• 1.2K
  •  
  •  
  •  
    1.2K
    Shares

DatDut.Com – Semenjak ketenarannya, tidak dipungkiri bahwa Habib Syech telah membawa banyak perubahan dalam masyarakat, khususnya dalam berbagai bentuk penyelenggaraan pengajian.

Metode yang dihadirkan olehnya telah membawa warna baru. Berbagai inovasi kreatif membuat suasana pengajian jadi berbeda.

Selain itu, kehadiran Habib Syech dengan model pengajiannya memberi efek luar biasa pada masyarakat. Mulai dari kesemangatan menghadiri majelis salawat yang diadakan pada hari besar dan acara-acara khusus, hingga terbentuknya jamiyyah-jamiyyah (organisasi) pembacan salawat.

Peserta pengajian juga mengalami perubahan segmen usia. Nah, apa saja hal baru yang muncul sebagai efek ketenaran Habib Syech? Berikut ini lima ulasannya:

1. Corak Baru Pengajian

Habib Syech membawa dan mengenalkan kepada masyarakat muslim suatu corak baru penyelenggaraan pengajian.

Kalau dulu umumnya pangajian banyak dihiasi sambutan bertele-tele dari banyak pihak, kini pengajian salawat menjadi simpel dan ringkas. Cukup pembukaan, sambutan panitia lalu pejabat tertinggi yang hadir, langsung ke inti, yaitu pembacaan maulid.

Pengunjung pengajian juga menghadirkan golongan pemuda. Mereka yang menamakan diri sebagai Syekher Mania menghadiri di manapun majelis salawat yang mengundang sang habib.

Pengunjung pengajian yang dulu hanya pasif menjadi pendengar, dalam pengajian majelis salawat menjadi aktif dengan turut melantunkan salawat.

Syair-syair salawat yang dulunya hanya dihapal santri, kini anak-anak kecil dan masyarakat awam pun turut melantunkan meski samar-samar. Minimal nadanya.

Semenjak munculnya corak pengajian salawat yang dikenalkan oleh Habib Syech, otomatis suasana pengajian menjadi semarak bak konser musik. Kehadiran generasi muda kian menyemarakkan suasana.

Kibaran bendera Merah Putih, bendera majelis dan berbagai atribut bahkan atribut supporter bola turut menyemarakkan acara salawat. Meskipun akhirnya dilarang membawa atribut selain yang ditentukan oleh Habib Syech, namun dalam majelis habib yang lain, semarak berbagai atribut itu masih menjadi keunikan tersendiri.

Tetapi namanya pengajian, meskpun yang hadir ribuan orang dan ramai bernyanyi dan bahkan berjoget, namun mereka tetap rapi dan tidak ada kerusuhan.

Baca juga:  Waspadai Fitnah Akhir Zaman, Lakukan 5 Nasihat Habib Luthfi Ini

Terbukti dari sekian banyak dokumentasi pengajian, hanya satu video yang merilis Habib menghentikan pengajian, sementara salawatan karena penonton rusuh.

Kejadian itu di Pesantren Sulaiman, Trenggalek, pada 11 Oktober 2013. Habib Syech berhenti sejenak dan melarang aksi lempar-lempar yang dilakukan sebagian kecil jamaah.

Kunci dari ketertiban dan kerapian itu adalah karena memang pembacaan salawat dilakukan dengan duduk. Baru pada mahallul qiyam (posisi berdiri), semua berdiri dan merangsek ke depan. Namun tetap tertib.

Pada akhirnya, dalam majelis Habib Syech, saat mahallul qiyam dilarang untuk pindah tempat. Cukup berdiri di tempatnya agar lebih tertib.

2. Ciri Khas Baru Musik dalam Salawatan

Habib Syech juga membawa dan mengenalkan corak musik hadrah yang berbeda dari biasanya. Semangat, meriah, dan mudah ditiru oleh banyak kalangan.

Kalau didengar dari kejauhan, suara bass yang dihasilkan dari alat tradisional itu mirip suara musik disko. Didukung dengan sound system yang baik, suasana pembacaan salawat menjadi meriah dan semangat.

Corak musik yang dikenalkan Habib Syech membuat banyak perkumpulan salawat mudah menirukan dan turut memasyarakatkan lagu-lagu salawat. Variasi sebagai pemanis biasanya hanya pada beda ketukan dan pukulan bass-nya.

Dengan demikian, tujuan utama untuk membuat masyarakat semakin akrab dengan salawatan sudah tercapai.

3. Terangkatnya Nama Habaib

Dulu, rata-rata pengajian di masyarakat hanya menghadirkan para kiai dan dai penceramah. Penceramah yang lucu biasanya malah digemari.

Hingga pesan agama yang disampaikan malah kurang terserap. Kalangan syarif atau keturunan Rasulullah jarang dikenal sebagai pengisi acara pengajian.

Namun, seiring ketenaran Habib Syech, habaib di berbagai daerah pun mulai semakin dikenal. Karena untuk menghadirkan Habib Syech langsung tentu jadwalnya padat dan harus antri, mendatangkan tokoh lain dari kalangan habaib untuk bersalawat menjadi pilihan.

Tak jarang pula para habaib memang telah memiliki majelis rutinan salawat. Mereka menjadi pilihan lain untuk mengadakan pengajian salawatan ketika mengundang Habib Syech sudah semakin sulit.

Baca juga:  Siapa Bilang Alumni UIN Cuma Jadi Ustaz, Ini 5 Pengamat Politik Alumni IAIN/UIN

4. Munculnya Majelis-majelis Salawat

Semenjak terkenalnya sang habib dengan segala hal yang dibawanya, musik, lagu hingga bentuk pengajian, muncullah majlis-majlis salawat di berbagai daerah.

Mereka juga mengadakan acara-acara rutin majelis salawat. Corak musiknya pun mengikuti idola mereka: Habib Syech.

Fenomena Habib Syech juga melahirkan para generasi muda pencinta salawat dan habaib. Mereka ini merupakan warna baru dari sekian kelompok fanatik pendukung tokoh atau artis tertentu.

Syekher Mania merupakan pengisi kutub positif dari kutub negatif kelompok penggemar artis dan selebritis yang dalam acara konser mereka tidak sepi dari hal berbau maksiat.

5. Memasyarakatnya Maulid Simtud Durar

Maulid Simtud Duror merupakan karya Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi (24 syawal 1259 H/1839 M-20 Rabiuts tsani 1333 H/1913 M). Dulu maulid ini hanya dikenal sebagian kecil kalangan saja. Khusunya para habaib.

Masih kalah tenar dari Maulid al-Barzanji yang sudah lebih dulu memasyarakat. Semenjak kehadiran Habib Syech, Maulid Simtud Durar semakin dikenal meskipun masih sebatas dalam majelis-majelis dan acara salawatan besar.

Dari sisi memasyarakat, Maulid Simtud Durar saat ini mungkin masih di bawah al-Barzanji. Ini karena al-Barzanji lebih mudah dibaca dan lebih bebas dan santai pembacaannya.

Bahkan tanpa adanya para penabuh terbang, al-Barzanji enak saja dibaca. Beda dengan Simtud Durar yang terasa nikmat bila dilantunkan dengan suasana sakral.

Komentar

Nasrudin

Nasrudin

Alumni Pesantren Darussalam Blokagung & Program Pasca Tahfidz VIII Pesantren Bayt Al-Qur'an Pusat Studi Al-Qur'an Jakarta. Menyukai bakso dan martabak. Penggemar kajian kitab klasik dan kehidupan santri. Saat ini tinggal di Lampung.
Nasrudin
  •  
    1.2K
    Shares
  • 1.2K
  •  
  •