Kenapa Sih GP Ansor Galak terhadap Salafi?

  •  
  •  
  •  
  •  

DatDut.Com – Pernah dalam sebuah kajian keagamaan yang saya datangi, seorang ustaz mendefinisikan kependekan IAIN (-sekarang UIN) sebagai Ingkar Allah Ingkar Nabi. Ungkapan itu merepresentasikan penilaiannya terhadap seorang dosen yang pernah mengajarnya dulu.

Dari situ kemudian dengan mudahnya dia menggeneralisasikan penilaiannya kepada institusi pendidikan yang menaungi sang dosen. Saya berharap sang ustaz tengah berkelakar karena sebagian yang hadir saat itu senyum-senyum saja.

Saya tidak tertarik untuk memberikan predikat kepadanya sebagai ustaz berpaham radikal karena bisa jadi karakternya saja yang gemar ceplas-ceplos. Namun yang pasti, saya kerap mendengar potongan hadis ini di tiap awal kajian: “..wa kulla muhdatsatin bid’ah, wa kulla bid’atin dhalaalah..”.

Ungkapan verbal ofensif seperti itu sebenarnya kerap terjadi. Dari golongan yang sama dan ditujukan kepada banyak pihak, bahkan pihak-pihak yang berada di dalam lingkaran mereka sendiri.

Baca juga:  Prihatin Kondisi Bangsa, Ulama NU Rekomendasikan Risalah Sarang

Perbedaan pendapat di antara mereka bisa mengantar pada sebuah friksi yang masif di antara mereka. Bukan hanya di sini, namun juga di luar. Agar Anda percaya, mari kita simak pernyataan debater ulung India yang tengah mengadakan lawatan di Indonesia, Dr. Zakir Naik, dalam video ini.

Dari video di atas, jelas sudah siapa yang kita bicarakan… Salafi. Golongan yang akhir-akhir ini makin moncer karena dai-nya yang ditolak oleh GP Ansor karena dinilai dapat menggoyahkan keharmonisan kehidupan beragama.

Atau dari viralnya sebuah pernyataan keras dari sekelompok ustaz kepada seorang ustaz lainnya, yang rekamannya bisa kita temukan di Youtube dengan judul “Inilah Rekaman Suara Abdullah Taslim Terkait Tahdzir Ustadz Adi Hidayat”.

Baca juga:  Muhammadiyah: Jokowi Kurang Etis Ajak Ahok Ikut Sambut Raja Salman

Kekerasan verbal semacam itu kerap terjadi dan berulang sehingga tak jarang menjadikan tertuduhnya tak sungkan untuk memberikan balasan. Bisa jadi dengan memberikan argumen proporsional sebagai pembelaan atas tuduhan yang dilayangkan. Misal saat dituduhkan bahwa Maulid itu bid’ah, istighatsah itu bid’ah atau Nariyah itu syirik maka diutarakanlah dalil-dalil mengenainya, tidak lebih.

Ahmad Indra
follow me

Ahmad Indra

Alumni Universitas Diponegoro yang saat ini bekerja di salah satu perusahaan IT multinasional. Penyuka ubi goreng dan tongseng kambing.
Ahmad Indra
follow me

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *