4.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    8
    Shares
  • 8
  •  
  •  
Close