Grand Syaikh Al-azhar, Toleransi, dan Moderasi

  • 8
  •  
  •  
  •  
    8
    Shares

DatDut.Com- Riset the 500 Most Infuential Muslim pada tahun 2018 menempatkan Prof.Dr. Syeikh Ahmad Muhamad At-thayib sebagai urutan pertama dari 500 muslim paling berpengaruh di dunia.

Sebenarnya bukan kali pertama beliau menempati posisi tersebut, karena sejak 2014, 2015, 2016 dan 2017 namanya juga berada di urutan pertama.

The Royal Islamic Strategic Studies Centre sebuah lembaga penelitian di Amman Jordania menempatkan namanya di urutan pertama karena dialah pemegang otoritas tertinggi Muslim Sunni.

Selain itu juga karena beliau juga pemimpin tertinggi Universitas islam terbesar (Al-azhar).

Lahir 6 januari 1946 di Luxor Provinsi Qina, sebuah kota di tepi timur Sungai Nil Mesir.

Tinggal di pusat keilmuan islam membuatnya tumbuh menjadi seorang pengkaji keilmuan islam sampai mengantarkanya menjadi pemimpin tertinggi universitas tertua di dunia.

Masa kecilnya dihabiskan dengan menimba ilmu keislaman di Madrasah Al-Azhar sampai tamat sekolah menengah. Kemudian beliau melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ushuludin Jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-azhar.

Lulus sarjana trata satu di tahun 1969 dan mendapat gelar master pada tahun1971 kemudian gelar Doktor (PhD) pada tahun 1977. Gelar profesor diraihnya pada tahun 1988 setelah melakukan riset di Universitas Sorbonne Prancis selama enam bulan.

Baca juga:  Terkait Gus Dur, Ini 5 Kenangan K.H. Husein Muhammad

Jabatanya kini adalah Grand Syeikh Al-azhar, Pimpinan tertinggi dalam instansi Al-azhar menggantikan syaikh Muhamad Sayyid Thantawi yang wafat 10 maret 2010.

Sebelumnya beliau menjabat Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah cabang Qina serta masih banyak lagi jabatan strategis yang pernah beliau duduki.

Sebagaimana slogan kampus yang beliau pimpin yaitu islam moderat, tidak heran jika statement serta fatwa-fatwanya begitu ramah dan tidak terkesan kolot.

Seperti komentarnya tentang poligami di twitter baru-baru ini. Menurutnya poligami adalah bentuk ketidakadilan bagi prempuan.

Meski menimbulkan kontroversi, terlihat sekali bagaimana beliau mencoba objektif dalam memandang sebuah masalah dengan menimbang dua sisi yang berkaitan.

Manhaj berfikir seperti inilah yang mampu menjawab problematika umat yang akan terus berkembang seiring berjalanya waktu.

Menampilkan islam secara luwes sehingga mampu membaur di semua kalangan membuatnya menjadi ikon perdamaian dunia. Di tanganya Islam ditampilkan sebagai agama rahmat di mata dunia internasional.

Perdamaian dunia antarumat beragama adalah cita-cita yang senantiasa beliau usahakan.

Hal itu terlihat dari kunjungan bersejarah ke Vatikan menemui Paus Fransiskus untuk menyamakan persepsi antara dua instansi untuk menyuarakan toleransi beragama di tahun 2016 lalu.

Baca juga:  Ini 5 Kesan Mendalam Dr. K.H. Ahsin Sakho pada Sosok Almarhum Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Kemudian dilanjutkan pada bulan februari lalu dengan Abu Dhabi sebagai tuan rumah pertemuan dua tokoh agama dunia tersebut atas prakarsa Pangeran  Muhamad bin Zayed Al-nahyan putra mahkota Abu Dhabi.

Pertemuan itu telah membuka babak baru hubungan yang lebih harmonis dan lebih baik antara umat islam dan katolik. Semangat toleransi beragama menjadi salah satu bukti moderasi pemikiranya.

Kunjungan ke Indonesia sendiri terakhir kali pada tahun 2018 lalu. Selain untuk menyapa alumni-alumni Al-azhar di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak, juga bertujuan menyamakan pandangan, persepsi, dan pemikiran moderat dalam berislam sebagaimana yang dikampanyekan oleh Al-azhar.

0 0
Happy
Happy
%
Sad
Sad
%
Excited
Excited
%
Sleppy
Sleppy
%
Angry
Angry
%
Surprise
Surprise
%

Komentar

Fauzan A'maludin A'lam

Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan International Institute of Hadith Sciences Darussunnah
Fauzan A'maludin A'lam
  •  
    8
    Shares
  • 8
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close