Ini 5 Hadis yang Melarang Perilaku LGBT yang Perlu Disebarkan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Sebagian pembela dan “pejuang” legalisasi LGBT mengatakan bahwa perilaku LGBT tidak ada larangan khusus dalam Alquran dan hadis. Justru fenomena kaum waria dan orientasi seks berbeda itu telah ada sejak sebelum, selama dan setelah adanya Islam. Nabi Muhammad pun pernah pula menjumpai waria yang berbincang dengan para istrinya. Sehingga disimpulkan bahwa Nabi Muhammad memaklumi fenomena itu.

Pada masa lalu perbedaan yang terjadi pada kaum lesbi dan gay hanyalah sebatas penampilan sebagai waria. Sehingga yang ada hanyalah LGB tanpa T karena saat itu belum ada operasi ganti kelamin (transgender). Perlu diakui memang, fenomena LGB memang sudah ada sejak zaman dahulu kala. Namun bukan berarti bisa diartikan mereka dimaklumi dan dipersilakan mengumbar serta melegalkan perilaku terkait orientasi seksnya.

Kaum LGB sudah ada sebelum dan selama jaman nabi, memang betul. Tapi Rasulullah tidak membiarkan mereka mengumbar dan menularkan perilaku itu. Terbukti banyak kecaman dan ancaman dari Rasulullah atas tindakan penyimpangan seksual ala kaum Nabi Luth itu. Setidaknya ada 5 hadis yang menunjukkan bahwa Rasulullah menolak dan mengecam perbuatan seks sesama sejenis. Rasulullah juga memberi rambu-rambu agar orang normal tidak terjerumus dalam minat seks menyimpang. Berikut 5 hadis terkait perilaku LGBT:

[nextpage title=”1. Allah Melaknat Tindakan Homoseks”]

1. Allah Melaknat Tindakan Homoseks

Allah melaknat orang yang melakukan perbuatan seperti perbuatan kaum Nabi Luth,” (HR Ahmad, Thabrani, Hakim, dan Baihaqi).

Dalam riwayat lain, laknat itu dikatakan Nabi hingga tiga kali. Memang perbuatan kaum Nabi Luth jaman dahulu tidak hanya perbuatan homoseks dengan model sodomi atau analseks–seperti yang disimpulkan Ulil dalam kicauannya–tetapi perbuatan yag paling dikecam oleh Nabi Luth adalah perilaku ini. Sehingga kata perbuatan kaum Nabi Luth lebih mengerucut kepada perilaku homoseks.

(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala Dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kalian ini adalah kaum yang melampaui batas,’” (QS Al-A’raf [7]: 80-81).

[nextpage title=”2. Nabi Khawatirkan Umatnya Meniru Perbuatan Kaum Luth”]

2. Nabi Khawatirkan Umatnya Meniru Perbuatan Kaum Luth

Sesungguhnya, perkara yang paling aku takutkan terjadi pada umatku adalah perbuatan seperti kaum Nabi Luth,” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Abu Ya’la, Hakim, dan Bayhaqi).

Baca juga:  Hormati Perbedaan Pendapat, Ini Caranya

Melanjutkan keterangan sebelumnya, dalam berbagai ayat yang mengisahkan kehancuran umat para nabi terdahulu, selalu dijelaskan perbuatan buruk paling menonjol yang identik dengan mereka. Misalnya umat Nabi Syuaib a.s. yang berbuat kejahatan dengan melakukan perampokan dan penganiayaan serta melakukan kecurangan dalam timbangan. Begitu juga ketika mengisahkan kaum Sodom yang melakukan berbagai kejahatan, namun yang paling menonjol adalah perilaku homoseks dan perbuatan analseks yang dalam bahasa Arab disebut liwath.

Melengkapi penjelasan di atas, terdapat keterangan dalam Masawil Akhlaq karya Imam al-Kharaithi, I/450, bahwa Sufyan ats-Tsuri berkata, “Kalau saja seorang lelaki bermain dengan anak muda antara dua jari di antara jari-jari kakinya dengan tujuan syahwat, niscaya itu tergolong liwath.”

[nextpage title=”3. Ketika Masing-Masing Cukup dengan Sesama Jenisnya”]

3. Ketika Masing-Masing Cukup dengan Sesama Jenisnya

Jika umatku telah melakukan 5 perkara, maka tunggu kehancuran atas mereka. Satu sama lain di antara mereka saling mengutuk, memakai sutra (bagi kaum laki-laki), menjadikan para penyanyi wanita (sebagai penghibur), meminum khamr, laki-laki mencukupkan (kebutuhan biologisnya) dengan sesama laki-laki, dan wanita mencukupkan (kebutuhan biologisnya) sesama dengan wanita,” (HR. al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman).

Peringatan Rasulullah ini cukup menyadarkan dan menjadi landasan bahwa Islam tidak hanya mengecam dan melarang bentuk sodomi saja, seperti yang diragukan Ulil dkk. Rasulullah menggunakan bahasa yang diperhalus dengan ungkapan lelaki mencukupkan dengan sesama lelaki, perempuan mencukupkan dengan sesama perempuan.

Entah bagaimana mereka berperilaku dalam mengeksplorasi cara memuaskan hasrat seksual dengan sesama jenisnya, jelas tercakup dalam keumuman hadis ini. Masih ngeyel mengatakan bahwa yang dikecam hanya perilaku sodomi dengan paksaan? Baca hadis berikut ini:

[nextpage title=”4. Wanita Zina dengan Wanita”]

4. Wanita Zina dengan Wanita

Sihaq antara para wanita adalah perbuatan zina di antara mereka,” (HR Thabrani).

Istilah lesbian dalam Lisanul ‘Arab disebut as-sahqu yang artinya ialah lembut dan yang halus. Kemudian dari kata ini, berkembang kalimat musahaqah an-nisa`, yang berarti hubungan badan yang dilakukan oleh dua orang wanita sebagaimana yang dilakukan oleh Kaum Luth. Sebagian ulama seperti Imam Alusi menyamakan antara sihaq (lesbi) dengan perilaku kaum Luth karena illah (alasan) perbuatannya sama, yaitu penyimpangan seksual yang dilaknat oleh agama (Alusi, Ruh al-Ma’ani, VIII/172-173).

[nextpage title=”5. Lelaki Tidak Boleh Tidur Satu Selimut dengan Sesama Lelaki”]

5. Lelaki Tidak Boleh Tidur Satu Selimut dengan Sesama Lelaki

Baca juga:  Nabi Ismail dan Hewan Kurban sebagai Bukti Cinta

Janganlah laki-laki melihat aurat laki-laki lainnya. Jangan pula wanita melihat aurat wanita lainnya. Janganlah laki-laki berselimut dengan laki-laki lain dalam satu selimut dan jangan pula seorang wanita berselimut dengan wanita lain dalam satu selimut,” (HR Muslim).

Lihatlah, betapa Rasulullah memberi rambu-rambu agar umatnya tidak terjerumus kepada hubungan sesama jenis. Pada dasarnya fenomena kecenderungan dengan sejenis juga bisa terjadi pada semua orang. Senang dan gemas ketika melihat lelaki ganteng. Atau, wanita gemas ketika melihat wanita lain yang cantik dan imut.

Riak-riak kecil ini berpotensi menjerumuskan kepada hubungan yang terlarang dalam Islam. Sehingga demi menjauhkan diri dari hal tercela, ulama-ulama fikih pun membahas tentang amrad atau lelaki tampan. Mereka juga menghindari menatap pemuda tampan. Hal ini tidak dipahami oleh para pembela LGBT.

Bermula dari saling sentuh, akhirnya merasa nyaman dan selanjutnya terjadi hal-hal yang terlarang. Semua bisa berawal dari tidur satu selimut itu. Maka, Rasulullah memperingatkan dan melarang melihat aurat dan tidur bersama meskipun itu dengan sejenisnya.

Nah, tulisan ini saya rasa tidak ada guna dan manfaat bagi mereka yang telah terjangkit liberalisme akut. Yang menganggap Alquran hanyalah produk Usman bin Affan, hadis hanyalah ucapan seorang Muhammad dan bisa salah karena telah terpaut ratusan tahun dengan kita, atau menganggap para ulama hanyalah manusia biasa yang berpendapat. Tulisan ini hanya sebagai penambah “suplemen” agar kita yang masih waras mensyukuri kewarasan kita degan tidak turut mendukung dan memperjuangakn legalisasi perilaku LGBT.

Terakhir, sebagaimana yang ditekankan para ulama, kita juga harus menghormati hak para pengidap LGBT dengan tidak mencemooh dan mem-bully mereka karena mereka berhak untuk diobati. Semoga kita dan keluarga kita terjaga dari virus LGBT.

%
Happy
100 %
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close