Habib Jindan, Singa Podium yang Penuh Kelembutan

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com– Apa yang pertama kali terbayang di kepala Anda ketika mendengar kata singa podium? Ya, Presiden Sukarno dan Bung Tomo, tentunya.

Kenapa mereka dijuluki singa podium? Karena orasinya yang mampu membakar semangat juang rakyat Indonesia menghadapi penjajah.

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!” adalah semboyan dari salah satu pidato Presiden Sukarno yang kemudian dikenal dengan singkatan Jas Merah.

“Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!” merupakan closing dari pidato Bung Tomo ketika rakyat Surabaya di serang oleh tentara Inggris.

Pidato ini pun membakar semangat para pejuang di Surabaya dan akhirnya berhasil mengusir kedatangan tentara Inggris.

Jika Sukarno dan Bung Tomo menggelegar dalam menyampaikan pidatonya, lain halnya dengan Habib Jindan bin Novel Jindan.

Pempinan Yayasan Al-Fachriyah ini juga dikenal sebagai singa podium lantaran kemampuannya dalam menyampaikan dakwah.

Baca juga:  Surat Ibn Al-‘Arabî kepada Al-Râzî yang Menyindir Kebiasaan Buruk Kaum Intelektual

Lembut dalam penyampaian, namun tegas dalam sikap maupun pendirian adalah ciri khas dakwahnya. Kelembutan tutur katanya inilah yang membuat dakwahnya mudah diterima dan dicintai oleh seluruh lapisan masyrakat.

Salah satu buktinya, ketika kakak Habib Ahmad bin Novel ini berceramah pada Haul Masyayikh Pesantren Langitan Tuban yang ke-42.

Meski diguyur hujan, jemaah tidak meninggalkan tempatnya walau pakaian mereka harus basah karena hujan.

Sehingga wajar saja jika beliau diminta untuk membawakan hikmah maulid pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1439 H / 2017 di Istana Kepresidenan, Bogor.

Saat itu beliau sangat menekankan akan pentingnya berlaku lemah lembut pada setiap perkataan maupun perbuatan.

Bahkan, dalam menyampaikan kritik pun harus tetap penuh dengan kelembutan meski yang dikritik sudah jelas kesalahannya.

Hal ini dapat dilihat dari perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun untuk tetap berlemah lembut kepada Fira’un yang jelas-jelas telah mengingkari ajaran yang dibawanya.

Baca juga:  Makna Kunjungan Prof. Quraish Shihab ke Berbagai Pesantren bagi Bangsa Ini

Di akhir ceramahnya, beliau menutup dengan ungkapan yang sangat bijaksana sekaligus mewakili kepribadiannya.

“Ucapkan perkataan yang lembut, yang santun, sebab kelembutan tidak diletakkan pada suatu perkara melainkan kelembutan akan menghiasi perkara tersebut,” begitu pesannya.

Bagitulah sosok Habib Jindan bin Novel Jindan yang telah berhasil mewarisi legenda datuknya Habib Salim bin Ahmad bin Jindan sebagai singa podium asal Betawi.

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Muhammad Sholahudin Al-Ayyubi

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Muhammad Sholahudin Al-Ayyubi

Latest posts by Muhammad Sholahudin Al-Ayyubi (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close