Ini 5 Poin Penting Tausiah Gus Mus dalam Menenangkan Muktamirin

  •  
  •  
  •  
  •  

catatanDatdut.Com – Dalam pemberitaan berbagai media terlihat jelas berbagai kericuhan yang mewarnai perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-33 yang digelar di Jombang, Jawa Timur. Hal itu membuat K.H. Mustofa Bisri atau Gus Mus menangis melihat proses Muktamar NU yang berjalan buruk.

Gus Mus pun merasa malu terhadap para sesepuh yang mendirikan organisasi NU. Tidak hanya itu, muktamar yang mendapat perhatian dan liputan media massa baik nasional maupun internasional, juga dihadiri undangan dan peninjau dari berbagai institusi baik dalam maupun luar negeri, tak membuat muktamirin sadar bahwa mereka sedang disorot.

Hal inilah yang membuat Gus Mus benar-benar merasa malu. Pernyataan malu itulah yang disampaikan Gus Mus saat memberikan tausiah di hadapan kader NU. Berikut 5 poin penting tausiah yang membuat kader NU berhenti ribut:

1. Malu pada Allah dan pada para pendiri NU

Ketika saya ikuti persidangan-persidangan yang sudah lalu, saya menangis karena NU yang selama ini dicitrakan sebagai organisasi keagamaan, panutan penuh dengan akhlakul karimah, yang sering mengkritik praktik-praktik tak terpuji dari pihak lain ternyata digambarkan di media massa begitu buruknya. Saya malu kepada Allah, malu pada KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan para pendahulu kita. Lebih-lebih ketika saya disodori koran yang headlinenya ‘Muktamar NU Gaduh, Muktamar Muhammadiyah Teduh’. Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Baca juga:  Bukan Cuma Calon Gubernur, Ini 5 Keturunan Arab yang Jadi Menteri

2. Ikuti akhlak K.H. Hasyim Asy’ari
Rais Am yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini, KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini, saya pinjam telinga Anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya. Dengarkanlah saya sebagai pemimpin tertinggi Anda. Mohon dengarkan saya, dengan hormat kalau perlu saya mencium kaki-kaki Anda semua agar mengikuti akhlakul karimah, akhlak KH Hasyim Asy’ari dan pendahulu kita.

3. Kyai sepuh prihatin
Saya panggil kyai sepuh, rata-rata mereka prihatin semua, prihatin yang sangat mendalam. Di tanah ini terbujur kyai-kyai kita, di sini NU didirikan apa kita mau meruntuhkan di sini juga, Naudzubillah, saya mohon dengan kerendahan hati Anda melepasksan semuanya, dan memikirkan Allah dan pendiri kita. Jadi, telah mempelajari situasi, maka para kyai yang berkumpul sampai tadi siang, di samping keprihatinan juga beberapa poin yang perlu dijadikan pedoman pembahasan selanjutnya. Cuma sedikit yang kita sepekati untuk solusi agar tidak sama dengan di Senayan.

4. Pasal yang belum disepakati

Pertama, apabila ada pasal yang belum disepakati dalam muktamar tentang pemilihan Rais Am, tak bisa melalui musyawarah mufakat, maka akan dilakukan pemungutan suara oleh para Rais Syuriah.
Kalau nanti Anda-anda tidak bisa disatukan lagi, maka saya dengan para kyai memberikan solusi, kalau bisa musyawarah kalau tak bisa pemungutan suara. Itu AD/ART kita. Karena ini urusan pemilihan Rais Am, maka kyai-kyai akan memilih pemimpin kiai.
Dan tatib yang sudah disepakati perlu segara dilakukan. Kalau ini Anda tetap tidak terima, maka saya yang terima, karena saya hanya Mustafa Bisri, saya hanya orang yang ditimpa kecelakaan menjadi pengganti Kyai Sahal. Kalau tidak, lepaskan saya saja. Doakan mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Am.

Baca juga:  Gus Miek dan Tiga Preman Tanjung Priok

5. Maafkan saya
Saya sejak belum tidur, bukan apa-apa, karena memikirkan Anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan Ada, maafkanlah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan Anda sudi memaafkan saya.

syarif hadeDr. Moch. Syarif Hidayatullah | Founder DatDut.Com
Twitter: @syarifhade

%
Happy
%
Sad
%
Excited
%
Angry
%
Surprise

Komentar

Redaksi

Mengabarkan dan menghadirkan berbagai hal yang sedang ramai diperbincangkan oleh publik dan netizen dengan pendekatan jurnalisme warga.
Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close