Gus Miek, Wali yang Nyeleneh Sejak Kecil, Tapi Lembut Hatinya

  • 41
  •  
  •  
  •  
    41
    Shares

DatDut.Com – Semasa hidupnya, Gus Miek memang dikenal nyeleneh, bahkan juga oleh keluarganya sendiri. Hal seperti ini sudah tampak sejak kecil. Konon, ketika masih mondok di Lirboyo, Gus Miek dititipkan kepada K,H. Mahrus Ali.

Dasar anak nyeleneh, Gus Miek malah jualan jamu di Pasar Warujayeng Nganjuk. Bahkan kakaknya, Gus Din (K.H. Zainuddin Jazuli), selama hampir dua tahun tidak pernah bertemu dengan adiknya yang nyeleneh itu.

Gus Miek sejak kecil adalah pribadi yang sangat halus dan lembut, cerminan kehalusan dan kelembutan hatinya. Tutur kata dan tingkah lakunya penuh kesopanan dan mengagumkan, membuat siapa saja yang berada di dekatnya merasa teduh, tenang, dan damai.

Ketika berjalan, Gus Miek kecil selalu menundukkan muka, seakan mencerminkan kerendahan hatinya. Langkahnya pelan, penuh kehati-hatian dan ketenangan, membuat orang yang melihatnya terpukau dalam keanggunan dan keheningan perilakunya.

Gus Miek lebih suka menyendiri dibanding harus berdekatan dan bercengkrama dengan saudara-saudaranya, ibu, atau para santri. Ini seolah menyimpan misteri yang tidak terjawab. Karena ia sangat pendiam, Gus Miek lebih asyik bermain sendiri daripada harus bermain dengan saudara-saudara atau teman sebayanya.

Gus Miek kecil memiliki hobi yang bisa dibilang aneh. Dia sangat senang mengamati penjual wenter (cat warna) di pasar dan baru akan pulang saat penjual wenter itu tutup, yang kemudian di rumah dia menirukan gaya penjual wenter sambil berteriak-teriak.

Gus Miek juga sangat senang melihat orang memancing di belakang pondok. Para pemancing itu senang, karena setiap ada Gus Miek ikan-ikan pada bergerombol.

Selain itu, Gus Miek kecil juga memiliki suara yang merdu, lebih menonjol dibanding saudaranya yang lain pada saat bersama-sama mengaji Al-Quran. Bacaannya fasih, mendayu-dayu, dan mampu menyejukkan hati pendengarnya.

Baca juga:  Di Balik Kenyelenehan Gus Miek Kediri, Ini Hal yang Mesti Kamu Tahu

Dalam pendidikan, terutama Al-Quran, Gus Miek untuk pertama kali dibimbing langsung oleh ibunya, Nyai Rodhiyah, selanjutnya diserahkan kepada Ustadz Hamzah. Proses belajar itu tak berlangsung lama, baru mendapat satu juz, Gus Miek sudah minta khataman.

Menurut cerita, dari sekian banyak putra K.H. Djazuli yang dikhatami Alfiyyah dengan syukuran hanya Gus Miek saja. Ini karena Gus Miek jarang masuk sekolah dan lebih banyak keluyuran tapi bisa khatam Alfiyyah.

Tentunya ini sesuatu yang luar biasa. Selain juga untuk memotivasi Gus Miek agar lebih giat lagi. Tapi Gus Miek masih sama seperti sebelumnya, di saat saudara dan teman-temannya mengaji, Gus Miek hanya keluyuran dan bermain-main atau tidur-tiduran di samping K.H. Djazuli yang sedang mengaji.

Perhatian sang ayah kepada Gus Miek memang berbeda dibanding kepada putranya yang lain. K.H. Djazuli hanya akan memulai mengaji jika putra-putranya sudah berkumpul, dan jika tidak mau mengaji, maka beliau akan marah sekali, tapi jika Gus Miek yang tidak mau mengaji, maka KH. Djazuli membiarkannya saja.

Pernah suatu ketika Gus Miek disuruh mengaji oleh sang ayah. Tapi Gus Miek hanya memanggul kitabnya dan mengelilingi K.H. Djazuli sebanyak tiga kali. Kemudian dia mengatakan bahwa dirinya telah mempelajarinya, lalu pergi. Melihat tingkah Gus Miek itu, K.H. Djazuli hanya diam dan tersenyum.

Pada umur 13 tahun, Gus Miek “terpaksa” mondok ke Lirboyo, Kediri, setelah K.H. Mahrus Ali datang menjemputnya di Ploso untuk memintanya nyantri di pesantrennya. Namun pendidikan Gus Miek di Lirboyo hanya bertahan 16 hari lalu beliau boyong.

Kepulangan Gus Miek yang mendadak ke Pondok Pesantren Ploso membuat orang tuanya resah karena ia tidak mau untuk melanjutkan belajarnya di Pesantren Lirboyo. Namun, Gus Miek mampu menunjukkan bahwa selama belajarnya di Pesantren Lirboyo beliau melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Baca juga:  Mahfud MD Tolak LGBT, Ini 5 Komentarnya

Beliau buktikan kepada orangtuannya dengan cara menggantikan semua jadwal pengajian yang biasa diasuh oleh abahnya di Ploso.

Ini seperti kitab Fathul Qarib (kitab fikih tingkat dasar), Fathul Mu’in (kitab fikih tingkat menengah), Jam’ul Jawami’ (kitab ushul fiqh tingkat menengah), Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tafsir Jalalain, Iqna’ (kitab fikih penjabaran dari Fathul Qarib), Ihya’ Ulumuddin (kitab tasawuf). Pada titik ini orangtuanya mengakui adanya karamah (kelebihan) kewalian pada sosok anaknya.

Setelah menunjukkan kemampuannya kepada orang tuanya, beberapa bulan kemudian Gus Miek memutuskan untuk belajar lagi di Pesantren Lirboyo. Di pesantren tersebut beliau cukup rajin dalam mengikuti pengajian.

Namun, beliau mempuyai kebiasaan yang sulit dihilangkan sejak di Ploso, yaitu ketika santri lain sedang sibuk mengaji, ia hanya tidur dan meletakkan kitabnya di atas meja. Meski demikian, ketika gurunya menanyakan materi yang disampaikan, Gus Miek selalu mampu menjawabnya dengan memuaskan.

Komentar

Alvian Iqbal Zahasfan

Alvian Iqbal Zahasfan

Kandidat doktor pada Universitas Dar El hadith El Hassania, Rabat, Maroko. Pernah jadi santri di Ponpes Nurul Jadid Paiton-Probolinggo, Ponpes Al-Ghazali Karangrejo-Tulung Agung, PIQ Singosari-Malang, Al-Ma’had Darus-Sunnah Al-‘Dauli li Ulumil Hadis Jakarta.
Alvian Iqbal Zahasfan
  •  
    41
    Shares
  • 41
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *