Hikmah Iblis Abadi Versi Ibnu Qayyim Jauziyah

  • 11
  •  
  •  
  •  
    11
    Shares

DatDut.C0m – Di dalam Al-Quran, setan sering disebutkan sebagai bagian dari dunia jin. Mulanya dia menyembah Allah Swt., menempati langit bersama para malaikat, dan dapat masuk ke dalam surga.

Lalu, ketika Allah Swt. memerintahkannya bersujud kepada Adam a.s., dia membangkang lantaran sombong dan dengki. Sejak saat itu, Allah Swt. mendepaknya dari rahmat-Nya.

Dalam bahasa Arab, sebutan setan diberikan kepada segala hal yang berperilaku congkak dan membangkang. Lalu, sebutan ini dikenakan secara khusus bagi makhluk dari kalangan jin ini karena kesombongan dan pembangkangannya kepada Tuhan.

Setan juga disebut sebagai “thaghut”. Allah Swt. berfirman, “Orang-orang beriman berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut. Oleh karena itu, perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah,” (QS An-Nisa [4]: 76).

Makhluk itu disebut thaghut karena sudah melampaui batas, membangkang kepada Tuhan, serta mengangkat dirinya sebagai tuhan yang disembah. Makhluk ini juga sudah berputus asa dari rahmat Allah. Oleh karena itulah, Allah menyebutnya sebagai iblis.

Kata al-balas dalam bahasa Arab berarti ‘orang yang tidak lain memiliki sesuatu yang baik’. Kata ublisa juga berarti ‘putus asa dan bingung’. Mengenai nama asli setan, sejumlah ulama salaf menyebutkan bahwa nama setan sebelum berbuat maksiat adalah ‘Azazil.

Dalam bukunya Syifa’ul ‘Alil, Ibnu Qayyim Al-Jawziyah menjelaskan hikmah di balik abadinya setan hingga Hari Kiamat, seperti yang disadur oleh M. Rizqillah dalam buku Makam Jin Dempul. Berikut 5 di antaranya:

1. Ujian bagi Manusia

Allah Swt. menjadikan setan sebagai batu ganjalan yang bisa membedakan orang yang baik dengan orang yang buruk, juga pengikut-Nnya dengan musuh-Nya. Oleh karena itu, hikmah Tuhan meniscayakan abadinya iblis agar tujuan-Nya bisa terwujud.

Seandainya Tuhan mematikannya niscaya tujuan itu akan hilang. Sama dengan hikmah Tuhan mengharuskan abadinya kekufuran di muka bumi sampai akhir zaman. Seandainya kekufuran itu dimusnahkan secara total niscaya hikmah-hikmah di balik abadinya kekufuran akan musnah.

Oleh karena itu, hikmah diujinya Adam a.s. meniscayakan adanya ujian pula bagi keturunannya yang hidup setelahnya, sehingga kebahagiaan akan bisa terwujud bagi orang-orang yang menentang dan memusuhi iblis.

2. Balasan atas Amal Saleh

Karena kasih dan kebijaksanaan-Nya telah memutuskan bahwa iblis tidak mendapatkan nasib yang baik di akhirat, sementara makhluk jahat itu pernah melakukan ketaatan dan ibadah sebelum penciptaan Adam a.s., maka Allah Swt. memperkenankan hidupnya abadi di dunia. Itulah bukti bahwa Allah Swt. tidak menzalimi siapa pun yang pernah mengerjakan amal saleh.

Baca juga:  Ingin Lebih Mengerti Dalil-dalil Amaliah Aswaja? Bacalah Mausu’ah Yusufiyyah!

Di pihak lain, bagi orang mukmin, Allah Swt. akan membalas kebaikannya dengan kebaikan-kebaikan di dunia dan akhirat sekaligus. Bagi orang-orang kafir, kebaikan-kebaikan yang dikerjakannya akan dibalas dengan kebaikan di dunia saja.

3. Menambah Dosa

Keabadian iblis sampai Hari Kiamat bukanlah merupakan karamahnya. Jika dia segera mati, itu lebih baik baginya. Sebab dengan begitu, ia akan memperoleh siksaan yang lebih ringan. Akan tetapi, karena dosa itu semakin diperbesarnya dengan terus menerus bermaksiat, melawan Zat yang semestinya dipatuhinya, mencela kebajikan-Nya, bersumpah untuk menghalangi dan mencegah manusia untuk beribadah, maka hukuman dari dosanya itu semakin besar, sebanding dengan perbuatannya.

Jadi, iblis sebenarnya diabadikan di dunia dan ditangguhkan umurnya agar dosanya semakin bertambah. Ia harus menanggung hukuman yang tidak akan ditanggung makhluk lainnya.

Karena dosanya semakin menumpuk, ia menjadi tokoh utama yang memperoleh hukuman berat, sebagaimana ketokohannya dalam melakukan kejahatan dan kekufuran. Karena makna segala kejahatan berasal dari iblis, maka segala azab yang ditimpakan kepada para penghuni neraka dimulai darinya, baru kemudian beralih kepada pengikutnya, dengan berdasarkan keadilan yang nyata dan hikmah yang sempurna.

4. Memimpin Para Penjahat

Hal ini dinyatakan dalam bantahannya terhadap Tuhan yang diceritakan Al-Quran sebagai berikut: “Terangkanlah kepadaku, inikah orang yang lebih Engkau muliakan daripada diriku? Sungguh, jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, maka benar-benar aku akan sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil saja,” (QS Al-Isra [17]: 62).

Allah Swt. mengetahui bahwa ada keturunan Adam a.s. yang tidak cocok untuk tinggal bersama-Nya di surga, tetapi hanya cocok untuk tinggal bersama duri dan kotoran selama-lamanya. Dengan takdir-Nya, Allah Swt. menentukan, “Mereka inilah kawan-kawan dan pengikutmu. Duduk dan perhatikanlah mereka. Setiap kali ada yang lewat di depanmu maka itu bagianmu. Jika ia pantas untuk-Ku, maka Aku tidak akan membuatmu menguasainya, karena Aku akan senantiasa membantu orang-orang yang selalu ingat kepada-Ku, sedangkan kamu pemimpin para penjahat, yang tidak memerlukan bimbingan-Ku dan tidak mau mencari kerelaan-Ku.”

Baca juga:  Selaksa Keteladanan dari Kisah-kisah dalam Kitab Nashaihul Ibad Karya Syekh Nawawi Banten

Dalam hal yang sama, Allah Swt. berfirman, “Setan itu tidak akan menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Kekuasaannya hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan orang-orang yang mempersekutukannya dengan Tuhan,” (QS An-Nahl [16]: 99-100).

5. Kematian adalah Istirahat

Para nabi juga rasul dan semuan manusia akan mati di dunia dan tidak abadi seperti iblis. Kematian itu bukan karena mereka dipandang hina oleh Allah Swt. Sebaliknya, itu terjadi agar mereka segera sampai kepada tempat yang mulia. Beristirahat dari kepenatan, keletihan dunia, dan kekejaman musuh beserta pengikutnya.

Kematian itu juga baik bagi manusia, sebab dengan begitu Tuhan akan mengetahui bahwa kepatuhan mereka kepada para rasul tidak terbatas pada kehidupan mereka, tetapi berlanjut setelah para rasul itu meninggal dunia. Selain itu, manusia tidaklah menyembah mereka, tetapi menyembah Allah Swt., Zat yang memerintah dan melarang mereka, juga Zat yang tidak akan pernah mati.

Banyak sekali hikmah dan kemaslahatan untuk umat manusia yang terkandung di dalam kematian para rasul, baik bagi mereka sendiri maupun umatnya. Selain itu, Allah Swt. tidak menciptakan manusia untuk hidup abadi di dunia. Namun sebaliknya, Dia menciptakan manusia sebagai makhluk yang bergantian di muka bumi, generasi demi generasi.

Oleh karena itu, jika Allah Swt. menjadikan mereka abadi, maka kemaslahatan dan hikmah yang terakndung di dalamnya akan hilang, juga agar bumi tidak semakin sempit. Kematian merupakan suatu kesempurnaan bagi orang yang beriman. Kalau bukan karena kematian, niscaya kehidupan di dunia ini tidak akan baik dan tenang.

Pada akhirnya, kita hanya memohon kepada Allah Swt., semoga dengan karunia dan kemuliaan-Nya, Dia menjadikan kita termasuk orang-orang yang masuk ke dalam agama Islam secara kaffah.

Komentar

Redaksi

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi
  •  
    11
    Shares
  • 11
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *