• 19
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

DatDut.Com – Saat ini kita telah sampai pada bulan Rajab. Itu artinya kita semakin dekat dengan musim haji. Kedatangan musim haji pastinya sudah sangat ditunggu oleh para calon jamaah haji di seluruh dunia. Tak terkecuali calon jamaah haji Indonesia.

Mengingat sekarang ini berangkat haji bukanlah perkara yang gampang. Banyaknya peminat haji yang semakin banyak mengharuskan pemerintah memberlakukan kuota haji yang mengharuskan calon jamaah haji mengantre bertahun-tahun demi menginjakkan kaki di tanah suci.

Dengan pemberlakuan kuota haji ini tentunya pihak travel juga merasa dirugikan karena mereka tidak bebas memberangkatkatkan jamaah haji sebanyak banyaknya dan berdampak pada omset travel haji sendiri.

Berbagai kecurangan pun mereka lakukan. Salah satunya dengan memberlakukan program haji backpacker. Istilah haji backpacker sendiri merupakan sebutan bagi jamaah haji non kuota yang biasanya menggunakan visa kerja atau visa ziarah.

Program ini awalnya hanya ada di luar negeri. Namun lambat laun, penyedia jasa travel haji Indonesia pun tertarik untuk memberlakukan program tersebut. Bahkan program ini telah bebas riwa-riwi di media sosial.

Pelaksanaan haji backpacker ini pastinya sangat beresiko. Pelaku bisa saja dipulangkan ke tanah air atau bahkan dilarang untuk menginjakkan kaki kembali di tanah suci. Lantas, apa hukumnya melaksanakan haji backpacker?

Baca juga:  Ini 5 Hal yang Berlabel Syariah di Indonesia

Pada hakikatnya, menaati peraturan pemerintah adalah wajib selagi peraturan tersebut tidak menyalahi hukum Islam. Dan masalah pemberangkatan haji sendiri merupakan kekuasaan pemerintah yang wajib kita taati.

Terkait hukum melaksanakan haji backpacker, dalam buku Menjawab Problematika Fiqh Keseharian karya K.H. Husnan dan Izet dijelaskan bahwa pelaksanaan haji backpacker dihukumi haram apabila pelaku yakin akan terjadinya dharar pada dirinya.

Apabila ia yakin aman, maka hukumya tidak haram. Sekalipun haji tersebut haram, maka hajinya sah dan sudah dikatakan memenuhi rukun islam untuk melaksanakan haji.

Dalam melaksanakan haji, kita harus memenuhi syaratnya terlebih dahulu. Di antara syarat haji ialah Islam, baligh dan berakal, merdeka, serta mampu dalam hal fisik dan finansial. Tapi, dalam melaksanakan haji hendaknya kita merasa aman.

Apabila perjalanan itu aman tapi butuh pengawalan yang ketat maka hukum haji bisa saja menjadi haram. Syarat aman inilah yang sebenarnya melatarbelakangi adanya pembatasan kuota haji.

Haji dengan kuota resmi mendapat jaminan keamanan dari pemerintah sedangkan haji backpacker harus bertanggung jawab atas keamanannya sendiri.

Baca juga:  Tarawih di Maroko 19 Rakaat, Lho! Masih Ngotot Merasa Paling Benar Dalilnya?!

Tak jarang haji backpacker hilang saat berada di tanah suci dan pihak pemerintah Arab Saudi pun kesulitan mengidentifikasi karena mereka tidak memiliki surat ijin resmi. Kalau sudah begini, banyak pihak akan dirugikan.

Haji memang idaman semua muslim. Balasan pahala dan nikmatnya mengunjungi Baitullah memang sangat menggiurkan. Tak ada salahnya kalau kita memaksakan diri untuk berhaji, tapi ikuti segala prosesnya dengan baik.

Jangan sampai niat baik untuk beribadah kepada Allah berimbas buruk pada diri kita sendiri. Kalaulah Allah sudah memanggil kita untuk datang ke rumahNya, tak akan ada satu halpun yang dapat menghalangi.

Sembari menunggu waktu itu tiba, marilah kita pantaskan diri untuk dapat menyandang gelar haji di hadapan Allah dengan memperbaiki kualitas ibadah kita sehari-hari.

Komentar

Luli Nur Amalia

Luli Nur Amalia

Mahasiswa PAI semester VI Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Luli Nur Amalia

Latest posts by Luli Nur Amalia (see all)

  •  
    19
    Shares
  • 19
  •  
  •  

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.