Gunakan Tagar #MendadakNU Pada Tempatnya, agar Tidak #MendadakTelolet!

0 0
  • 19
  •  
  •  
  •  
    19
    Shares

Dibaca: 73

Waktu Baca2 Menit, 45 Detik

DatDut.Com – Tagar #MendadakNU membahana di dunia maya. Tagar itu muncul pasca insiden pelecehan kiai Ma’ruf Amin yang dilakukan oleh tersangka penista agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Sebagaimana diketahui, K.H. Ma’ruf Amin pada muktamar NU di Jombang tahun 2015 lalu telah ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU menggantikan posisi K.H. Musthofa Bisri atau Gus Mus yang sejatinya telah disepakati sebagai Rais Aam namun menolak. Jadi, wajar kiranya setiap warga NU di pelosok tanah air merasa memiliki beliau sebagai pemimpin.

Saya lahir dan besar di tengah keluarga dan masyarakat NU, dan kini pun masih merasa sebagai seorang Nahdliyin. Ada yang ingin saya sampaikan kepada saudara-saudara saya, para warganet NU, berkenaan dengan tagar #MendadakNU itu.

Terus terang ada yang mengganjal di hati saat membaca banyak postingan di media sosial yang isinya tentang sindiran warganet NU terhadap orang-orang yang merespon pelecehan Kiai Ma’ruf Amin di sidang ke-8 itu. Mereka mengatakan bahwa orang-orang ini mendadak jadi NU. Entah hanya selorohan atau memang bermaksud serius, namun persepsi semacam itu tampaknya kurang tepat untuk dipegang.

Adalah wajar jika warga NU merasa harus berada di belakang kiai Ma’ruf Amin karena faktanya memang beliau diberi mandat di PBNU. Pun bagi muslim lain, beliau diposisikan sebagai pemimpin umat karena memangku amanah sebagai ketua umum MUI.

Baca juga:  Membongkar 5 Fakta di Balik Situs NU Garis Lurus yang Meresahkan Nahdliyin

Jadi wajar juga jika banyak muslim non-NU yang merasa perlu memberikan dukungannya kepada Mbah Kiai Ma’ruf. Masing-masing punya legal standing dalam bertindak.

Bagi saya, menyodorkan #MendadakNU pada mereka justru mendeligitimasi Kiai Ma’ruf Amin dari tampuk kepemimpinan MUI, karena seolah kita nggak rela ada orang non-NU dengan masing-masing identitasnya itu membela kiai kita yang duduk di MUI. Kecuali jika kita nggak mengakui keberadaan MUI. Lho, ada tho yang seperti itu?

Tapi dalam beberapa kasus, ternyata tagar #MendadakNU itu dapat disematkan kepada beberapa golongan, di antaranya:

1. Mereka yang bukan warga NU, tapi gemar menyudutkan NU dan figur-figurnya secara membabi buta karena perbedaan pendapat. Seperti menghujat Kiai Said Aqil Siradj yang berbeda pendapat dengan mereka tentang dukung mendukung Aksi Bela Islam.

Namun saat ada pernyataan keras beliau terhadap Ahok, maka dengan serta merta mereka membagi-bagikan berita itu di dinding facebook, twitter, blog dan whatsapp group. Hmmm.. #MendadakNU.

2. Mereka yang bukan orang NU, yang sukanya menyebut Banser sebagai penjaga gereja karena memang tahunya cuma itu dan enggan mencari tahu kegiatan Banser atau Ansor yang lebih luas lagi.

Namun kini, saat Ansor memberikan pernyataan tegas kepada Ahok, mereka juga ikut-ikutan menyebar berita bahwa kader Ansor se-Indonesia siap didatangkan ke Jakarta untuk mendukung kiainya atau berita tentang rencana Ansor Jakarta Selatan yang akan melakukan unjuk rasa di Rumah Lembang. Hmmm, lagi #MendadakNU.

Baca juga:  Ini 5 Alasan Muhammadiyah Tolak Hari Santri

3. Mereka yang dulunya dekat dengan NU karena menilai NU adalah ormas Islam yang paling moderat dalam menghadapi kasus Ahok. Namun saat mereka melihat fakta bahwa ada tokoh-tokoh NU, seperti Gus Sholah dan Prof. Mahfud MD. yang bersuara miring tentang Ahok, mereka berubah sikap.

Di antara mereka malah ada yang berujar bahwa tokoh-tokoh itu sudah terprovokasi oleh orang-orang yang mereka sebut terjangkit virus #MendadakNU. Nah, orang-orang inilah yang dulunya #MendadakNU namun kini #MendadakTelolet. Mereka hanya berlindung di balik sikap moderat NU terhadap jagoan mereka di Pilkada DKI Pebruari nanti.

Jadi pilih-pilihlah kondisi jika ingin memakai tagar itu. Hendaklah cermat dengan melihat konteksnya biar hidup nggak tambah repot..

Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Ahmad Indra
follow me
Latest posts by Ahmad Indra (see all)
  • 19
    Shares

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *