Hebat Mana Orang yang Dilabeli “Ustaz” dengan “K.H.”?

  • 7
  •  
  •  
  •  
    7
    Shares

DatDut.Com – Dulu hampir pasti bila ada orang yang mendapat gelar “K.H.” adalah orang yang berilmu agama tinggi dan kesalehan paripurna. Seperti sudah ada jaminan tak tertulis dan diketahui semua orang.

Dulu hampir bisa dipastikan juga kalau orang yang dilabeli “K.H.” selalu lebih berilmu dan lebih saleh dibandingkan dengan orang yang hanya dilabeli “Ustaz”.

Kini jaminan seperti itu tidak berlaku lagi. Yang terjadi justru orang yang semestinya masih dalam level “ustaz” kadang tak malu-malu mengkiaikan dirinya sendiri. Begitu juga orang yang masih belum pantas disebut “ustaz” tak sungkan mengustazkan dirinya sendiri.

Ini belum lagi bila mau mengaitkan masalah ini dengan komersialisasi gelar itu. Sudah mafhum di masyarakat, orang yang mendapat gelar “K.H.” tentu “amplop”-nya lebih tebal bila dibandingkan dengan yang masih bergelar “ustaz”.

Apalagi bila dikaitkan dengan status sosial di masyarakat. Orang dengan gelar “K.H” di depan namanya tentu saja lebih terpandang daripada orang yang hanya bergelar “ustaz”.

Karenanya, banyak orang baik melalui dirinya sendiri maupun ormasnya, menggelari dirinya dengan “K.H.” dan “ustaz”, tanpa memperhatikan kealiman dan kesalehannya. Menjamurnya industri media, juga media online dan media sosial, turut memparah hal ini.

Baca juga:  Ulil! Ini 5 Bukti Bahwa Sodom dan Gomora Pernah Diazab karena LGBT

Dalam konteks figur yang sedang banyak menjadi buah bibir, Ahmad Ishomuddin yang namanya mencuat setelah jadi pembela setia penista, saya membuat tulisan ini.

Saya lalu tiba-tiba teringat Ustaz Idrus Ramli. Meskipun gelarnya masih “ustaz”, secara keilmuan Ustaz Idrus Ramli diakui kealiman dan kesalehannya, baik di Indonesia maupun di negara-negara serumpun lainnya.

Nah, kalau selama ini Ustaz Idrus Ramli selalu berdebat dengan ustaz-ustaz salafi atau mengkonter pendapat ustaz salafi, mungkin perlulah sekali-kali beliau berdebat dengan Ahmad Ishomuddin yang dilabeli “K.H”.

Saya penasaran kemampuan baca kitab dan pemahaman Ahmad Ishomuddin terhadap kutubutturats (literatur klasik Islam). Sambil juga membuktikan hebat mana antara yang masih dilabeli “Ustaz” dengan yang dilabeli “K.H.”.

Bagaimana kealiman dan kesalehan Ahmad Ishomuddin perlu diuji, meskipun sudah digelari “K.H.”. Pernyataan dan sikapnya yang meresahkan juga membingungkan, membuat orang kemudian mempertanyakan kealiman dan kesalehannya.

Hari-hari ini di berbagai media diberitakan bahwa dia sudah dicopot dari posisinya di Syuriah PBNU, di MUI dipecat, gelar doktor dan ahli tafsirnya digugat koleganya di IAIN Lampung (karena dia konon belum doktor dan pengajar fikih, bukan tafsir), bahkan gelar hajinya pun diragukan. Hari ini kawan-kawannya sesama alumni Fakultas Syariah IAIN Raden Intan Lampung merencanakan demo untuk dirinya.

Apa pun itu, kalau benar bisa terjadi debat antara Ishom dan Ustaz Idrus Ramli, kita tentu mendapat jawaban apakah dia memang orang yang layak digelari “K.H.” atau tidak. Khusus gelar “H.” ini pun sudah digugat. Saya khawatir, jangan-jangan setelah debat dengan Ustaz Idrus Ramli, label “K.H.”-nya harus ditanggalkan juga.

Baca juga:  Bendera Arab Saudi dan Bendera ISIS Kok Tidak Disebut Bendera Tauhid?

Terakhir, saya sendiri merasa, dia bisa dipakai sebagai saksi ahli penista, karena kubu penista kesulitan mencari ulama yang kompeten yang mau jadi saksi yang meringankan. Jadilah, dia yang dipakai. Tentu kalau ada ulama yang kompeten yang mau, pasti bukan dia yang dipakai, apalagi kompetensi keilmuan dia bukan di bidang tafsir.

Komentar

Moch. Syarif Hidayatullah

Pendiri DatDut.Com. Pegiat dunia literasi dan penerjemahan. Pengkaji hadis, linguistik, naskah klasik, dan wacana media.
Moch. Syarif Hidayatullah

Latest posts by Moch. Syarif Hidayatullah (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *